Kanker Anak Sulit Dikenali, YOAI Dorong Kader Puskesmas Jadi Garda Terdepan
Feryanto Hadi May 25, 2026 06:22 PM

 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA- Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) bekerja sama dengan RS EMC Graha Kedoya menggelar kegiatan edukasi deteksi dini kanker pada anak bagi kader Puskesmas Palmerah dan Puskesmas Jatipulo, Minggu (24/5/2026).

Kegiatan bertema “Pengenalan Dini Kanker pada Anak: Meningkatkan Peran Kader Puskesmas dalam Deteksi Dini” ini bertujuan meningkatkan pemahaman kader kesehatan mengenai jenis kanker yang kerap menyerang anak, termasuk tanda dan gejala awal yang perlu diwaspadai.

Pendiri sekaligus Wakil Ketua YOAI, Aries Udjiwati, mengatakan kader Puskesmas memiliki peran penting sebagai ujung tombak edukasi kesehatan di lingkungan masyarakat.

“Kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan pengetahuan kader Puskesmas mengenai jenis kanker yang sering terjadi pada anak serta tanda dan gejala awal yang perlu diwaspadai orang tua,” ujar Aries.

Menurutnya, selain memberikan edukasi kepada masyarakat, kader Puskesmas juga dapat menjadi garda terdepan dalam mendeteksi dini kanker pada anak sehingga peluang kesembuhan dapat meningkat.

Rahmi menambahkan, edukasi mengenai kanker anak perlu terus diperkuat karena sebagian besar kasus masih ditemukan pada stadium lanjut. Salah satu penyebabnya adalah minimnya pengetahuan masyarakat terkait gejala awal kanker pada anak.

Baca juga: Cegah Kanker Serviks, Kementerian Imipas Periksa Pegawai Perempuan

“Tingkat kesintasan kanker anak dapat mencapai hingga 80 persen apabila penyakit ini terdeteksi pada stadium dini dan mendapatkan penanganan yang tepat,” kata Rahmi.

Dokter spesialis anak konsultan hematologi-onkologi anak dari RS Kanker Dharmais, dr. Catur Sapariyanto, Sp.A, Subsp. H.O. (K), menjelaskan kanker pada anak memang tidak dapat dicegah, tetapi bisa diobati dengan peluang kesembuhan yang tinggi apabila ditemukan lebih awal.

Ia menyebut angka kesembuhan kanker anak di negara maju mencapai 80 persen, sedangkan di negara berkembang baru sekitar 20 persen. Salah satu penyebab utamanya adalah keterlambatan diagnosis karena kanker pada anak sering kali tidak menunjukkan gejala khas pada stadium awal.

“Pada anak yang lebih kecil, mereka belum bisa menyampaikan keluhan dengan baik. Ditambah lagi, pengetahuan orang tua mengenai tanda dan gejala kanker anak masih minim,” ujar dr. Catur.

Ia menambahkan, gejala awal kanker anak kerap menyerupai penyakit umum seperti demam berkepanjangan, pucat, benjolan, nyeri tulang, hingga penurunan berat badan tanpa sebab jelas sehingga sering terabaikan.

Karena itu, edukasi mengenai pentingnya deteksi dini dinilai sangat penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan pasien anak.

Dalam kesempatan yang sama, dokter spesialis kedokteran nuklir RS EMC Kedoya, dr. Junan Imaniar Pribadi, Sp.KN-TM., FANMB., menjelaskan penggunaan teknologi PET/CT dalam mendukung deteksi kanker.

Menurut dr. Junan, PET/CT merupakan teknologi pencitraan yang menggabungkan PET dan CT untuk memindai seluruh tubuh secara simultan. Teknologi ini memiliki sensitivitas tinggi sehingga mampu membantu diagnosis kanker secara lebih cepat dan akurat.

“Dengan mendeteksi tumor pada stadium awal, hasil pengobatan pasien dapat menjadi lebih optimal,” jelas dr. Junan.

Selain untuk deteksi dini, PET/CT juga digunakan menentukan stadium kanker dan memantau efektivitas pengobatan pasien sebagai dasar penanganan selanjutnya.

Ia menambahkan, alat tersebut menggunakan dosis radiasi yang lebih rendah dan waktu pemindaian yang lebih cepat dibandingkan teknologi PET konvensional sehingga lebih aman bagi pasien.

Sementara itu, psikolog Ninuk Widyantoro turut memberikan materi mengenai komunikasi interpersonal kepada para kader Puskesmas.

Dalam paparannya, Ninuk menekankan pentingnya kemampuan komunikasi verbal maupun nonverbal, cara bertanya yang tepat, serta kemampuan mendengar secara efektif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.