TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN – Perayaan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah di Kabupaten Nunukan. Kalimantan Utara berlangsung penuh makna.
Di tengah keterbatasan, Masjid Baitul Fattah yang berada di Jalan Ujang Dewa, Simpang Kadir, Kelurahan Nunukan Selatan, Kecamatan Nunukan, tetap melaksanakan penyembelihan hewan kurban secara mandiri.
Menariknya, selama tujuh tahun terakhir pelaksanaan kurban di Masjid tersebut tidak pernah bergantung pada bantuan pihak luar. Semua biaya berasal dari hasil patungan jemaah.
Tahun ini, Masjid Baitul Fattah menyembelih dua ekor sapi dan satu ekor kambing pada momentum Hari Raya Iduladha.
Baca juga: Idul Adha 2026 Masjid Nur Hasan Tarakan Sembelih 50 Ekor Sapi Kurban, Tak Lagi Pakai Kupon
Pengurus Masjid Baitul Fattah, H Rahmat Suriyatno mengatakan, hewan kurban yang disembelih berasal dari swadaya masyarakat dan jemaah masjid.
“Untuk kurban yang kami laksanakan hari ini ada dua ekor sapi dan satu ekor kambing. Dananya dari patungan jemaah masjid, ini murni dan mandiri, tidak ada bantuan. Selama tujuh tahun terakhir semuanya mandiri,” ujar H Rahmat Suriyatno kepada TribunKaltara.com, Rabu (27/5/2026).
Ia menyebutkan, dua ekor sapi yang dikurbankan memiliki bobot sekitar 300 hingga 400 kilogram. Sapi tersebut merupakan sapi lokal yang didatangkan langsung dari Pulau Sebatik.
Pemilihan sapi dari Sebatik bukan tanpa alasan. Selain ukuran yang dinilai cukup besar, harga sapi juga lebih terjangkau dibanding membeli melalui pengepul.
“Sapinya lokal dari Sebatik, pertimbangannya karena harganya lebih murah dan ukurannya juga besar. Kalau beli di pengepul biasanya harganya lebih tinggi,” katanya.
Daging kurban nantinya akan disalurkan kepada sekitar 140 kepala keluarga (KK) di lingkungan sekitar masjid, tepatnya warga RT 7 dan RT 8 Kelurahan Nunukan Selatan.
Baca juga: Warga Kampung Arab Tanjung Selor Dapat Sapi Kurban Bantuan Presiden RI, Panitia Sebar 400 Kupon
Menurut H Rahmat, Hari Raya Idul Adha bukan hanya soal penyembelihan hewan kurban, tetapi juga momentum mempererat hubungan antara pengurus masjid, jemaah, dan masyarakat sekitar.
“Harapan kami dengan adanya kurban ini semuanya bisa berbagi. Sebagai umat muslim, kami berharap silaturahmi antara pengurus masjid, masyarakat, dan jemaah yang ikut berkurban menjadi semakin kuat,” ungkapnya.
Ia menambahkan, ibadah kurban dalam Islam diperuntukkan bagi umat yang mampu dan tidak menjadi kewajiban yang dipaksakan.
“Dalam Islam, kurban itu bagi yang mampu, jadi tidak dipaksakan bagi yang tidak mampu. Tapi untuk pembagian, kami berharap semua masyarakat sekitar bisa menerima. Ini semua soal keikhlasan,” jelasnya.
Di akhir, H Rahmat berharap pemerintah dapat lebih memperhatikan masjid-masjid kecil di pelosok, khususnya dalam bantuan hewan kurban saat Iduladha.
“Harapan kami pemerintah bisa lebih memperhatikan masjid-masjid kecil di pelosok agar bisa diberikan bantuan hewan kurban,” tutupnya.
(*)
Penulis: Fatimah Majid