Melihat Lebih Dekat Jajanan Khas Tegalsambi Jepara Bernama Kintelan, Diajukan Jadi Warisan Budaya
rival al manaf May 25, 2026 07:56 PM

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Di pinggir Jalan Raya Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara berjejer rapi pedagang jajanan jaman dulu (jadul) bernama Kintelan.

Dengan alas meja sederhana yang ditata rapi di kawasan pertigaan gang masuk ke Kantor Balaidesa Tegalsambi, Senin (25/5/2026), mereka pedagang mulai menjajakan Kintelan sebagai kuliner khas Kabupaten Jepara.

Kintelan sering kali dikaitkan dengan tradisi budaya Perang Obor Tegalsambi.

Kemunculan jenis jajanan ini sering kali ditunggu-tunggu masyarakat sebagai bagian tak terpisahkan dari Perang Obor.

Artinya, setiap Tradisi Perang Obor Tegalsambi digelar setiap tahun, di situ pula ada kuliner khas bernama Kintelan yang diperjualbelikan.

Para pedagang menyiapkan bola-bola kintelan dalam sebuah penampan atau tampah dengan alas daun pisang.

Satu butir Kintelan dijual dengan harga Rp 2.000. Namun untuk satu bungkus isi enam butir hanya dijual dengan harga Rp 10.000.

Dari sederet pedagang Kintelan di Jalan Raya Tegalsambi, terlihat perempuan lanjut usia yang masih semangat berdagang, bernama Masriah.

Masriah merupakan pedagang kawak sudah berpuluh-puluh tahun jualan Kintelan setiap sedekah bumi dan Perang Obor Tegalsambi digelar.

Sejak remaja Masriah sudah membantu orangtuanya membuat Kintelan untuk dijual. Bisnis dagangan jajanan jadul tersebut kemudian diteruskan hingga sekarang berusia 85 tahun.

Bagi Masriah, berdagang merupakan kebolehannya untuk mencari penghasilan.

Sehari-harinya dia berjualan makanan di sebuah warung di pinggir pantai.

Khusus pada momentum sedekah bumi dan Perang Obor Tegalsambi, dia mendedikasikan waktu dan tenaganya untuk membuat bola-bola Kintelan, serta menjualnya kepada masyarakat.

Dengan usia 85 tahun, semangat berdagang Masriah masih membara. Hanya saja, dia kini berjualan ditemani oleh anaknya bernama Sanipah (53).

"Ibu itu sudah gak dengar, tapi urusan jualan, gak mau berhenti. Yang jualan nasi sehari-hari di pantai sudah berhenti, kasihan. Tapi yang jualan Kintelan ini, ibu gak mau berhenti. Lumayan ramai katanya, sayang kalau berhenti," terangnya.

Di depan lapaknya, jemari tangan Masriah masih terampil memotong bola-bola Kintelan yang disesuaikan dengan pesanan.

Urusan pembungkusan dan harga, semuanya dipasrahkan kepada putrinya yang setia mendampinginya.

Bukan tidak mau melayani, namun Masriah sadar diri bahwa kondisi pendengaran yang terganggu tidak bisa dipaksakan untuk bertransaksi.

"Nama ibu itu sudah banyak yang tahu. Tidak sedikit pembeli itu datang dan mencari nama ibu, karena sudah sangat lama ibu jualan Kintelan. Cuma ya itu sudah sepuh, enggak begitu dengar, jadi harus ditemani," ujarnya.

Pada momentum sedekah bumi dan Perang Obor Tegalsambi tahun ini, Masriah dan Sanipah menyiapkan adonan Kintelan dari 10 kilogram beras ketan.

Selain itu disiapkan beberapa butir kelapa yang diparut sebagai isian bola Kintelan, gula jawa, dan santan kental sebagai pelengkap.

Sanipah optimis semua dagangan yang dibawa bersama ibunya laku habis dalam sehari.

"Mudah-mudahan habis cepat, biar bisa pulang cepat," harapnya.

Pembeli Kintelan, Wachita (46) sengaja datang siang hari dari Mulyoharjo ke Tegalsambi agar tidak kehabisan jajanan khas Kintelan.

Dia sengaja berburu jajanan jadul tersebut untuk dimakan bersama keluarga, sembari mengenang zaman-zaman dulu.

"Sebenarnya Kintelan ini makanan khas Jepara, setiap hari ada di pasar. Tapi Kintelan khas Tegalsambi ini berbeda, khas gitu produksi warga Tegalsambi. Karena awalnya bersumber dari sini Tegalsambi," ujar dia.

Diajukan WBTB

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jepara, Ali Hidayat mengatakan, Kintelan merupakan makanan khas Jepara yang identik dengan tradisi budaya Perang Obor Tegalsambi.

Kintelan berbahan dasar tepung ketan, dapat diartikan "kraketan" (Bahasa Jawa). Artinya saling mengikat dan merekatkan persaudaraan. Di mana kuliner Kintelan sebagai simbol leluhur warga Tegalsambi, berdamai dan menjalin kebersamaan kembali.

Untuk mengenang hal itu, masyarakat sejak dulu ketika sedekah bumi desa bersamaan dengan tradisi Perang Obor, masing-masing warga Tegalsambi saling mengirim dan memberi makanan Kintelan ke rumah-rumah. Hal ini sebagai simbol untuk saling merekatkan hubungan antar warga satu sama lain.

Tidak hanya itu, selain Kintelan bermakna "kraketan", toping atau pelengkap dari parutan kelapa dan santan juga memiliki makna. Santan kental terbuat dari kelapa disebut areh diartikan sebagai pengharapan sesuatu yang indah perlu didapatkan dengan perjuangan.

Untuk mejadi santan yang terbuat dari kelapa pilihan, pembuat areh harus menaiki pohon kelapa, kemudian mengolahnya menjadi santan.

Ali Hidayat menyebut, kuliner Kintelan identik dengan tradisi budaya Perang Obor Tegalsambi.

Di mana Perang Obor Tegalsambi sudah dipastikan menyandang predikat warisan budaya tak benda (WBTB) sejak 2020 lalu.

Kini Pemerintah Jepara juga mengusulkan kuliner Kintelan agar bisa masuk sebagai bagian dari WBTB.

Saat ini pengajuan WBTB Kintelan dalam penilaian tahap pertama. Beberapa berkas pendukung sudah disusulkan guna memperkuat syarat dukungan yang telah ditentukan.

"Kami berharap Kintelan ini bisa segera ditetapkan WBTB dan bisa bersanding dengan Perang Obor," tegas dia.

Menurut Ali Hidayat perajin Kintelan ada yang bersifat musiman dan ada pula yang produksi harian, meski jumlahnya tidak terlalu banyak.

Saat ini, produksi Kintelan sudah bervariasi. Ada yang menambah toping lain, ada pula yang mengolah dengan berbagai varian rasa.

"Kintelan setiap perang obor hal wajib, masyarakat ramai-ramai membuat Kintelan pada puncak tradisi budaya Perang Obor Tegalsambi," tutur dia. (Sam)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.