TRIBUNJAMBI.COM - Polemik seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2026 menjadi sorotan publik.
Nama Cathlyn Yvaine Lesmana, peserta asal Kota Makassar, ramai diperbincangkan setelah disebut batal diberangkatkan sebagai wakil Sulsel ke tingkat nasional.
Keputusan tersebut memantik reaksi luas di media sosial. Banyak pihak mempertanyakan proses penilaian hingga muncul dugaan adanya ketidaktransparanan dalam tahapan seleksi.
Cathlyn sendiri dikenal sebagai pelajar dengan sederet prestasi akademik maupun non-akademik.
Ia merupakan siswi SMA asal Makassar yang mengikuti seleksi Paskibraka tingkat provinsi sebagai perwakilan resmi dari daerahnya.
Tak hanya aktif dalam kegiatan organisasi dan kepaskibrakaan, Cathlyn juga memiliki pencapaian di tingkat nasional hingga internasional.
Baca juga: Niat Cuci Usus Kurban di Bawah Jembatan, Juli Tewas Tenggelam Diduga Tak Bisa Berenang
Baca juga: Menkeu Purbaya Ngaku Tak Tahu Anggaran Sapi Kurban Prabowo Rp100 Miliar, Lempar ke Mensesneg
Pada 2024 lalu, ia berhasil meraih medali emas dalam ajang International Science and Invention Fair (ISIF), sebuah kompetisi internasional di bidang penelitian dan inovasi pelajar.
Selain itu, Cathlyn juga pernah mendapatkan penghargaan dalam Pekan Olimpiade Sains Nusantara (POSN) serta meraih medali perunggu di Senior High School Olympiad 2025.
Kemampuan bahasa asing juga menjadi nilai lebih yang dimilikinya. Cathlyn diketahui menguasai bahasa Inggris dan Mandarin.
Ia bahkan pernah mengikuti Mandarin Proficiency Championship Indonesia 2026 dan berhasil membawa pulang medali perunggu untuk kategori Level 3.
Di luar dunia akademik, Cathlyn aktif di bidang modeling. Melalui media sosial pribadinya, ia beberapa kali membagikan aktivitas catwalk dan pemotretan yang dijalaninya.
Tinggi badannya yang mencapai 170 sentimeter juga dianggap memenuhi kriteria ideal peserta Paskibraka tingkat nasional.
Polemik bermula setelah nama Cathlyn dikabarkan tidak lagi masuk dalam daftar peserta yang akan dikirim ke Jakarta.
Posisinya disebut digantikan peserta lain dari luar Kota Makassar.
Kondisi tersebut langsung menuai protes dari sejumlah pihak, termasuk kalangan Purna Paskibraka Indonesia (PPI) dan Duta Pancasila Paskibraka Indonesia (DPPI) Kota Makassar.
Ketua DPPI Kota Makassar, Yusuf A Bachtiar Mappiar, menilai proses seleksi berlangsung tidak terbuka.
Menurutnya, sejumlah tahapan penting, terutama pada sesi penilaian kepribadian dan pantukhir, dilakukan tanpa transparansi yang jelas kepada para pendamping peserta.
Ia juga menyoroti adanya dugaan penilaian subjektif yang muncul di tahap akhir seleksi.
“Harusnya penentuan berdasarkan nilai tes yang sudah dijalani peserta, bukan ada penilaian tambahan yang menimbulkan polemik,” ujarnya.
Selain itu, muncul pula isu bahwa kemampuan bahasa daerah menjadi salah satu pertimbangan dalam penilaian akhir.
Hal itu memicu perdebatan karena kemampuan bahasa daerah tidak tercantum sebagai indikator utama dalam seleksi Paskibraka tingkat pusat.
Hingga kini, polemik terkait pencoretan Cathlyn masih ramai dibahas di media sosial.
Banyak warganet meminta agar proses seleksi dilakukan secara profesional, objektif, dan terbuka agar tidak menimbulkan kecurigaan di tengah masyarakat.