TRIBUNKALTIM.CO - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran, kembali memanas.
Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan melancarkan serangan udara taktis pada Senin (25/5/2026) waktu setempat, dengan menyasar lokasi peluncuran rudal dan sejumlah kapal militer milik Iran.
Pihak Washington mengeklaim bahwa kapal-kapal Iran tersebut terdeteksi tengah mencoba menebar ranjau laut di kawasan jalur pelayaran internasional, Selat Hormuz.
Baca juga: Israel Gagal dapat Kepercayaan Negara-negara Arab, Rencana Netanyahu Berantakan Jika AS-Iran Damai
Meskipun melancarkan serangan bom, pemerintah AS menegaskan bahwa operasi militer ini murni merupakan tindakan defensif (self-defense).
Serangan ini terbilang ironis lantaran terjadi di tengah momentum gencatan senjata yang masih berlangsung serta adanya progres positif dari meja pembicaraan damai tingkat tinggi antara kedua belah negara.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan, operasi pemukulan mundur tersebut terpaksa dilakukan demi melindungi keselamatan pasukan navigasi Amerika dari potensi ancaman militer Iran yang dinilai membahayakan.
Juru bicara CENTCOM, Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins memaparkan, personel militer AS di lapangan terpaksa melepaskan serangan bela diri terhadap sejumlah target vital yang berlokasi di wilayah Iran bagian selatan.
Baca juga: Iran Balik Tekan Donald Trump Lewat Draf Damai dengan Amerika Serikat
“Pasukan AS melakukan serangan bela diri di Iran selatan hari ini untuk melindungi pasukan kami dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan Iran,” tegas Hawkins dalam pernyataan resminya yang dikutip dari Reuters, dilansir dari Kompas.com.
Merujuk pada keterangan seorang pejabat senior AS kepada media The Telegraph, kronologi peristiwa bermula saat dua kapal militer milik Iran diduga kuat tertangkap basah sedang melakukan aktivitas penebaran ranjau di perairan Selat Hormuz.
Merespons temuan tersebut, pasukan patroli AS langsung bergerak cepat menghancurkan kedua kapal itu.
Tak berhenti di situ, militer AS juga membombardir lokasi peluncuran rudal darat-ke-udara (surface-to-air missile) milik Iran di Bandar Abbas, yang dinilai bersiap menargetkan pergerakan jet-jet tempur milik Amerika.
Baca juga: Tunggu Keputusan Mojtaba Khamenei, Iran Tegaskan Kesepakatan Damai dengan AS Belum Final
Sebagai informasi, Bandar Abbas merupakan kota pelabuhan strategis dan krusial di Iran selatan yang berfungsi sebagai basis pangkalan komando angkatan laut Iran di dekat Selat Hormuz.
Kendati situasi di lapangan sempat memanas akibat kontak senjata, otoritas pertahanan AS memastikan bahwa aksi ini murni berstatus “serangan defensif” taktis.
Artinya, insiden pelambungan ranjau ini tidak menjadi indikator bahwa kesepakatan gencatan senjata yang telah dinegosiasikan bersama bulan lalu dinyatakan berakhir atau batal.
Serangan udara di Selat Hormuz ini terbilang sangat mengejutkan karena meletus persis ketika pembicaraan damai antara jajaran diplomat Washington dan Teheran dilaporkan mulai memperlihatkan arah kemajuan yang konkret.
Baca juga: AS dan Iran Segera Sepakati Gencatan Senjata 60 Hari, Beda Washington dan Teheran soal Selat Hormuz
Hanya berselang beberapa waktu sebelum serangan terjadi pada hari Senin tersebut, Presiden AS Donald Trump bahkan sempat menuliskan sebuah pesan optimis melalui platform media sosial miliknya, Truth Social.
Dalam unggahannya, Trump menyebut bahwa proses diplomasi dengan pihak Teheran tengah berada di jalur yang benar.
“Negosiasi dengan Republik Islam Iran berlangsung dengan baik!” tulis Trump di akun pribadinya.
Keseriusan pemerintahan Trump dalam mengupayakan jalinan perdamaian ini pun tercermin dari laporan The Telegraph.
Baca juga: Hubungan AS-Israel Retak? Tel Aviv Cemas Donald Trump Pilih Jalur Damai dengan Iran
Donald Trump dikabarkan sampai rela membatalkan agenda rutin bermain golf di New Jersey, bahkan memilih absen tidak menghadiri acara sakral pernikahan putranya sendiri demi tetap bersiap mengawal jalannya meja perundingan damai tingkat tinggi ini.
Di saat yang bersamaan, upaya rekonsiliasi ini juga mendapatkan dukungan penuh dari dunia internasional.
Satu delegasi penting asal Pakistan yang dipimpin langsung oleh Panglima Angkatan Darat, Jenderal Asim Munir dilaporkan telah mendarat di Teheran sejak Jumat lalu untuk mengemban misi sebagai mediator konflik.
Selain Pakistan, delegasi diplomatik dari Qatar dikabarkan juga ikut mendarat dan ambil bagian guna mematangkan pembahasan draf serta proposal perdamaian terbaru yang disodorkan oleh pihak Washington. (*)