Lahirkan 10 Komitmen, Pengasuh Pesantren se-Pasuruan Deklarasi Tolak Kekerasan Seksual
Haorrahman May 25, 2026 07:57 PM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Pasuruan - Para pengasuh pesantren se-Pasuruan mendeklarasikan Gerakan Pesantren Menolak Kekerasan Seksual, Senin (25/5/2026) siang.

Dalam deklarasi yang digelar di Ponpes KHA Wahid Hasyim Bangil, lahir 10 komitmen bersama sebagai bentuk keseriusan pesantren menjaga keamanan dan kehormatan santri.

Deklarasi itu menegaskan bahwa pesantren masih tetap menjadi tempat pendidikan yang aman, nyaman, penuh kasih sayang serta terbebas dari segala bentuk kekerasan seksual maupun pelecehan.

Salah satu poin penting dalam komitmen tersebut yakni penolakan tegas terhadap segala bentuk kekerasan seksual di lingkungan pesantren dan lembaga pendidikan Islam.

Selain itu, para pengasuh pesantren juga berkomitmen memperkuat pendidikan akhlak, membuka ruang pengaduan yang aman bagi korban, hingga membangun sistem perlindungan santri secara berkelanjutan.

Baca juga: Stabilisasi Harga Pangan Jelang Idul Adha, Pemkab Pasuruan Gelar Pasar Murah

Salah satu perwakilan pengasuh Ponpes KH Kholil Nawawi mengatakan, gerakan tersebut lahir dari kesadaran bersama.

Gus Kholil, perwakilan Ponpes Sidogiri menyebut, menjaga kehormatan dan keselamatan santri merupakan amanah besar yang harus dipikul seluruh elemen pesantren.

“Pesantren adalah tempat lahirnya ilmu, akhlak, adab, dan keteladanan. Karena itu, segala bentuk kekerasan seksual maupun tindakan yang merendahkan martabat manusia tidak boleh mendapat tempat di lingkungan pendidikan,” ujarnya.

Menurutnya, deklarasi tersebut bukan untuk saling menyalahkan, melainkan membangun kesadaran bersama agar lingkungan pesantren semakin aman dan bermartabat.

“Kita ingin menegaskan, pesantren hadir sebagai pelindung, pembimbing, dan penjaga nilai-nilai kemanusiaan serta ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Ponpes KHA Wahid Hasyim Bangil KH Ahmad Wildan Amrullah menegaskan, gerakan ini juga menjadi bentuk keprihatinan atas maraknya pembahasan kasus pelecehan seksual yang menyeret nama pesantren secara umum di media sosial.

Baca juga: Kepala Pasar se-Pasuruan Teken Pakta Integritas Untuk Kerja Lebih Profesional dan Transparan

Menurutnya, apabila terdapat kasus yang melibatkan oknum di lingkungan pesantren, hal tersebut tidak bisa digeneralisasi sebagai wajah seluruh pesantren.

“Kami menolak keras segala bentuk pelecehan seksual di Pesantren. Tapi, jangan ulah oknum kemudian membuat pesantren digeneralisasi,” sambung dia.

Menurutnya, Pesantren tetap menjadi tempat pendidikan moral, akhlak, dan pembentukan karakter.

Ia menegaskan, pesantren selama ini memiliki peran besar dalam membangun peradaban, pendidikan spiritual, hingga pembentukan moral masyarakat.

Karena itu, Gus Wildan sapaan akrabnya mendukung langkah aparat penegak hukum untuk menindak tegas pelaku kekerasan seksual di pesantren.

Baca juga: FIFGROUP Dorong Penguatan Posyandu dan Kesehatan Anak di Pasuruan

“Kami mendukung aparat mengamankan predator seksual. Tetapi pesantren secara umum tetap harus dipandang sebagai tempat yang aman dan penuh nilai-nilai pendidikan,” tegasnya.

Dalam deklarasi tersebut, seluruh elemen pesantren mulai pengasuh, ustadz, ustadzah siap bersama-sama mencegah kekerasan seksual melalui penguatan edukasi, pengawasan, dan kepedulian terhadap korban.

Deklarasi ditutup dengan seruan bersama: “Pesantren Aman, Santri Nyaman, Kekerasan Seksual Kita Lawan.” 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.