DPRD Bengkulu Dorong Stabilitas Harga Pupuk di Tengah Turunnya Harga Sawit
Ricky Jenihansen May 26, 2026 03:54 PM

 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Wakil Ketua I DPRD Provinsi Bengkulu, Teuku Zulkarnain mendorong stabilitas harga pupuk di tengah kondisi harga tandan buah segar (TBS) sawit yang sedang mengalami penurunan.

Ia menegaskan, kondisi petani sawit saat ini sedang sulit akibat harga sawit yang turun, sehingga para pelaku usaha pupuk diminta tidak mengambil keuntungan berlebihan.

“Untuk pedagang pupuk, saya tegaskan jangan coba-coba bermain harga pupuk di tengah kondisi harga sawit yang turun,” kata Teuku Zulkarnain saat diwawancarai TribunBengkulu.com, Selasa (26/5/2026).

Menurutnya, pemerintah bersama DPRD akan ikut mengawasi distribusi pupuk maupun kondisi harga di lapangan agar tidak memberatkan petani.

Ia juga menyoroti kondisi harga sawit yang turun, sementara harga crude palm oil (CPO) dan minyak goreng dinilai tidak mengalami penurunan signifikan.

“Ini yang menjadi perhatian. Harga sawit turun, tetapi harga CPO dan minyak goreng tidak ikut turun. Jangan sampai ada pihak yang justru mengambil keuntungan lebih di tengah kondisi petani yang sedang kesulitan,” ujarnya.

Teuku menilai pemerintah harus mulai memikirkan langkah strategis agar tata niaga sawit tidak selalu dikendalikan pihak tertentu.

Salah satunya dengan memperkuat peran pemerintah daerah melalui pembentukan badan usaha maupun pabrik pengolahan sawit.

Menurutnya, jika pemerintah memiliki pabrik pengolahan sendiri, maka hasil sawit petani bisa langsung diserap sehingga harga lebih stabil dan petani tidak dirugikan.

“Kalau perlu pemerintah punya pabrik CPO sendiri, sehingga sawit petani bisa dibeli langsung dan tidak ada lagi pihak-pihak yang bermain,” ucapnya.

Ia berharap kondisi harga sawit segera membaik dan para pelaku usaha, termasuk pedagang pupuk, dapat bersama-sama menjaga stabilitas ekonomi petani di Bengkulu.

DPRD - Wakil Ketua I DPRD Provinsi Bengkulu yang juga menjabat Ketua KONI Provinsi Bengkulu, Teuku Zulkarnain saat ikut rapat tertutup, di ruang kerja Sekda Provinsi Bengkulu, Kantor Gubernur Bengkulu, Kota Bengkulu, Senin (18/5/2026).
DPRD - Wakil Ketua I DPRD Provinsi Bengkulu, Teuku Zulkarnain saat ikut rapat tertutup, di ruang kerja Sekda Provinsi Bengkulu, Kantor Gubernur Bengkulu, Kota Bengkulu, Senin (18/5/2026). (Panji Destama/TribunBengkulu.com/Muhammad Panji Destama Nurhadi)

Harga Pupuk Melonjak

Pedagang pupuk dan alat tani Toko Tani Jaya Kepahiang, Umar (55) mengeluhkan penurunan daya beli konsumen sejak harga pupuk nonsubsidi dan sejumlah kebutuhan pertanian di Kabupaten Kepahiang mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir tahun 2026.

Kondisi tersebut juga dikeluhkan petani karena berdampak langsung terhadap biaya produksi pertanian.

Umar mengatakan kenaikan harga terjadi secara bertahap usai Lebaran Idul Fitri lalu dan terus meningkat hingga saat ini.

“Untuk sementara ini harga pupuk terutama non subsidi mengalami kenaikan,” ucap Umar.

Menurutnya, kenaikan paling signifikan terjadi pada pupuk urea nonsubsidi.

Harga yang sebelumnya sekitar Rp 450 ribu per karung ukuran 50 kilogram, kini melonjak menjadi Rp 700 ribu per karung 50 kg.

“Per kilonya sekarang sekitar Rp 15 ribu sampai Rp 16 ribu. Sebelumnya jauh lebih murah, jadi naik sekitar Rp 250 ribu per karung 50 kilo,” ungkapnya.

Tak hanya urea, pupuk NPK Mutiara juga mengalami kenaikan harga.

Jika sebelumnya dijual Rp 750 ribu per karung, kini mencapai Rp 900 ribu per karung ukuran 50 kilogram.

“Kemudian pupuk NPK Mutiara harga sebelumnya Rp 750 ribu per karung, sekarang sudah mencapai Rp 900 ribu,” beber Umar.

Selain pupuk, harga pestisida dan alat pertanian juga ikut naik.

Pestisida yang sebelumnya dijual Rp 50 ribu per liter kini naik menjadi Rp 65 ribu per liter.

Sementara itu, tank hand sprayer elektrik yang biasanya dibanderol Rp 450 ribu per unit kini naik menjadi Rp 465 ribu per unit.

“Mulai ada kenaikan ini sesudah Lebaran Idul Fitri kemarin secara bertahap. Dua sampai tiga bulan terakhir kenaikannya cukup tinggi,” jelasnya.

Meski demikian, Umar mengaku belum mengetahui pasti penyebab kenaikan harga tersebut.

Berdasarkan informasi dari distributor, harga memang mengalami penyesuaian dari tingkat pemasok.

“Kalau penyebab pastinya kita belum tahu, tapi dari distributor memang sudah naik katanya,” kata Umar.

Kenaikan harga pupuk dan kebutuhan pertanian ini juga berdampak terhadap daya beli petani.

Umar menyebut pembelian pupuk oleh konsumen mulai berkurang dibanding sebelumnya.

“Biasanya petani beli dua sampai tiga karung, sekarang paling satu karung atau dua karung saja. Jadi daya beli konsumen kita berkurang,” ujar Umar.

Ia berharap harga pupuk dan kebutuhan pertanian dapat kembali normal agar tidak semakin memberatkan petani.

“Harapan kita harga pupuk ini bisa normal kembali,” harap Umar.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.