TRIBUNKALTENG.COM, YOGYAKARTA - Momentum Hari Ulang Tahun ke-69 Kalimantan Tengah (Kalteng) dimanfaatkan mahasiswa perantauan di Yogyakarta untuk membahas arah pembangunan daerah yang tak boleh hanya berorientasi fisik.
Hal itu terungkap dalam forum dialog bertema Kalimantan Tengah: Dulu, Kini, dan Masa Depan yang digelar Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Kalimantan Tengah (HPMKT), Sabtu (23/5/2026) lalu.
Dalan forum tersebut, mahasiswa membahas terkait penguatan sumber daya manusia (SDM), nilai komunal, hingga peran generasi muda dalam pembangunan daerah.
Diskusi tersebut menjadikan buku Mendulang Juang Persatuan Kalimantan karya Khara Makrothomia Toda, sebagai refleksi untuk melihat tantangan pembangunan Kalimantan Tengah secara menyeluruh.
Baca juga: Viral Banyak Dibubarkan di Sejumlah Daerah, Mahasiswa di Palangka Raya Penasaran Nobar Pesta Babi
Ketua Panitia Pelaksana, Slasmiko mengatakan, forum ini bertujuan menempatkan pemuda sebagai subjek pemikiran yang aktif dalam merumuskan gagasan pembangunan.
Menurutnya, mahasiswa memiliki kapasitas intelektual yang layak didengar untuk melahirkan rekomendasi kebijakan yang berdampak luas.
Ketua Asrama Putri Kalimantan Tengah, Valentina menambahkan, semangat persatuan harus tetap menjadi kekuatan utama masyarakat Kalteng di tengah keberagaman.
Menurutnya, semangat Isen Mulang tidak cukup hanya dimaknai sebagai slogan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
“Semangat Isen Mulang harus termanifestasikan dalam bentuk karya, prestasi, kepedulian, dan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, Pakar Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhamad Sulhan bersama Sosiolog Universitas Palangka Raya (UPR), Yuliana menekankan bahwa pembangunan Kalimantan Tengah tidak boleh hanya berorientasi pada aspek fisik.
Keduanya menilai pembangunan infrastruktur perlu diimbangi dengan penguatan kualitas manusia dan nilai kebersamaan sebagai fondasi sosial.
Penulis buku, Khara Makrothomia Toda mengatakan, momentum HUT ke-69 Kalteng harus menjadi pengingat bagi generasi muda untuk tidak hanya berfokus pada orientasi ekonomi jangka pendek.
Ia mengajak pemuda untuk kembali menggali potensi diri dan nilai budaya lokal sebagai kekuatan pembangunan.
“Momentum ini mengajak generasi muda untuk tidak hanya fokus pada eksploitasi materi atau ekonomi sesaat, tetapi melihat kembali potensi diri untuk mendulang martabat dan jati diri yang berakar pada budaya lokal,” katanya.
Sementara itu, Yuliana menyoroti pentingnya memandang peran perempuan Dayak secara lebih luas, baik di ranah domestik maupun publik.
Menurutnya, perempuan Dayak memiliki kontribusi strategis dalam menjaga daya tahan komunitas adat dan memperkuat tatanan sosial.
“Apapun bentuk aktivitasnya, keterlibatan perempuan Dayak merupakan perwujudan nyata dari daya bertahan, pengelolaan trauma sosial, serta penguatan benteng komunitas adat,” ujarnya.
Selain itu, forum juga menyoroti filosofi Huma Betang sebagai model kehidupan masyarakat yang relevan untuk menjawab tantangan pembangunan modern.
Nilai kemandirian yang berjalan selaras dengan kepentingan kolektif dinilai dapat menjadi kompas dalam menentukan arah kebijakan daerah.
Ketua Asrama Putra Kalimantan Tengah, Benaya mengajak, mahasiswa perantauan memanfaatkan masa studi sebagai bekal untuk membangun daerah.
Ia mencontohkan sosok Pahlawan Nasional Tjilik Riwut sebagai figur progresif yang dapat menjadi teladan bagi generasi muda.
“Ketika kembali ke daerah, bekal ilmu pengetahuan dan kesadaran tersebut harus diaktualisasikan menjadi solusi nyata dalam menghadapi tantangan zaman,” pungkasnya.