Alfatihah Fikri dan Jumadi, Ibu dari Bungo Mendaki Gunung Demo Viral
asto s May 25, 2026 10:11 PM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Enam tahun lalu, November 2020, Hasna Abdul Hamid (52) melangkahkan kaki perlahan namun pasti di Gunung Dempo. Kini, ibu asal Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi, itu viral di Instagram @mountnesiaofficial, Pendaki Gunung Indonesia, pada Senin (25/5/2026).

Hasna memantapkan niat ke puncak gunung di Pagar Alam, Provinsi Jambi, Sumatera Selatan, sebagai bentuk kasih sayang pada anaknya, Muhammad Fikri (19), dan menantunya, Jumadi (26), yang mengembuskan napas terakhir di gunung tersebut

Peristiwa sedih itu terjadi setahun sebelumnya, pada 15 Oktober 2019. Saat itu, Fikri dan Jumadi melakukan pendakian bersama.

Pendaki asal Muara Bungo itu berangkat ke Pagaralam pada Minggu (13/10/2019) dan berencana mendaki Gunung Dempo setinggi 3159 meter di atas permukaan laut (MDPL).

Pihak keluarga menuturkan terakhir kali mendapat kabar terakhir dari keduanya pada Selasa (15/10/2019), saat masih berada di lereng Gunung Dempo, sebelum naik ke puncak.

Fikri dan Jumadi baru ditemukan pada 3 November 2019, dalam keadaan tidak bernyawa.

Hasna Abdul Hamid (52) melangkahkan kaki perlahan namun pasti
Hasna Abdul Hamid (52) di Instagram @mountnesiaofficial, Pendaki Gunung Indonesia, pada Senin (25/5/2026).

Saat diwawancarai Tribun Jambi, H Zul, keluarga Fikri dan Jumadi, menuturkan tidak menyangka anaknya mendaki ke Gunung Dempo Pagaralam. Sebab, ketika memohon izin, Fikri mengaku akan berangkat ke Gunung Tujuh, Kerinci.

"Waktu mau berangkat, dia minta izin ke saya. Katanya, mau berangkat ke Gunung Tujuh. Saya tidak tahu juga, kenapa akhirnya dia berangkat ke Gunung Dempo," kata dia.

Kata H Zul, anaknya memang sudah sering mendaki gunung sejak kecil.

Ketika masih duduk di bangku SMP, Zul pernah mengajak Fikri untuk mendaki. Dari sanalah, hobi itu terus digeluti.

Fikri selalu mohon izin setiap kali hendak mendaki. Dia pun mendukung hobi anaknya yang telah menaklukkan beberapa puncak gunung itu.

"Dia baik. Selama ini dia baik. Setiap mau mendaki, dia minta izin," jelasnya.

Sejak tidak mendapat kabar tentang Fikri, keluarganya mulai mencari cara untuk menemukannya. Di rumah, beberapa malam terakhir digelar yasinan.

"Sejak dapat kabar kami hilang kontak kemarin, kami yasinan terus tiap malam. Kami berdoa terus, mudah-mudahan, anak kami dan temannya bisa segera ditemukan dengan selamat," harapnya.

Selain berdoa, sejumlah keluarga dan karib kerabat juga sudah menyusul ke Pagaralam. Sedikitnya sudah enam mobil berangkat untuk membantu pencarian.

Sementara itu, ibunda Fikri, Hasna, sudah berada di lokasi sejak beberapa hari sebelumnya. Dia dengan setia menunggu Tim SAR melakukan pencarian akan dan menantunya.

Kesulitan Evakuasi Jenazah

Setalah sekira 15 hari melakukan pencarian terhadap dua pendaki Jumadi dan Fikri, tim pencarian mandiri menemukan mayat dikawasan Kawah Gunung Api Dempo (GAD) pada Minggu (3/11/2019).

Jenazah ditemukan di kawasan kawah arah timur itu belum bisa diidentifikasi oleh tim Wanadri, karena lokasinya berada dibawa bibir kawah sedalam 300 meter.

Saat itu, anggota tim Wanadri, Indra dan Wahyudi, mencurigai ada baju warna biru muda di kawasan kawah Api Dempo.

Koordinator Tim Wanadri, Fandi alis Otek, menuturkan tim pencarian sudah menemukan sosok jenazah di bibir kawah GAD.

Awalnya, tim hanya menduga yang dilihat itu hanya plastik biru saja. Namun, saat melihat menggunakan tropong, terlihat jelas jika itu merupakan jenazah manusia.

"Tim terpaksa turun kekawah untuk memastikan jika itu adalah mayat. Namun karena lokasinya curam dan tinggi tidak bisa sampai kelokasi mayat. Tapi saya dilihat menggunakan teropong tampak jelas itu mayat," jelasnya.

Tim pun belum bisa memastikan bahwa jenazah itu merupakan pendaki yang sedang dicari. Pasalnya, belum bisa melihat langsung.

"Masih harus dievakuasi dan diindentifikasi dulu baru tahu siapa mayat itu ," jelasnya.

Evakuasi jenazah dua korban memakan waktu lama, karena tim penyelamat harus menghadapi medan vertikal, jurang curam, dan kondisi cuaca ekstrem di sekitar kawah. 

Tim menggunakan teknik vertical rescue (sistem tali temali) untuk mengangkat jenazah dari kedalaman bibir kawah ke lokasi yang lebih aman.

Setelah berhasil diangkat, jenazah ditandu dan diturunkan secara estafet oleh puluhan personel melintasi jalur pendakian.

Jenazah kemudian dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Besemah, Pagar Alam, untuk proses identifikasi sebelum akhirnya dipulangkan ke kampung halaman mereka di Kabupaten Bungo, Jambi.

Meletakkan Prasasti di Puncak Dempo

Setahun berlalu. Pada November 2020, Tribun Jambi melakukan wawancara dengan Hasna Abdul Hamid, ibunda almarhum Fikri.

Dia baru turun dari puncak Gunung Dempo, untuk mengenang kembali pada peristiwa kehilangan setahun sebelumnya. 

Dia menuturkan, sejak pagi mulai mendaki Gunung Dempo, Pagaralam, Sumatera Selatan.

Jalan terjal, becek, dan licin dia hadapi. Apalagi pada musim penghujan, udara cukup dingin.

Keberangkatan ibunda Hasna ke puncak Dempo sebagai bentuk kasih sayang pada anaknya, Muhammad Fikri dan menantunya, Jumadi.

Pendakian Hasnah ke puncak Gunung Dempo berasal dari dorongan hatinya.

Selama pencarian Fikri dan Jumadi, Hasna tidak diizinkan ikut ke puncak.

Bahkan, saat jasad mendiang ditemukan, Hasna hanya dibolehkan untuk menunggu di bawah.

Keberangkatan Hasna Abdul Hamid menapaki puncak Gunung Dempo, karena ingin melihat di mana anaknya terakhir kali menapakkan kaki.

Ada rasa ingin menyerah, saat melewati medan yang ekstrem menuju puncak Gunung Dempo setinggi 2.450 meter.

Ibu berjilbab itu sempat tidak sanggup melanjutkan perjalanan, apalagi itu kali pertama melewati jalur tersebut.

Namun, bayangan anaknya seolah membersamainya, memberi nyawa baru pada tubuhnya yang lelah.

Di ingatannya masih melekat almarhum Fikri. Dia ingin menunjukkan rasa cinta yang besar itu. 

Hasnah ingin meletakkan prasasti di jejak terakhir anaknya.

"Saya sempat terpikir, ya, sudahlah, saya tunggu di sini saja, biar anak-anak yang naik. Tapi, rasanya Fikri seperti ada. Dia seperti bilang, 'Mama, naik. Fikri tunggu di atas.' Itu yang buat saya berusaha terus untuk melanjutkan perjalanan," katanya.

Perasaan itu mengalahkan lelah. Hasna ingin membayangkan bagaimana anaknya tersenyum di puncak Gunung Dempo.

Saat pendakian, Hasna tidak sendirian. Empat anaknya juga ikut, termasuk istri almarhum Jumadi. Beberapa temannya juga ikut. 

Ada juga warga sekitar yang ikut mendampingi sebagai penunjuk jalan.

Sebagai seorang ibu, Hasna Abdul Hamid tidak kuasa menahan tangis. Selama melewati jalur pendakian, dua kali air matanya tidak terbendung.

Perasaan sayang dan rindu pada anaknya mengiringi perjuangan itu, menemaninya sepanjang perjalanan.

Dalam perjalanan pendakian, sebuah berukuran 30x40 Cm dipeluknya. 

Di situ tertulis: in memoriam, nama Fikri dan Jumadi, beserta tanggal lahir keduanya.

Di bawahnya tertulis, "Gunung Dempo Pagar Alam Oktober 2019".

Di bagian paling bawah prasasti itu tertulis, "Jejakmu abadi di sini".

Prasasti itu diletakkan di bibir kawah Gunung Dempo, tidak jauh dari lokasi jenazah almarhum Fikri dan Jumadi ditemukan.

Hasna menuturkan, prasasti itu diletakkan untuk mengenang dua pendaki asal Muara Bungo tersebut.

Dia berharap ada pendaki lain yang datang mengirimkan Alfatihah dan doa untuk keduanya.

Prasasti itu juga mengingatkan agar pendaki lain turut berhati-hati, bahwa pernah ada pendaki yang menjadi korban di sana.

Butuh waktu seharian untuk sampai ke tempat itu. Meski lelah, Hasnah merasakan ada kebahagiaan tersendiri.

Niatnya sudah tercapai. Dia telah menunjukkan satu di antara bukti kecintaan ibu pada anaknya.

"Saya membayangkan, di sini anakku sempat tidur, di sinilah perjalanan anakku terakhir. Anakku menginjak tanah terakhir kali di sini," tuturnya.

Dia membayangkan Fikri dan Jumadi saat melakukan pendakian.

Kini, sudah satu tahun kedua pendaki itu dimakamkan di TPU Dusun Teluk Panjang, Kabupaten Bungo, Jambi.

Meski begitu, Hasnah bakal tetap selalu mengenang perjuangan anaknya, dan jejaknya yang abadi di Gunung Dempo. (tribun jambi/are/tribun sumsel/one)

Baca juga: Eks Kadisdik dan 2 Tersangka Rasuah Alat Praktik Masih Mendekam di Rutan Polda Jambi

Baca juga: Warga Sempat Resah, Polisi Tegaskan Kabar Pocong di Tanjabtim Tidak Benar

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.