Tips Mengolah Daging Kurban Supaya Empuk dan Anti Bau Prengus
Briandena Silvania Sestiani May 27, 2026 07:12 AM

TRIBUNKALTIM.CO - Cara mengolah daging kurban banyak dicari masyarakat di Hari Raya Idul Adha 2026, simak selengkapnya.

Setelah proses penyembelihan hewan kurban dilakukan, daging sapi maupun kambing biasanya langsung dibagikan kepada warga untuk diolah menjadi berbagai hidangan khas, mulai dari sate, gulai, tongseng, rendang, hingga semur.

Namun di balik melimpahnya daging kurban saat Idul Adha, tidak sedikit masyarakat yang masih menghadapi persoalan klasik ketika memasak.

Daging terkadang terasa alot, sulit dikunyah, bahkan mengeluarkan aroma prengus yang cukup menyengat, khususnya pada daging kambing.

Baca juga: 20 Template CapCut Idul Adha 2026, Ucapkan Hari Raya Kurban Pakai Twibbon Video dan Share ke IG!

Istilah “prengus” sendiri merujuk pada aroma khas yang muncul dari lemak dan jaringan tertentu pada daging kambing. Bau ini sering kali dianggap mengganggu selera makan apabila proses pengolahan tidak dilakukan dengan tepat.

Karena itu, teknik memasak menjadi faktor penting agar daging kurban tidak hanya lezat, tetapi juga empuk dan tetap memiliki kandungan gizi yang baik.

Sejumlah pakar gizi hingga chef profesional pun membagikan berbagai metode pengolahan daging kurban yang dinilai efektif untuk mengatasi masalah tersebut.

Mulai dari penggunaan bahan alami seperti daun pepaya dan nanas, pemanfaatan rempah-rempah, hingga metode perebusan 5-30-7 yang belakangan kembali populer karena dianggap hemat gas dan praktis dilakukan di rumah.

Pengolahan Daging Berpengaruh pada Kandungan Gizi

Dosen Departemen Gizi Masyarakat IPB University, Reisi Nurdiani, MSi, menjelaskan bahwa proses pengolahan daging sangat berpengaruh terhadap kandungan nutrisi di dalamnya, terutama protein.

Menurut Reisi, memasak daging dengan suhu tinggi memang dapat mengurangi sebagian kandungan protein. Meski begitu, protein yang telah dimasak justru lebih mudah diserap tubuh dibandingkan protein mentah.

“Memang kandungan protein pada daging matang menurun, tetapi justru menjadi lebih bermanfaat karena proteinnya telah mengalami denaturasi sehingga lebih mudah diserap tubuh dibandingkan protein pada daging mentah,” ungkap Reisi, dikutip dari Kompas.com.

Denaturasi merupakan istilah dalam ilmu kimia yang menggambarkan perubahan struktur protein akibat panas. Proses ini membuat protein lebih mudah dicerna oleh sistem pencernaan manusia.

Selain protein, daging juga mengandung zat besi yang penting bagi tubuh. Reisi menyebut kandungan zat besi pada daging cenderung lebih stabil terhadap suhu panas, meskipun tetap mengalami sedikit penurunan saat dimasak.

Mengempukkan Daging dengan Daun Pepaya dan Nanas

Salah satu cara paling populer untuk membuat daging menjadi empuk adalah menggunakan bahan alami. Reisi menjelaskan bahwa daun pepaya dan buah nanas merupakan dua bahan yang efektif membantu melunakkan serat daging.

Daun pepaya diketahui mengandung enzim papain. Enzim ini bekerja memecah jaringan protein pada daging sehingga teksturnya menjadi lebih lunak.

Cara penggunaannya cukup sederhana. Daun pepaya yang setengah tua dihancurkan terlebih dahulu, lalu dibalurkan ke seluruh permukaan daging. Setelah didiamkan beberapa saat, daging bisa langsung dimasak sesuai selera.

“Daun pepaya mengandung enzim papain yang dapat memecah jaringan protein pada daging, sehingga membuatnya lebih empuk,” jelas Reisi.

Selain daun pepaya, buah nanas juga dapat dimanfaatkan sebagai pengempuk alami. Nanas memiliki kandungan enzim bromelin yang memiliki fungsi hampir serupa dengan papain.

Biasanya, nanas diparut terlebih dahulu sebelum dioleskan ke permukaan daging. Selain membantu melunakkan tekstur, nanas juga memberikan aroma segar pada masakan.

“Selain lebih empuk, nanas juga menambah aroma segar pada olahan daging,” kata Reisi.

Meski demikian, penggunaan nanas sebaiknya tidak terlalu lama karena enzim bromelin yang terlalu kuat dapat membuat tekstur daging menjadi terlalu lembek.

Teknik Memasak Harus Disesuaikan dengan Jenis Potongan Daging

Tidak semua bagian daging memiliki karakter tekstur yang sama. Karena itu, metode memasak juga perlu disesuaikan dengan jenis potongan yang digunakan.

Menurut Reisi, bagian daging yang memiliki serat alot seperti paha atau betis lebih cocok dimasak menggunakan teknik slow cooking.

Slow cooking adalah metode memasak perlahan dalam suhu sedang hingga rendah dengan waktu yang relatif lama. Teknik ini membuat jaringan otot dan lemak perlahan melunak sehingga menghasilkan tekstur daging yang empuk.

Metode ini bisa dilakukan dengan merebus daging selama beberapa jam atau menggunakan panci presto untuk mempercepat proses pelunakan.

“Kalau bagian yang alot, teknik slow cooking seperti direbus dalam waktu lama sangat dianjurkan. Bisa juga menggunakan panci presto untuk mempercepat proses, tapi tetap menghasilkan daging yang empuk,” tambah Reisi.

Sebaliknya, untuk potongan daging premium seperti tenderloin atau has dalam, proses memasak tidak perlu terlalu lama. Jika terlalu lama terkena panas, tekstur daging justru dapat berubah menjadi keras dan kehilangan kelembutannya.

Menghilangkan Bau Prengus dengan Rempah dan Jeruk Nipis

Masalah bau prengus pada daging kambing juga menjadi perhatian utama saat Idul Adha. Aroma khas tersebut sering kali muncul akibat lemak dan sisa darah yang masih menempel pada daging.

Untuk mengatasinya, penggunaan rempah-rempah dinilai sangat membantu. Berbagai bumbu seperti jahe, kunyit, ketumbar, bawang putih, serai, hingga daun salam dapat membantu menutupi aroma menyengat sekaligus memperkaya cita rasa masakan.

Selain rempah, jeruk nipis juga menjadi bahan yang umum digunakan masyarakat untuk mengurangi bau prengus.

Caranya, daging dilumuri menggunakan perasan jeruk nipis, kemudian didiamkan selama kurang lebih satu jam sebelum dimasak.

Asam alami dari jeruk nipis membantu menetralisasi aroma tidak sedap sekaligus sedikit membantu melunakkan tekstur daging.

Teknik ini banyak digunakan sebelum daging diolah menjadi sate, gulai, maupun tongseng.

Metode Rebus 5-30-7 yang Kembali Populer

Selain penggunaan bahan alami, masyarakat juga mulai banyak menerapkan metode perebusan 5-30-7 untuk menghemat waktu dan gas saat memasak daging kurban.

Teknik ini cukup sederhana. Pertama, daging direbus menggunakan api besar selama lima menit. Setelah itu, panci ditutup rapat dan api dimatikan.

Daging kemudian didiamkan selama 30 menit tanpa membuka tutup panci agar proses pemanasan tetap berlangsung secara alami di dalam wadah tertutup.

Setelah 30 menit, daging direbus kembali selama tujuh menit hingga teksturnya menjadi lebih empuk.

Metode ini dianggap praktis karena tidak membutuhkan perebusan terus-menerus dalam waktu lama.

Namun, Executive Chef Aprez Catering, Stefu Santoso, mengingatkan bahwa teknik tersebut tidak selalu cocok untuk semua jenis daging.

Menurutnya, daging sapi yang terlalu segar terkadang masih memiliki tekstur alot meskipun menggunakan metode 5-30-7.

Karena itu, pemilihan jenis daging dan teknik memasak tetap harus disesuaikan dengan kondisi bahan yang digunakan.

Daging Kurban Bisa Tetap Lezat dan Bergizi

Pengolahan daging kurban sebenarnya tidak terlalu sulit apabila dilakukan dengan teknik yang tepat.

Pemanfaatan bahan alami seperti daun pepaya dan nanas, penggunaan rempah-rempah, hingga metode perebusan yang sesuai dapat membantu menghasilkan masakan yang lebih empuk dan lezat.

Selain itu, proses memasak yang benar juga membantu menjaga kandungan gizi daging agar tetap bermanfaat bagi tubuh.

Saat Idul Adha tiba, berbagai olahan berbahan dasar daging kurban hampir selalu hadir di meja makan masyarakat Indonesia.

Karena itu, memahami cara pengolahan yang tepat menjadi penting agar hasil masakan tidak hanya nikmat disantap, tetapi juga sehat dan mudah dicerna seluruh anggota keluarga.

Dengan teknik yang sesuai, daging kurban sapi maupun kambing dapat diolah menjadi hidangan yang empuk, gurih, minim bau prengus, serta tetap kaya nutrisi untuk dikonsumsi bersama keluarga saat momentum Hari Raya Idul Adha 2026.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.