Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Jutaan jemaah calon haji ( CJH) dari seluruh dunia kini melaksanakan fase puncak haji 2026 yakni rangkaian ibadah Arafah-Muzdalifah-Mina (Armuzna), Rabu (27/5/2026)
Setelah melaksanakan rangkaian ibadah di Arafah pada 9 Dzulhijjah, jemaah haji bergerak ke Muzdalifah secara bertahap menjalani mabit (bermalam) dan mengumpulkan kerikil untuk lempar jumrah.
Memasuki tanggal 10 Zulhijah 1447 yang bertepatan (27/5/2026), jemaah bergerak menuju Mina untuk melakukan pelontaran Jumrah Aqabah, disusul dengan prosesi tahallul dan penyembelihan hewan kurban.
Khusus Kloter JKG 07 asa Bandar Lampung, jumlah jemaah yang dialihkan ke skema murur mengalami peningkatan mencapai 142 orang dari total 445 jemaah.
Ketua Kloter JKG 07 Bandar Lampung, Winardi mengungkapkan bahwa faktor kesehatan menjadi alasan utama perubahan data jemaah murur.
Baca juga: Menuju Wukuf di Arafah, Jemaah Haji Lampung Persiapkan Batin dan Fisik
"Data awal memang 113 jemaah, namun setelah melihat kondisi riil para lansia di lapangan, angkanya bertambah menjadi 142 jemaah yang kami arahkan untuk ikut skema murur," Unar Winardi lewat sambungan telepon.
Sebagai informasi, skema murur adalah sistem di mana jemaah lanjut usia (lansia), risiko tinggi (risti), maupun penyandang disabilitas hanya melintasi wilayah Muzdalifah di dalam bus pada malam hari tanpa turun dari kendaraan.
Kebijakan ini diambil demi keselamatan jiwa jemaah agar bus bisa langsung meluncur menuju tenda pemondokan di Mina.
Guna memastikan pergerakan ratusan jemaah ini tetap kondusif, manajemen petugas dibagi ke dalam dua tim kerja khusus sejak keberangkatan dari Arafah hingga kembali ke hotel pemondokan di Mekkah nanti.
"Jemaah murur diberangkatkan lebih awal di trip pertama mulai pukul 19.00 waktu setempat, di mana mereka akan dikawal ketat oleh Dokter Kloter dan Pembimbing Ibadah (Bimbad). Sementara sisanya, jemaah non-murur, didampingi oleh kami Petugas Haji Daerah (PHD)," urai Winardi.
Tidak hanya di fase Muzdalifah, pengaturan ketat juga dilakukan saat jemaah berada di Mina untuk melontar jamarat (ritual melemparkan batu ke tiang sebagai simbol mengusir godaan setan).
Petugas telah memetakan kepulangan jemaah menuju hotel di Makkah ke dalam dua pilihan masa tinggal (nafar).
"Mayoritas jemaah mengambil pilihan Nafar Awal, yaitu pilihan untuk meninggalkan Mina lebih cepat pada tanggal 12 Zulhijah sebelum matahari terbenam sehingga jemaah hanya menginap dua malam di Mina," kata Winardi.
Adapun 193 jemaah lainnya dijadwalkan akan mengambil skema Nafar Tsani Winardi.
Skema Nafar Tsani sendiri merupakan pilihan bagi jemaah untuk menetap dan melontar jumrah di Mina secara penuh sampai tanggal 13 Zulhijah (menginap tiga malam) sebelum akhirnya bertolak kembali ke hotel di Makkah.
"Untuk mengawal kedua kelompok nafar ini, formasi petugas kembali kami bagi menjadi dua tim agar seluruh pergerakan hingga kembali ke hotel berjalan dengan aman," pungkasnya.
Senada, Ketua JKG 21, Muhammad Haikal Ahra, mengubgkapka bahwa rombongan yang ia pimpin telag merampungkan rangkaian ibadah di Arafah.
"Alhamdulillah rangkaian ibadah di Arafah berjalan dengan penuh khitmad, selanjutnya jamaah di dorong di dorong ke Muzdalifah untuk mengambil kerikil yang akan digunakan saat lempar Junrah," Kata dia.
(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)