Alasan Warga Ledoksari Boyolali Pilih Perbaiki Jembatan Bambu Dibanding Lewat Jembatan Permanen
Vincentius Jyestha Candraditya May 26, 2026 10:19 AM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Postingan kondisi jembatan bambu di Dukuh Ledoksari, Desa Dlingo, Kecamatan Mojosongo, Boyolali sempat ramai di media sosial Facebook.

Jembatan sederhana yang berada di pelosok desa itu disebut menjadi akses tercepat warga menuju area persawahan.

MEMPRIHATINKAN. Jembatan bambu di Dukuh Ledoksari, Desa Dlingo, Kecamatan Mojosongo, Boyolali pada Senin (25/5/2026). Postingan soal jembatan ini sempat ramai di media sosial Facebook.
MEMPRIHATINKAN. Jembatan bambu di Dukuh Ledoksari, Desa Dlingo, Kecamatan Mojosongo, Boyolali pada Senin (25/5/2026). Postingan soal jembatan ini sempat ramai di media sosial Facebook. (TribunSolo.com/Tri Widodo)

Saat TribunSolo.com mendatangi lokasi, Senin (25/5/2026), jembatan tersebut mulai diperbaiki secara swadaya oleh masyarakat setempat.

Warga tampak mengganti sejumlah bambu yang sudah rapuh dengan bambu baru agar tetap aman dilalui pejalan kaki.

Baca juga: Truk Trailer Tabrak Jembatan di Jalur Solo–Purwodadi Karanganyar, Sopir Diduga Mengantuk

Perbaikan dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat dan hanya dikerjakan setiap hari Minggu karena mayoritas warga bekerja di hari biasa.

Akses Penting

Jembatan bambu itu memang hanya digunakan sebagai akses jalan kaki menuju sawah.

Tercatat ada sekitar 13 kepala keluarga (KK) warga Dukuh Ledoksari yang memanfaatkan jembatan tersebut.

Di ujung jembatan itu langsung terhubung dengan pematang sawah milik warga.

Salah seorang warga, Jiyati (52), mengatakan keberadaan jembatan cukup penting, terutama bagi warga lanjut usia yang tidak bisa mengendarai sepeda motor.

“Kalau jalan kaki kan cepat lewat jembatan ini,” ujarnya.

Menurut dia, jembatan itu sejak awal dibangun secara swadaya oleh masyarakat demi memudahkan aktivitas menuju sawah.

Ogah Lewat Jembatan Permanen

Meski terdapat jembatan permanen, jaraknya cukup jauh dari area persawahan warga.

Baca juga: Wisata Keluarga Kekinian di Karanganyar, Ada Jembatan Kaca hingga Air Terjun Instagramable

“Kalau jembatan permanen ada juga. Tapi kalau ke sawah harus muter sampai 2 kilometer,” katanya.

Gatot, warga lain, menyebut jembatan ini merupakan akses bantuan.

Karena bukan jalan resmi, jembatan ini dibangun secara swadaya oleh masyarakat agar memudahkan warga menuju sawah.

“Kan warga Ledoksari ini banyak yang punya sawah di lor kali,” pungkasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.