SURYA.CO.ID, SURABAYA - Geliat ekonomi menjelang Hari Raya Iduladha 2026 di Kota Surabaya menunjukkan tren positif yang signifikan, ditandai dengan lonjakan penjualan hewan kurban hingga mencapai 45 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pulihnya kepercayaan masyarakat pasca-terkendalinya wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), serta ketatnya pengawasan kesehatan ternak, menjadi kunci utama di balik meroketnya transaksi di sejumlah lapak pedagang.
Salah seorang pedagang kawakan asal Sumenep, Sudahnan, menjadi salah satu saksi hidup lonjakan ini. Ia mengungkapkan, bahwa animo masyarakat untuk berkurban tahun ini jauh lebih tinggi.
"Alhamdulillah, penjualan meningkat signifikan. Jika dibandingkan tahun kemarin, kenaikannya mencapai sekitar 45 persen," ujar Sudahnan saat ditemui SURYA.co.id di lapak dagangannya, di kawasan Surabaya, Rabu (27/5/2026).
Sudahnan menyebutkan, bahwa momentum puncak pembelian terjadi pada H-1 Iduladha, tepatnya pada Selasa (26/5/2026). Dalam satu hari tersebut, ia mampu melepas 15 ekor sapi ke tangan pembeli. Dari total 58 ekor sapi yang ia datangkan langsung dari Pulau Madura, hampir seluruhnya telah ludes terjual.
Sapi Madura sendiri dikenal sebagai primadona bagi warga Jawa Timur, khususnya Surabaya. Selain harganya yang kompetitif, sapi Madura memiliki kualitas karkas yang tinggi dan tulang yang relatif lebih kecil dibandingkan jenis lainnya.
Sudahnan yang sudah 10 tahun berjualan hewan kurban di Surabaya, menegaskan bahwa ia tidak berani menambah stok lagi meski permintaan masih ada.
"Kalau sudah habis ya selesai, saya tidak berani ambil risiko menambah stok di menit-menit terakhir," imbuhnya.
Kondisi kesehatan ternak menjadi faktor determinan tahun ini. Jika pada tahun 2025 lalu kekhawatiran akan virus PMK masih menghantui, tahun 2026 ini situasinya jauh lebih landai.
Sudahnan menerapkan standar perawatan ekstra untuk menjaga kepercayaan pelanggan tetap tinggi.
Salah satu rahasia unik Sudahnan adalah penyajian air minum matang bagi hewan-hewannya.
"Di sini, air minum sapi saya masak terlebih dahulu. Konsumen senang melihat sapi-sapi ini dirawat secara khusus dan bersih. Itu yang membuat mereka kembali lagi setiap tahun," ungkapnya.
Hal ini membuktikan, bahwa aspek Experience dalam pelayanan menjadi nilai tambah di tengah persaingan pedagang hewan kurban.
Untuk menjamin keamanan pangan asal hewan, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) melakukan langkah preventif yang masif.
Kepala DKPP Surabaya, Nanik Sukristina, menegaskan bahwa setiap hewan yang masuk ke Kota Pahlawan harus melalui filter kesehatan yang ketat.
Berdasarkan data DKPP, hingga H-1 Iduladha, tercatat ada:
"Pemeriksaan sudah kami lakukan menyeluruh. Tidak ada lagi temuan penyakit menular yang berbahaya. Jika ada hewan yang mengalami sakit ringan akibat kelelahan atau panas matahari, tim medis kami langsung memberikan pengobatan dan vitamin di lokasi," jelas Nanik.
Nanik juga mewajibkan setiap pedagang mengantongi Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari daerah asal.
SKKH merupakan dokumen vital atau 'paspor' kesehatan, yang menjamin bahwa ternak tersebut bebas dari penyakit zoonosis (penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia).
Keberhasilan Pemkot Surabaya dalam mengendalikan PMK dan mengoptimalkan pengawasan, dinilai menjadi faktor krusial yang menjaga stabilitas ekonomi sektor peternakan tahun ini. Masyarakat pun diimbau untuk tetap teliti saat membeli hewan kurban, dengan memastikan adanya tanda pemeriksaan kesehatan pada hewan tersebut.
Bagi Anda yang masih mencari hewan kurban, sangat disarankan untuk datang ke lapak yang telah memiliki stiker verifikasi dari DKPP Surabaya, guna menjamin kualitas ibadah dan keamanan konsumsi daging nantinya.