Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Beta Misutra
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU – Sebanyak 800 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) bersama petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bengkulu melaksanakan salat Iduladha 1447 Hijriah secara berjamaah, Rabu (27/5/2026) pagi.
Sejak pagi hari, ratusan warga binaan tampak memenuhi area lapangan yang telah dipersiapkan sebagai lokasi pelaksanaan Salat Id.
Dengan mengenakan pakaian muslim yang rapi, para peserta mengikuti rangkaian ibadah dengan tertib dan penuh kekhusyukan.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program pembinaan kerohanian yang secara rutin dilaksanakan Lapas Kelas IIA Bengkulu dalam membentuk karakter dan meningkatkan kualitas spiritual warga binaan.
Pelaksanaan Salat Iduladha tahun ini juga diikuti seluruh jajaran petugas pemasyarakatan.
Momentum hari raya kurban dimanfaatkan sebagai sarana mempererat hubungan antara warga binaan dan petugas sekaligus menanamkan nilai-nilai keikhlasan, pengorbanan, serta kepedulian sosial.
Khotbah Angkat Keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
Dalam pelaksanaan Salat Iduladha tersebut, Ustaz Abu Hasan dipercaya menjadi khatib.
Di hadapan ratusan jamaah, ia menyampaikan khotbah yang mengulas perjalanan spiritual Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS sebagai teladan utama dalam menjalankan perintah Allah SWT.
Melalui khotbahnya, Ustaz Abu Hasan mengingatkan pentingnya ketakwaan, kesabaran, dan keikhlasan dalam menjalani berbagai ujian kehidupan.
Kisah Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan menyembelih putra tercintanya menjadi simbol kepatuhan total kepada kehendak Allah SWT sekaligus pelajaran berharga bagi seluruh umat Islam.
Pesan-pesan keagamaan tersebut disimak dengan penuh perhatian oleh para warga binaan.
Bagi sebagian dari mereka, perayaan Iduladha di dalam lapas menjadi momentum refleksi untuk memperbaiki diri dan memperkuat keimanan selama menjalani masa pembinaan.
Kalapas: Iduladha Menjadi Sarana Introspeksi Diri
Kepala Lapas Kelas IIA Bengkulu, Julianto Budhi Prasetyono mengatakan peringatan Iduladha tidak hanya menjadi agenda keagamaan tahunan, tetapi juga bagian penting dari proses pembinaan mental dan spiritual warga binaan.
Menurutnya, nilai-nilai yang terkandung dalam perayaan Iduladha sangat relevan untuk membentuk karakter warga binaan agar memiliki semangat perubahan dan kesiapan kembali ke tengah masyarakat setelah menyelesaikan masa pidana.
“Momentum Iduladha ini mengajarkan tentang keikhlasan, pengorbanan dan kepedulian terhadap sesama. Kami berharap seluruh warga binaan dapat mengambil hikmah dari perayaan ini,” ujar Julianto.
Ia menjelaskan, pembinaan spiritual merupakan salah satu pilar utama dalam program pemasyarakatan.
Melalui pendekatan keagamaan, warga binaan diharapkan mampu melakukan introspeksi diri, memperbaiki perilaku, serta membangun komitmen untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah bebas nanti.
Menurut Julianto, keberhasilan proses reintegrasi sosial tidak hanya ditentukan oleh keterampilan yang dimiliki warga binaan, tetapi juga oleh kesiapan mental dan spiritual yang kuat.
Tiga Sapi dan Satu Kambing Dikurbankan
Usai pelaksanaan Salat Iduladha, kegiatan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Pada Iduladha 1447 Hijriah ini, Lapas Kelas IIA Bengkulu menerima tiga ekor sapi dan satu ekor kambing untuk dikurbankan.
Julianto menjelaskan, hewan kurban tersebut berasal dari berbagai pihak, mulai dari Pemerintah Kota Bengkulu, sumbangan petugas lapas, hingga partisipasi warga binaan yang secara sukarela ikut berkontribusi.
“Tahun ini kami menerima tiga ekor sapi dan satu ekor kambing. Bantuan ini berasal dari Pemerintah Kota Bengkulu, petugas lapas dan juga partisipasi warga binaan. Daging kurban nantinya akan dibagikan kepada warga binaan, keluarga pengunjung serta keluarga besar lapas,” katanya.