Banjir Rendam Bojongsoang Bandung, Pengendara Arah Baleendah dan Buahbatu Terjebak Macet Panjang
Muhamad Syarif Abdussalam May 26, 2026 10:11 AM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Genangan air kembali menutup sebagian ruas Jalan Raya Terusan Bojongsoang di kawasan Cikarees, Kecamatan Baleendah, Selasa (26/5/2026), setelah hujan mengguyur wilayah Bandung Raya kemarin.

Air yang menguasai badan jalan membuat arus kendaraan dari dua arah bergerak lambat dan memicu antrean cukup panjang.

Pantauan di lokasi menunjukkan tinggi genangan diperkirakan berada di kisaran 30 sampai 40 sentimeter. Kondisi tersebut membuat banyak kendaraan, terutama roda dua, harus ekstra hati-hati ketika mencoba melintasi jalan yang tertutup air.

Kemacetan terlihat mengular dari arah Baleendah menuju Bojongsoang maupun sebaliknya. Laju kendaraan tersendat karena banyak pengendara memilih memperlambat kecepatan demi menghindari mesin kendaraan mati di tengah genangan.

Di tengah kepadatan lalu lintas, bunyi klakson terdengar silih berganti. Beberapa pengguna jalan tampak menepi sambil memperhatikan kondisi arus air dan kendaraan lain sebelum memutuskan tetap melintas atau mencari jalur alternatif.

Salah satu pengendara, Indah Permata (25), tampak beberapa kali memperhatikan kendaraan yang mencoba menerobos banjir.

Warga Baleendah itu mengaku masih mempertimbangkan untuk melintas karena jalan tersebut menjadi akses tercepat menuju tempat kerjanya di kawasan Buahbatu, Kota Bandung.

"Sebenarnya masih bisa dipaksain. Cuma, takut mogok aja motor saya di tengah jalan. Jadi lihat dulu banyak yang mogok atau enggak," ujarnya kepada Tribun Jabar pada Selasa (26/5/2026).

Indah mengatakan genangan di Jalan Raya Terusan Bojongsoang bukan lagi hal baru baginya, terutama setelah hujan turun cukup deras. Karena itu, ia biasanya memilih memantau kondisi jalan terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan melintas atau memutar arah.

"Sudah biasa banjir di sini. Paling kalau emang enggak bisa lewat, muter ke Jembatan Cikoneng. Tapi pasti disana juga macet, jadi liat dulu di sini, banyak yang mogok atau tidak," katanya.

Situasi serupa juga dirasakan Edi Kusnaedi (49). Ia memilih berhenti sejenak di tepi jalan sambil melihat kondisi kendaraan lain yang mencoba melewati banjir. Menurutnya, risiko motor mogok membuat dirinya enggan terburu-buru menerjang genangan.

"Lumayan banjirnya. Paling saya lihat dulu apakah aman dilalui apa tidak. Motor saya sudah tua, dari pada rusak, lebih baik muter. Tapi, ngelihat dulu aja, siapa tahu agak surut," katanya.

Bagi warga sekitar, banjir yang kerap muncul di kawasan tersebut dinilai terus mengganggu aktivitas harian. Genangan air tidak hanya memperlambat arus kendaraan, tetapi juga membuat akses lalu lintas menjadi sulit dilalui ketika hujan turun cukup lama.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.