Sate Maranggi Bootcamp Fapet Unpad Tawarkan Harga Rp3.000 Per Tusuk berkat Potong Jalur Distribusi
Muhamad Syarif Abdussalam May 26, 2026 10:11 AM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID,BANDUNG - Warung Sate Maranggi Bootcamp Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Padjadjaran (Unpad) di kawasan Jatinangor berkembang menjadi salah satu destinasi kuliner favorit mahasiswa dan masyarakat sekitar. 

Warung yang mengusung konsep sederhana dengan bangku panjang dan ruang terbuka ini dikenal lewat potongan daging sate yang tebal, empuk, serta bumbu yang meresap hingga ke dalam.

Founder warung ini adalah Guru Besar Fapet Unpad, Prof. Dr. Ir. Mansyur, S.Pt., M.Si., IPM, sebagai bagian dari pengembangan ekosistem peternakan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Dalam operasionalnya, warung ini mencatat konsumsi daging yang cukup besar. Setiap hari, sekitar 200 kilogram daging sapi diolah, terutama untuk menu sate maranggi yang menjadi andalan.

“Kalau dari laporan anak processing, untuk sate sapi saja bisa habis sekitar 200 kilo daging sapi per hari,” ujar Prof Mansyur saat ditemui di lokasi beberapa waktu lalu.

Harga yang ditawarkan relatif terjangkau bagi kalangan mahasiswa, dengan sate dijual sekitar Rp3.000 per tusuk dan sop iga Rp25.000 per porsi. 

Menurut Mansyur, harga tersebut dapat dipertahankan karena bahan baku diperoleh melalui sistem ekosistem yang dibangun sendiri.

“Kita bikin ekosistem, kalau tidak, kita akan dapat daging mahal dan tidak bisa jual murah,” katanya.

Ekosistem tersebut mencakup berbagai lini, mulai dari peternakan, pemotongan, hingga pengolahan daging. Melalui sistem ini, rantai distribusi dapat dipersingkat sehingga biaya produksi lebih efisien.

Prof Mansyur mengatakan warung ini mulai dibangun pada 28 Oktober 2024 dan ditargetkan selesai dalam waktu singkat.

Pada awal berdiri, warung ini hanya menempati lahan seadanya dengan fasilitas terbatas. Namun seiring meningkatnya jumlah pengunjung, kini area warung diperluas dan dilengkapi berbagai fasilitas tambahan.

Selain lokasi utama, usaha ini juga telah memiliki dua cabang lain yang masih berada di kawasan Jatinangor. Untuk mendukung operasional, pengelolaan makanan kini juga menggunakan sistem central kitchen.

“Seluruh masakan diproses terlebih dahulu di satu dapur pusat sebelum didistribusikan ke masing-masing outlet. Di sini tinggal hangatin saja, semua sudah dimasak di central kitchen,” kata dia.

Salah satu ciri khas dari warung ini adalah keterlibatan mahasiswa dalam operasional. Sebagian besar pekerja berasal dari mahasiswa Fapet Unpad, baik sebagai karyawan part-time maupun full-time.

Bahkan, beberapa mahasiswa yang awalnya bekerja sambilan kini dipercaya menjadi pengelola cabang setelah lulus.

“Yang di cabang itu ada yang dulunya part-time, sekarang sudah saya angkat jadi manajer,” ujarnya.

Dalam pengelolaan tenaga kerja, Mansyur menekankan pentingnya pemberian gaji yang layak sebagai upaya menjaga kinerja dan kepercayaan karyawan.

Ia menyebutkan, gaji untuk karyawan tetap di warung ini mencapai sekitar Rp3,5 juta per bulan.

“Kalau orang sudah senang dengan gajinya, kita lebih mudah mengatur dan menjaga kepercayaan,” ujarnya.

Menurutnya, sistem tersebut penting terutama dalam bisnis makanan, di mana pengelolaan bahan baku membutuhkan tingkat kejujuran yang tinggi.

Di balik bisnis kuliner ini, Mansyur mengaku memiliki tujuan jangka panjang, yakni membangun kebiasaan konsumsi produk peternakan di kalangan mahasiswa.

Ia menyebut konsep tersebut sebagai strategi untuk memperkuat permintaan terhadap produk peternakan di masa depan.

“Empat tahun mereka di sini makan sate, sop. Nanti setelah lulus, mereka akan tetap mencari produk peternakan,” katanya.

Menurutnya warung ini tidak hanya menjadi tempat makan, tetapi juga bagian dari strategi pendidikan dan pengembangan industri peternakan secara berkelanjutan.

Salah satu karyawan, Kevin, mahasiswa semester akhir Fapet Unpad, mengaku awalnya bergabung secara tidak sengaja melalui ajakan teman.

“Awalnya saya masuk cuma hari Minggu saja, lama-lama dipercaya dan bisa masuk tiap hari karena kelas yang sudah semakin dikit,” kata Kevin.

Ia menjelaskan, penghasilannya sebagai pekerja part-time berkisar Rp2 juta per bulan, di luar fasilitas makan yang disediakan oleh warung.

“Uang penghasilan part time biasanya buat jajan dan sebagian ditabung,” ujarnya.

Menurut Kevin, tantangan utama bekerja di warung ini muncul saat kondisi ramai, ketika permintaan pelanggan meningkat dan variasi pesanan menjadi lebih kompleks.

“Tantangannya paling kalau lagi ramai, permintaan beda-beda, jadi harus cepat dan teliti,” katanya.

Warung Sate Maranggi Bootcamp Fapet Unpad buka setiap Senin hingga Sabtu pukul 09.00–21.00 WIB dan Minggu pukul 11.00–21.00 WIB.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.