Kewalahan Dihantam Drone Hizbullah, Israel Akhirnya Andalkan Jaring Pertahanan
Eri Ariyanto May 27, 2026 05:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Serangan drone yang diduga dilancarkan oleh Hizbullah kembali menjadi tantangan serius bagi sistem pertahanan Israel di wilayah perbatasan utara.

Dalam beberapa waktu terakhir, intensitas serangan udara berbasis drone dilaporkan meningkat dan menyulitkan sistem deteksi konvensional.

Situasi ini membuat militer Israel harus mengadaptasi strategi pertahanan yang lebih berlapis dan fleksibel.

Salah satu langkah yang kini mencuri perhatian adalah penggunaan sistem penghalang tambahan yang disebut sebagai “jaring pertahanan”.

Teknologi ini diduga berfungsi untuk menghambat atau menangkap drone sebelum mencapai target strategis.

Langkah tersebut diambil setelah sejumlah insiden menunjukkan adanya kebocoran pertahanan udara yang tidak sepenuhnya berhasil mencegat drone kecil berkecepatan rendah.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa ancaman perang modern kini semakin kompleks dengan penggunaan perangkat nirawak berbiaya murah namun efektif.

Militer Israel pun disebut terus melakukan evaluasi cepat terhadap sistem anti-drone yang sudah ada sebelumnya.

Ketegangan di kawasan ini semakin meningkat seiring saling serang yang masih berlangsung dan belum menunjukkan tanda mereda.

Baca juga: Pernyataan Panas Pemimpin Iran Mojtaba Khamenei, Sebut Israel Dekati Hari Terakhirnya: Menyedihkan

Seperti diketahui, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendesak militernya segera menemukan solusi dalam menghadapi gelombang serangan drone peledak dari Hizbullah di Lebanon. 

Netanyahu secara terbuka menyebut serangan drone tersebut sebagai ancaman besar bagi negaranya.

Kekhawatiran ini kian memuncak setelah lebih dari 15 drone peledak milik Hezbollah dilaporkan kembali meledak di wilayah Israel pada Selasa (26/5/2026). 

Saluran media lokal Israel, Channel 12, melaporkan bahwa sebagian besar drone tersebut berhasil menghantam zona militer.

Menanggapi situasi tersebut, militer Israel dilaporkan masih terus berjuang keras untuk merumuskan respons yang efektif. 

Serangan drone Hizbullah menghancurkan iron dome Israel (Kanan), Serangan bom fosfor putih Israel (Kiri) (Hezbollah Military Media / Human Rights Watch)

Akibat kewalahan, tentara Israel sampai beralih ke sejumlah pemasok di beberapa negara Eropa untuk mempercepat pengiriman sistem pelindung dan peralatan.

Sebagai langkah darurat di lapangan, Israel telah memasang lebih dari 250.000 meter persegi jaring pelindung.

Israel juga sedang membeli tambahan 280.000 meter persegi jaring lagi, sebagaimana dilansir Anadolu Agency, Rabu (28/5/2026).

Meski divisi teknologi militer Israel terus mengupayakan berbagai inovasi baru untuk menangkal drone tersebut, para pejabat keamanan setempat mengakui bahwa hasil di lapangan masih belum memadai. 

Hingga saat ini, belum ada solusi akhir yang berhasil ditemukan.

Guna menekan ancaman tersebut, militer Israel sempat mengintensifkan operasinya di Lebanon selatan pada Selasa. 

Namun, upaya ini dinilai belum membuahkan hasil bagi warga sipil. 

Penduduk di permukiman Israel utara mengatakan bahwa operasi militer tersebut masih sangat terbatas dan sama sekali belum mengubah situasi keamanan di wilayah mereka.

Di sisi lain, Israel juga terpantau meningkatkan serangannya ke Lebanon secara tajam dalam beberapa jam terakhir. 

Berdasarkan data resmi, sejak Israel memperluas serangan ofensifnya ke Lebanon pada 2 Maret lalu, rangkaian serangan yang terjadi telah menewaskan hampir 3.200 orang.

Di samping itu, lebih dari 9.600 orang terluka serta memaksa lebih dari 1,6 juta orang mengungsi.

Militer Israel sendiri terus melancarkan gempuran harian ini meskipun gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat (AS) sebenarnya telah berlaku sejak 17 April dan kemudian diperpanjang hingga awal Juli.

(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.