Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah - Sebanyak 26 pelajar dari dua sekolah di Kota Metro harus menjalani pembinaan di Mapolsek Trimurjo setelah kepergok hendak tawuran sambil membawa senjata tajam jenis arit dan sabit.
Aksi konvoi puluhan remaja yang melintas di wilayah Kecamatan Trimurjo, Kabupaten Lampung Tengah, itu sempat membuat warga resah sebelum akhirnya berhasil digagalkan polisi.
Para pelajar kemudian dipertemukan dengan orang tua dan guru untuk menjalani mediasi serta pembinaan agar tidak mengulangi perbuatannya.
Kapolsek Trimurjo AKP Admar mengatakan, peristiwa tersebut terungkap setelah polisi menerima laporan masyarakat melalui layanan darurat 110 pada Kamis (22/5/2026) sekitar pukul 19.30 WIB. Warga melaporkan adanya iring-iringan sepeda motor yang melintas di Jalan Kampung Purwodadi sambil membawa senjata tajam.
"Dari laporan itu anggota langsung melakukan penyelidikan dan berhasil mengetahui identitas para pelaku yang merupakan kelompok siswa dari sekolah di Kota Metro," kata Admar, Senin (25/5/2026).
Polisi mula-mula mengamankan 14 pelajar yang diduga hendak menyerang kelompok siswa dari sekolah lain. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, petugas kembali mengamankan 12 pelajar lainnya yang kedapatan membawa senjata tajam serupa.
Berdasarkan hasil penyelidikan, rencana bentrokan antarkelompok pelajar itu dipicu saling tantang di media sosial melalui grup bernama DOSQ86BROB dan Printis343Shot. Kedua kelompok disebut telah bersepakat menentukan lokasi untuk melakukan tawuran.
"Para siswa ini sebelumnya sudah janjian untuk bertemu dan melakukan perkelahian antar kelompok," ujarnya.
Untuk meredam potensi konflik yang lebih besar, Polsek Trimurjo mempertemukan seluruh pelajar bersama orang tua dan pihak sekolah pada Sabtu siang.
Dalam mediasi tersebut, para siswa diminta membuat surat pernyataan bermaterai sebagai bentuk komitmen tidak mengulangi perbuatannya.
Suasana emosional turut mewarnai proses pembinaan ketika para pelajar diminta sungkem kepada orang tua masing-masing.
Menurut Admar, langkah itu dilakukan agar para siswa memahami dampak tindakan mereka terhadap keluarga.
Hasil mediasi menunjukkan kedua kelompok sepakat berdamai dan saling memaafkan.
Orangtua berjanji meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak mereka, sedangkan pihak sekolah menegaskan akan mengambil tindakan tegas bila kejadian serupa kembali terjadi.
"Proses pembinaan berjalan baik dan pihak sekolah juga mengapresiasi langkah Polsek Trimurjo yang berusaha mencegah tawuran besar yang berpotensi menimbulkan korban dan gangguan keamanan masyarakat," tutupnya.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)