EDITORIAL: Keindahan yang Belum Nyaman
OMDSMY Novemy Leo May 26, 2026 10:19 AM

 

POS-KUPANG.COM, KUPANG - KECELAKAAN yang menewaskan wisatawan di Taman Nasional Komodo (TNK) kembali. Kali ini, dua wisatawan asal Austria, Jurgen dan Astrid tewas di kawasan wisata Air Terjun Cunca Wulang, Minggu 24 Mei 2026.

Ini adalah untuk kesekiankalinya, wisatawan meninggal di TNK akibat fasilitas yang tidak memadai atau buruk. Sesuai data di media, beberapa kasus yang mengakibatkan wisatawan tewas, yakni tahun 2022 di mana dua wisatawan meninggal akibat kapal tenggelam di perairan Taman Nasional Komodo.

Kemudian tahun 2023 satu wisatawan domestik meninggal setelah sekoci kapal wisata terbalik di Pulau Muawang. Tahun 2025, wisatawan asal China meninggal saat snorkeling di Long Pink Beach.

Dan di akhir tahun 2025, kecelakaan kapal di sekitar Pulau Padar menyebut 4 wisatawan asing hilang/tenggelam.

Kalau dihitung dari kasus-kasus yang terlapor luas di media, jumlah korban wisatawan meninggal setidaknya lebih dari 7 orang dalam beberapa tahun terakhir.

Tetapi angka sebenarnya bisa lebih tinggi atau lebih rendah karena tidak semua kasus dipublikasikan nasional, sebagian korban masih berstatus hilang saat laporan awal, dan tidak ada database publik terpadu khusus kecelakaan wisata di Labuan Bajo.

Dari data yang ada, kasus-kasus tersebut terjadi akibat kapal wisata yang tak layak operasi, cuaca buruk, snorkeling/diving di lokasi berbahaya dan  standar keselamatan operator wisata yang belum merata. Yang terakhir ini mesti menjadi perhatian.

Sebagai daerah wisata premium, TNK adalah lokasi yang menjadi incaran turis dari seluruh dunia. Dari berbagai latar belakang, mereka datang dengan bermacam tujuan. Ada yang sekadar berwisata, ada yang melakukan penelitian dan ada yang bahkan ingin berinvestasi.

Dari kasus-kasus ini, ternyata keindahan yang ditawarkan Taman Nasional Komodo tak senyaman cerita orang. Masih banyak hal yang mesti dibenahi, meski sudah banyak perhatian yang diberikan pemerintah terhadap daerah ini.

Tak hanya berharap pada Pemkab Manggarai Barat atau Pemprov NTT, Pemerintah Pusat bahkan membentuk sebuah badan khusus untuk mengurus Taman Nasional Komodo. Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLF) dibentuk untuk mengembangkan kawasan wisata yang ada di wilayah itu.

Artinya, pembangunan infrastruktur,pengembangan destinasi, pengendalian kawasan wisata dan promosi pariwisata adalah tugas utamanya. Dan, kalau dirinci lebih detail, fasilitas yang ada di destinasi wisata seperti jembatan dan lainnya menjadi tugas BPOLF untuk mengawasi dan mengurusnya.

Dan, kalau kemudian ketika wisatawan celaka dan meninggal karena fasilitas yang tidak memadai, itu artinya kita masih lalai. Kita belum tuntas melaksanakan tugas menyediakan fasilitas yang nyaman bagi wisatawan. Di saat kita menargetkan peningkatan ekonomi dan kesejahteraan rakyat dari kedatangan wisatawan, masih ada hal yang abai.

Kita belum sepenuhnya siap menerima kedatangan tamu yang ingin bersenang-senang di daerah kita. Padahal, dampak dari kecelakaan wisatawan di sebuah lokasi wisata efeknya sangat besar.

Dan, yang utama adalah citra sebagai daerah wisata yang ikut berdampak. Cerita dari mulut ke mulut akan menyebar cepat dan membawa dampak buruk.

Kita tentu tak ingin hal buruk ini terus terjadi. Harus ada upaya untuk minimal mengurangi kasus yang menimpa wisatawan di lokasi wisata. Pemerintah, pengeola dan masyarakat mesti berkolaborasi.

Demi kepentingan bersama, kita mesti sama-sama membenahi kondisi ini. Dengan cara masing-masing, kita mesti meyakinkan dunia bahwa keindahan ini tetap nyaman untuk dinikmati. Semoga ke depan, tidak lagi terjadi kasus seperti ini.  (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.