TRIBUNJATENG.COM, BANYUMAS - Sudah satu tahun, Hartono, pedagang sayur di Pasar Karangturi Desa Pekunden, Kecamatan/Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, terbebas dari jeratan rentenir bank harian.
Pinjaman modal dari Unit Simpan Pinjam Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Pawon Mas Desa Pekunden menjadi penyelamat.
"Sekarang, alhamdulillah, dari pinjaman ini dagangan bisa lebih terkontrol, makin lancar," ungkap Hartono saat ditemui di lapak dagangannya, Selasa (12/5/2026).
Hartono mengambil pinjaman Rp3 juta untuk modal usaha.
Pinjaman itu harus lunas dalam waktu 10 bulan dengan bunga 1 persen.
Setiap hari, dia menyetor uang Rp20 ribu kepada petugas sebagai angsuran.
"Harusnya 10 bulan tapi saya menyetor cicilan setiap hari Rp20 ribu, paling 5 bulan sudah lunas," katanya.
Uang pinjaman itu, kata Hartono, digunakan untuk menambah varian dagangan.
Semula, dia hanya fokus menjual sayur mayur.
Namun kini, dia menambah varian dagangan berupa mendoan siap goreng saat ada pembeli.
Dia menambah gerobak dan peralatan menggoreng.
Baca juga: Tak Perlu Lagi Antre di Bank, Mahasiswa Purwokerto Rasakan Kemudahan Bayar UKT Lewat BRImo
Hartono mengatakan, pinjaman modal dan cicilan ini jauh lebih murah dibanding saat dia terjerat bank harian atau bank plecit.
Dulu, untuk pinjaman Rp500 ribu, setiap hari dia harus membayar cicilan Rp25 ribu.
"Dan itu baru lunas 2,5 bulan. Jadi sangat memberatkan," ungkapnya.
Pinjaman itupun habis hanya untuk kulakan dagangan.
Dia berharap, setelah pinjaman di BUMDes Pawon Mas lunas, dia bisa kembali mendapat jatah pinjaman.
"Karena pinjaman modal itu sangat berarti untuk menambah barang dagangan," katanya.
Senada disampaikan Ridah, pedagang lain di Pasar Karangturi.
Ridah juga mengambil pinjaman Rp3 juta untuk tenor 10 bulan.
Selain digunakan menambah modal berdagang, sebagian uang digunakan untuk memenuhi kebutuhan mendesak di rumah.
"Kalau pinjaman ini enak, tidak memberatkan."
"Dulu, kalau di bank harian, tiap hari kudu setor, bahkan kadang tanggung renteng juga kalau ada pedagang lain yang belum bisa bayar."
"Sekarang malah bisa sekalian menabung," katanya.
Biasanya, Ridah menyetor simpanan untuk cicilan Rp50 ribu per hari.
Namun sesekali, saat penjualan sepi, dia boleh absen menabung untuk cicilan.
Pasar Karangturi tak memiliki tempat khusus.
Pedagang hanya menggelar dagangan di kiri dan kanan jalan Desa Pekunden.
Buka sekitar pukul 06.00 WIB, pedagang mulai mengemasi barang sekitar pukul 09.00 WIB.
Sementara, Bendahara BUMDes Pawon Mas Taefur Rochman mengatakan, Unit Simpan Pinjam awalnya hanya melayani UMKM di Desa Pekunden.
Namun, mendapati keluhan pedagang di Pasar Karangturi yang terjerat rentenir bank harian, mereka mulai memperluas jangkauan.
"Karena Pasar Karangturi itu pasar desa, kami berupaya mencarikan solusi," jelas Taefur.
Jalan keluar mulai terbuka saat Desa Pekunden mengikuti program Desa Brilian BRI Regional Office (RO) Yogyakarta tahun 2023.
Dalam acara penilaian pada 6 November 2023, Desa Pekunden mendapat predikat Apresiasi New Desa Brilian 2023 Batch 3 Regional Office Yogyakarta dengan hadiah Rp10 juta.
"Uang itu yang kemudian kami jadikan modal untuk simpan pinjam pedagang di pasar."
"Kami juga dapat tambahan modal dari desa sebesar Rp20 juta, jadi total ada Rp30 juta untuk simpan pinjam pedagang pasar," jelas Taefur.
Baca juga: Kolaborasikan Agen BRILink dan Minimarket, Andrianta Sukses Buka 2 Cabang di Jatilawang Banyumas
Program Simpan Pinjam untuk pedagang pasar baru dimulai tepatnya pada Februari 2025.
Pertumbuhan simpan pinjam di pasar ternyata lebih pesat dibanding simpan pinjam UMKM yang lebih dulu ada.
"Karena banyak pedagang yang memanfaatkan, sekarang sudah berkembang hampir dua kali lipat modal awal."
"Padahal, kami tidak mematok bunga tinggi kepada pedagang, sekitar 1 persen," ucapnya.
Taefur bersyukur, Unit Simpan Pinjam BUMDes Pawon Mas dapat membantu perputaran modal pedagang Pasar Karangturi.
Suyud, petugas lapangan penarik simpanan dan angsuran Pedagang Karangturi mengatakan, perputaran modal di pasar tersebut tergolong tinggi.
Meski hanya pasar desa, per awal Mei 2026, modal dari BUMDes yang saat ini diputar untuk pedagang sudah mencapai lebih dari Rp47 juta.
Suyud mengatakan, modal simpan pinjam tersebut sebenarnya belum mampu menjangkau semua pedagang.
Dari 88 pedagang, saat ini, baru sekitar 34 pedagang yang menikmati pinjaman modal itu.
"Lainnya antre karena duitnya sudah tidak ada, habis untuk pinjaman pedagang yang daftar duluan," ungkap Suyud.
Baca juga: Tak Sekadar Usaha Produktif, Mireng Duo Srikandi Jatilawang Bukti Nyata Ketahanan Pangan Banyumas
Pinjaman yang diberikan kepada pedagang maksimal Rp3 juta.
Biasanya, nominal tersebut diberikan kepada pedagang yang telah memiliki kios.
Lainnya, mendapatkan pinjaman Rp2 juta, 1 juta, atau bahkan hanya beberapa ratus ribu.
"Sehari, paling tidak, ada yang pinjam Rp200 ribu, itu biasanya pengembalian dua atau tiga hari," jelas Suyud.
Suyud berharap, tingginya perputaran uang di Pasar Karangturi membuat pihak desa bisa menambah penyertaan modal.
"Kalau diberi modal Rp200 juta, saya yakin itu cepat terserap karena masih ada separo pedagang di pasar ini yang belum kebagian dan sekarang antre."
"Kasian mereka kalau sampai terjerat bank harian lagi."
"Karena para pedagang di sini sebenarnya disiplin dan bertanggung jawab, tidak ada yang sampai seret tagihannya," ujar Suyud.
Selain menarik simpanan dan setoran dari pedagang, sebagai ujung tombak Unit Simpan Pinjam BUMDes Pawon Mas, Suyud juga selalu mengingatkan pedagang agar tak terjerat bank harian.
Jeratan bank plecit yang dialami pedagang pasar menjadi perhatian Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan (Dinkop UKMP) Kabupaten Banyumas Gatot Eko Purwadi.
Namun, keterbatasan anggaran membuat Pemkab Banyumas belum dapat menjangkau pedagang pasar dalam hal bantuan modal.
"Kami hanya memiliki anggaran Rp5 juta-10 juta untuk pinjaman bergulir kelompok, sasaranya saat ini masih UMKM, belum masuk ke pasar," jelas Gatot, Jumat (22/5/2026).
Baca juga: Produksi Lung Coffee Banyumas Meningkat Berkat KUR BRI, Siti Kini Raih Kemandirian Finansial
Meski begitu, Gatot berupaya menggandeng berbagai pihak untuk turut memperhatikan permodalan pedagang pasar agar tidak terjerat rentenir bank harian.
"Tadi kami bertemu Baznas, kami juga sampaikan, mari bersama membantu pedagang untuk permodalan ini agar mereka tidak terjerat rentenir," imbuhnya.
Dalam catatan Gatot, ada sekitar 10.700 pedagang di 28 pasar tradisional di Kabupaten Banyumas yang harus dilindungi.
Jumlah tersebut belum termasuk pedagang di pasar milik desa.
Selain berupaya mencari permodalan, Gatot juga mendorong pedagang membentuk koperasi di pasar untuk memperkuat permodalan.
"Seperti di Pasar Sangkal Putung, pedagang membentuk koperasi untuk penguatan modal."
"Hanya saja, memang belum terorganisasi secara baik. Ini yang kami dorong untuk diperbaiki," katanya.
Saat para pedagang membutuhkan modal lebih besar, kata Gatot, pihaknya siap memfasilitasi serta menghubungkan mereka dengan Bank Perekonomian Rakyat Badan Kredit Kecamatan (BPR BKK) milik daerah.
Gatot juga meminta petugas pasar terus mengingatkan pedagang agar tidak terjerat rentenir, pinjaman online, atau pinjaman lain dengan bunga tidak rasional. (*)