Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah - Suasana haru menyelimuti Mapolsek Trimurjo, Kabupaten Lampung Tengah, Sabtu (24/5/2026). Puluhan pelajar yang sebelumnya diamankan polisi karena diduga hendak tawuran, tampak bersimpuh dan sungkem kepada orang tua mereka.
Sebanyak 26 pelajar dari dua kelompok sekolah di Kota Metro diamankan aparat setelah kedapatan melakukan konvoi sepeda motor sambil membawa senjata tajam jenis arit dan sabit berukuran besar di wilayah Kecamatan Trimurjo.
Kapolsek Trimurjo AKP Admar mengatakan, pengungkapan kasus itu bermula dari laporan warga melalui layanan darurat 110 pada Kamis (22/5/2026) malam. Warga resah melihat iring-iringan sepeda motor melintas di Kampung Purwodadi sambil membawa senjata tajam.
“Anggota langsung bergerak setelah menerima laporan masyarakat dan berhasil mengamankan para pelajar,” kata Admar, Senin (25/5/2026).
Dari penelusuran polisi, para pelajar tersebut diduga telah merencanakan tawuran melalui media sosial. Dua kelompok yang terlibat disebut saling menantang lewat grup bernama DOSQ86BROB dan Printis343Shot sebelum akhirnya sepakat bertemu untuk bentrok.
Polisi awalnya mengamankan 14 pelajar yang diduga akan menyerang kelompok lain. Setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan, polisi kembali mengamankan 12 pelajar lain yang juga membawa senjata tajam.
Namun, alih-alih langsung memproses hukum seluruh pelajar, polisi memilih langkah pembinaan dengan mempertemukan kedua kelompok bersama orang tua dan pihak sekolah.
Dalam mediasi itu, suasana emosional tak terhindarkan ketika para siswa diminta bersujud meminta maaf kepada orang tua mereka. Sejumlah orang tua terlihat menangis setelah mengetahui anak mereka terlibat rencana tawuran bersenjata.
“Kami ingin mereka sadar bahwa tindakan seperti ini tidak hanya membahayakan diri sendiri, tetapi juga membuat keluarga terluka,” ujar Admar.
Selain membuat surat pernyataan bermaterai agar tidak mengulangi perbuatannya, para pelajar juga mendapat pembinaan langsung dari kepolisian dan guru sekolah masing-masing.
Hasil mediasi berakhir damai. Kedua kelompok sepakat menghentikan permusuhan, sementara pihak sekolah menegaskan akan memberi sanksi tegas bila kejadian serupa kembali terjadi.
( Tribunlampung.co.id / Fajar Ihwani Sidiq )