Kenang-kenangan Ali Sastroamidjojo sebagai Duta Besar Indonesia Pertama di Washington Amerika
Moh. Habib Asyhad May 27, 2026 07:34 PM

Ali Sastroamidjojo adalah duta besar Indonesia pertama di Washington. Pengalamannya dia tuangkan dalam sebuah buku.

Tayang di rubrik Cukilan Buku Majalah Intisari edisi Agustus 1987 dengan judul "Memoar Dubes Pertama Indonesia di Washington"

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Judul aslinya adalah Milestones on My Journey, the Memoirs of Ali Sastroamidjojo, Indonesia Patriot and Political Leader, yang disunting oleh C.L.M. Penders. Presiden AS waktu itu adalah Harry S. Truman dan orang kedua di kedubes Dr. Sumitro Djojohadikusumo. Inilah memoir Ali Sastroamidjojo, duta besar Indonesia pertama di Washington, Amerika Serikat.

Sepulang dari upacara pengakuan kedaulatan RIS di Amsterdam, dalam perjalanan dengan pesawat dari Jakarta ke Yogya, Hatta berkata kepada saya, "Begitu tiba di Yogya, kau mesti bersiap-siap secepatnya untuk ke luar negeri lagi."

Saya sangat tercengang. "Ke mana dan untuk apa?" tanya saya.

"Ke Washington untuk menjadi dubes Indonesia," jawab Hatta.

Begitulah caranya saya menerima tugas sebagai dubes Indonesia pertama di Washington.

Mengarang sandi sendiri

Setelah dua hari beristirahat, saya bersiap-siap untuk berangkat ke Washington. Mula-mula saya meminta kepada Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim agar surat-surat kepercayaan saya disiapkan dan agar saya mendapat sejumlah staf.

Ternyata deplu hanya bisa memberi Darmanto, yaitu sekjen deplu. Dia pernah bekerja di AS sebagai pejabat pemerintah Belanda, tetapi pada masa revolusi fisik dia dibawa ke Indonesia dan 'menyeberang' ke pihak republik.

Sesudah mendapat petunjuk-petunjuk berharga dari Pak Salim, yang mempunyai banyak pengalaman dan dikenal sebagai diplomat Indonesia yang ulung, saya mendiskusikan tugas saya di Washington dengan Hatta. Dia hanya memberi saya satu instruksi, yaitu untuk merintis hubungan persahabatan antara AS dan Indonesia.

Hatta juga memberi saja cek sebesar 10.000 dolar untuk membayar keperluan- keperluan seperti gaji. Kalau dikurskan ke uang kami, 10.000 dolar banyak sekali waktu itu.

Hatta dan saya juga memutuskan sandi yang akan kami pakai dalam telegram-telegram yang isinya harus dirahasiakan. Kami masing-masing akan memegang sebuah buku sandi.

Maklum masa itu belum ada badan intel, sehingga kami harus mengarang sandi sendiri.

Akhirnya bulan Januari 1950 saya berangkat ke Washington bersama istri dan tiga anak kami. Darmanto dan istrinya pergi bersama kami juga.

Perjalanan dengan KLM ke AS makah waktu empat hari, sebab masa itu belum ada penerbangan langsung ke New York. Tanggal 31 Januari 1950, di tengah-tengah badai salju kami mendarat di Bandara La Guardia.

L.N. Palar (ketua Misi Tetap RI di PBB) bersama sejumlah stafnya menyambut kami. Langsung kami dibawa ke rumahnya di Long Island sambil diantar oleh dua polisi bersepeda motor. Kata Palar, hal itu memang merupakan bagian dari protokol untuk menyambut dubes asing.

Kira-kira seminggu lamanya kami tinggal di rumah Palar. Dia sedang menyiapkan masuknya Indonesia ke PBB.

Selama itu kami membeli pakaian yang perlu untuk istri, anak-anak dan saya sendiri. Kami banyak dibantu oleh Imam Pamujo dan istrinya.

Dia sudah lama berada di New York dan tahu di mana bisa membeli barang bermutu dengan harga tidak terlalu mahal. Saya selalu harus mengingat cek yang diberikan oleh Hatta kepada saya, yang menurut teman-teman di New York jumlahnya termasuk kecil. Karena itulah saya ingin berhemat.

Saya harus menunggu kedatangan Dr. Juanda di New York, sebab dia akan memberi keterangan kepada saya perihal pinjaman untuk Indonesia dari Exim Bank di Washington. Pengaturannya akan diserahkan kepada saya.

Palar mempergunakan kesempatan itu untuk memperkenalkan saya kepada sejumlah delegasi PBB. Saya melakukan kunjungan kehormatan kepada Carlos Romulo, ketua misi tetap Filipina untuk PBB yang menerima kami dengan sangat ramah di kantornya.

Sekilas kantor itu kelihatan mewah bagi saya, sangat berbeda dengan kantor Palar yang sederhana sekali. Kami diminta menunggu dulu di ruang tamu, dijaga oleh dua orang pengawal berseragam. Padahal kalau ingin bertemu dengan Palar, tinggal ketuk saja pintu kantornya, lalu masuk.

Tanggal 6 Februari 1950, setelah memberi tahu Deplu AS, kami berangkat dengan kereta ekspres malam ke Washington. Kedatangan kami disambut oleh Divisi Protokol Deplu AS.

Yang mencengangkan ialah E.W. van Kleffens, dubes Belanda di Washington yang tahun 1948 menjadi lawan saya dalam debat tentang Perjanjian Renville di Dewan Keamanan, ternyata ikut pula menyambut. Saya tidak tahu dari mana dia bisa mengetahui kedatangan saya ke Washington. Dia menjabat tangan saya dengan sikap sangat bersahabat.

Dia menunjukkan sikap seperti itu, mungkin bukan semata-mata karena dia orang yang luwes, yang yakin bahwa yang sudah lewat biarlah lewat, tetapi juga karena saya dubes Indonesia di Washington dan RIS merupakan mitra Belanda dalam Uni Belanda-Indonesia.

Takut kehabisan uang

Di stasiun itu saya ditunggu sebuah limusin merk Cadillac, lengkap dengan sopir Amerika yang berseragam. Kami diantar ke Shoreham Hotel, tempat teman-teman sudah memesankan kamar bagi kami.

Kamar-kamar itu mungkin lebih tepat disebut sebagai apartemen karena besar dan mewahnya. Peralatannya lengkap, termasuk kamar tamu, kamar makan dan dapur.

"Buat apa apartemen semewah ini?" kata saya menyesali teman-teman. Mereka menjelaskan bahwa duta besar di Washington harus memperlihatkan status dan gengsi dirinya maupun negaranya. Di AS, terutama Washington, kemegahan dipakai sebagai tolok ukur status dan gengsi.

Bagi kami yang baru datang dari Yogya, yang terbiasa hidup dalam kekurangan, komentar teman-teman itu rasanya aneh. Apalagi cek Hatta selalu teringat terus.

Uang bekal sudah menyurut, karena sudah terpakai di New York, padahal sewa apartemen seperti itu tentu sangat mahal. Belum lagi saya harus membeli mobil buat dinas.

Dr. Sumitro Djojohadikusumo, yang ditunjuk sebagai orang kedua di kedubes tetapi masih tinggal di New York, menyatakan saya tidak perlu pusing-pusing memikirkan soal keuangan. Kalau perlu kawan-kawan di New York akan mengaturnya.

"Kau tidak usah repot memikirkan mobil buat kedubes," katanya. "Sebelum kau datang, kami sudah memesan dua buah Cadillac." Saya terperanjat dan menyatakan sebaiknya dibatalkan saja, karena terlalu mahal dan terlalu mewah.

Sumitro cuma tersenyum dan menjawab bahwa pembatalan tidak menguntungkan. Kami harus membayar ganti rugi dan martabat negara kita akan merosot.

Karena saya masih buta dalam hal-hal seperti itu, saya serahkan saja urusan itu kepada Sumitro. Saya pun memulai tugas saya sebagai diplomat. Saya masih sangat hijau.

Gara-gara petunjuk yang ketinggalan zaman

Sebenarnya sejak ditunjuk menjadi dubes saya sudah mempelajari dengan saksama semua aspek diplomasi dan cara-cara diplomat harus bersikap lewat buku-buku.

Buku pegangan utama saya adalah Guide to Diplomatic Practice karangan Satow. Saya tidak tahu kalau buku itu sudah ketinggalan zaman. Sejumlah aturan tidak dipakai lagi atau sudah diubah sejak PD II berakhir.

Hal itu baru saya sadari ketika akan menyerahkan surat-surat kepercayaan saya kepada Presiden AS Harry S. Truman.

Beberapa hari sebelumnya saya berkunjung ke Gedung Putih untuk menemui Menlu Dean Acheson. Orangnya jangkung, tampan dan berkumis lebat. Sikapnya sangat teratur dan efisien sekali.

Caranya berbicara sangat tepat, tetapi bisa menunjukkan humor. Mungkin cara bicaranya memang sudah begitu, karena tadinya dia pengacara terkenal yang mahir bersilat lidah.

Dia menerima saya dengan ramah. Walaupun pertemuan kami cuma setengah jam, namun banyak masalah tentang Indonesia tersentuh. Rupanya Acheson sudah mendapat keterangan dari para pembantunya di Indonesian Desk di Deplu AS.

Akibatnya dia tahu masalah-masalah yang dihadapi Indonesia saat itu.

Pertemuan pertama itu berlangsung dengan lancar dan kemudian terbukti banyak gunanya. Kunjungan itu maksudnya untuk memperkenalkan diri saya sebagai dubes Indonesia, untuk menyampaikan salinan surat-surat kepercayaan dan meminta menlu mengatur kapan surat-surat kepercayaan bisa diserahkan kepada presiden.

Kira-kira seminggu kemudian, kepala Divisi Protokol dari deplu memberi tahu bahwa sepuluh hari lagi upacara penyerahan surat-surat kepercayaan akan diadakan.

Menurut buku Satow, dubes yang menyerahkan surat-surat kepercayaan harus ditemani oleh anggota-anggota senior dari stafnya. Untungnya hal itu saya tanyakan kepada kepala protokol.

Pemerintah AS sudah tidak mengikuti peraturan-peraturan Satow itu, jawabnya. Pakaian saya pun boleh setelan jas biasa, asal warnanya gelap.

Kepala protokol meminta saya menyerahkan pidato saya dua tiga hari sebelumnya. Teks pidato Presiden Truman akan diserahkan juga kepada saya sebelum hari upacara.

Kira-kira pukul 10.00 pada hari yang ditentukan, kepala protokol menjemput saya dari Shoreham Hotel untuk pergi ke Gedung Putih.

Kami langsung menuju ke kantor presiden. Saya diminta menunggu sebentar di ruang tamu, tempat banyak wartawan dan juru potret hadir. Tadinya saya kira persiapan untuk upacara masih belum selesai.

Ketika saya meminta kepala protokol untuk memberitahu saya kalau saatnya tiba untuk membacakan pidato, dia menjawab, "Oh, tidak perlu, karena presiden sudah membaca pidato Anda dan Anda sudah membaca pidatonya. Kalau nanti saya sudah memperkenalkan Anda kepada presiden, saya akan meninggalkan Anda berdua. Saya sudah menyerahkan salinan pidato Anda berdua kepada pers. Mereka akan memuatnya entah sore ini entah esok pagi.”

Saya tercengang-cengang. Soalnya, menurut Satow, akan ada upacara khidmat. Dubes harus memeriksa barisan kehormatan dan lagu kebangsaan kedua negara akan dimainkan. Ternyata semuanya tidak ada.

Akhirnya saya diminta memasuki kantor presiden. Setelah mengumumkan kedatangan saya kepada presiden, kepala protokol meninggalkan kami berdua. Presiden menghampiri saya dan menjabat tangan saya dengan hangat.

"Halo, Pak Duta Besar, apa kabar?" sapanya. "Silakan duduk di sini, dekat meja saya dan mari kita bercakap-cakap." Dalam suasana tidak formal begini, saya merasa santai. Rasanya presiden seperti sudah mengenal saya lama.

Saya menyerahkan surat-surat kepercayaan saya dan Truman membacanya sepintas lalu sebelum meletakkannya di mejanya. Dia lebih memberi perhatian pada percakapan tentang Indonesia, Presiden Soekarno dan PM Hatta.

Saya mendapat kesan Truman orang yang sederhana, sama sekali tidak memberi gambaran sebagai pemimpin tertinggi suatu bangsa besar yang memerintahkan bom-bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki.

Setelah bercakap-cakap selama kira-kira lima belas menit, 'upacara' penyerahan surat-surat kepercayaan pun selesai. Saat saya muncul dari kantor presiden, para wartawan mengerumuni saya untuk mendapat keterangan lebih jauh dari hal-hal yang tercantum dalam teks pidato kami.

Saya cuma berkata percakapan kami berlangsung dalam suasana ramah tamah. Saya tidak siap memberi informasi lebih lanjut.

Mereka merasa sangat kecewa, sebab mereka ingin tahu apakah dubes dari negara pertama yang baru berhasil menang melawan kolonialisme dijanjikan pinjaman atau bantuan keuangan oleh Truman.

Ternyata anak Oei Tiong Ham

Kedudukan saya sebagai dubes Indonesia di Washington kini sudah resmi. Saya pun mulai melaksanakan tugas-tugas saya.

Mula-mula saya mengirim surat kepada misi-misi asing di Washington untuk memperkenalkan diri. Saat itu kira-kira cuma ada lima puluh misi, kebanyakan berbentuk kedutaan. Surat itu kemudian diikuti dengan. kunjungan.

Kunjungan pertama saya adalah kepada ketua korps diplomatik, yang waktu itu dijabat oleh Wilhelm Munthe de Morgenstierne, dubes Norwegia. Umurnya sudah lanjut. Dia sudah lebih dari 25 tahun berada di Washington dan memulai kariernya sebagai atase, yaitu peringkat paling bawah dalam servis diplomatik.

Akibatnya dia tahu banyak tentang korps diplomatik di Washington. Dia meminta agar saya menghubunginya, kalau saya memerlukan keterangan tentang kehidupan diplomatik di kota itu.

Selama kira-kira lima bulan saya tidak henti-hentinya melakukan kunjungan kehormatan ke sejumlah kedutaan dan perwakilan asing. Saya pilih misi yang penting bagi kebutuhan dan kepentingan Indonesia, seperti Inggris, Prancis, Republik Cina, Uni Soviet serta sejumlah negara Asia, Arab dan Amerika Latin.

Kesempatan itu saya gunakan untuk memperkenalkan sebanyak-banyaknya negara dan bangsa saya, yang waktu itu belum banyak mereka kenal.

Dubes negara 'empat besar' pertama yang saya kunjungi ialah dubes Inggris. Gedungnya di Massachusetts Avenue sangat besar, sesuai dengan kedudukan negaranya saat itu. Gedung itu dihiasi banyak lukisan yang indah.

Sir Oliver Sherwell Franks menerima saya di kantornya yang besar. Franks berbicara dengan hormat dan ramah, namun terasa dia menjaga jarak sebagai wakil dari negara yang gengsinya lebih besar dan lebih penting dari negara yang saya wakili. Akibatnya percakapan terasa kaku dan kami cuma berbasa-basi.

Kesan yang sangat berbeda saya peroleh dari Dubes Soviet Alexander S. Panyushkin. Saya diterima di ruang tamu yang walaupun perlengkapannya rapi dan mahal kelihatan agak suram.

Panyushkin memasuki ruangan ditemani seorang penerjemah. Percakapan berlangsung lambat, sebab penerjemah harus merusiakan bahasa Inggris saya dan menginggriskan bahasa Rusia Panyushkin.

Saya tidak tahu mengapa dalam kunjungan tak resmi itu Panyushkin bersikeras berbahasa Rusia. Mungkin bahasa Inggrisnya kurang lancar. Saya mendapat kesan dia orang yang serius.

Tak sekali pun dia pernah tertawa atau tersenyum. Hal-hal yang dia singgung seperti situasi ekonomi Indonesia dan masalah keamanan di Indonesia memang jelas tidak lucu.

Jadi setelah percakapan berlangsung 45 menit saya minta diri ‘untuk menghadiri pertemuan lain yang sudah diatur sebelumnya'. Pada saat itu RIS belum mempunyai hubungan diplomatik dengan Uni Soviet. Mungkin karena itulah pertemuan pertama saya dengan dubes Soviet berlangsung kaku.

Pertemuan saya dengan Dubes Republik Cina Dr. V.K. Wellington Koo, berlangsung dalam suasana yang lebih baik. Walaupun Indonesia belum mempunyai hubungan diplomatik dengan Cina, Dr. Koo menaruh perhatian besar pada Indonesia.

Kemudian saya baru tahu bahwa istrinya berasal dari Indonesia, yaitu putri Oei Tiong Ham, seorang pengusaha dan jutawan dari Semarang. Kesan pertama saya dari pertemuan pertama itu ialah Koo seorang diplomat terampil dan intelektual Cina generasi lama yang mendapat pendidikan di Barat.

Sayang sekali hubungan kami tidak berlangsung lama. Beberapa bulan kemudian pemerintah Indonesia mengakui pemerintah baru di Cina yang dipimpin oleh Mao Tse-tung dan memutuskan hubungan dengan pemerintah Cina yang dipimpin oleh Chiang Kai-shek.

Hal itu menimbulkan situasi yang kikuk, karena kami sering bertemu di resepsi-resepsi yang merupakan bagian penting dalam kehidupan diplomatik. Sekali seorang dubes yang tidak mengetahui hubungan diplomatik antara Indonesia dan Cina Nasionalis mengundang istri saya dan saya maupun Nyonya dan Dr. Wellington Koo.

Ny. Koo ditempatkan di sebelah saya di meja makan. Walaupun saya berusaha untuk bercakap-cakap dengan wajar dengan Ny. Koo, namun saya bisa melihat dan bahkan merasakan sikap kurang senangnya.

Tidak menjawab berarti tidak sopan, namun bercakap-cakap dengan wakil dari negara yang baru saja mengakui musuhnya tentu juga tidak pantas. Kekikukan kami terasa oleh hadirin, termasuk oleh tuan rumah.

Sejak itu kalau kami diundang ke resepsi, kami selalu bertanya dulu apakah suami-istri Dr. Koo diundang juga atau tidak. Kalau mereka hadir, saya mencari alasan untuk tidak hadir. Situasi semacam itu memang sering terjadi dalam kehidupan diplomatik.

Jadi sahabat van Royen

Hubungan saya dengan rekan-rekan dubes dari negara-negara Afrika dan Asia lain sangat baik. Saat itu hanya ada dua puluh misi dari negara-negara itu.

Dubes Nepal bukan cuma bertugas sebagai dubes di Washington, tetapi juga di London. Setiap bulan kami mengadakan pertemuan yang dilaksanakan bergilir di kediaman kami. Dubes paling terkemuka dari negara Asia-Afrika saat itu ialah Ny. Vijaya Lakshmi Pandit, adik PM Jawaharlal Nehru.

Ny. Pandit ialah wanita Asia pertama yang memangku jabatan dubes. Mula-mula dia bertugas di Moskow. Tahun 1954 dia terpilih sebagai ketua Dewan Umum PBB.

Hubungan antara Kedubes India dan Indonesia sangat baik, karena India membantu Indonesia semasa revolusi. Pertemuan bulanan itu sering dihadiri oleh ketua-ketua misi dari India, Birma, Sri Lanka, Mesir, Iran, Irak, Pakistan, Arab Saudi, Suriah, Muangthai, dan Indonesia.

Masa itu iklim politik di Washington masih sangat dipengaruhi oleh perang dingin antara AS dan US. Ada negara Asia dan Afrika yang berpihak ke satu blok, ada pula yang berpihak ke blok lain.

Namun, ada pula yang tidak berpihak ke blok mana-mana. Indonesia yang menamakan sikap itu sebagai 'kebijaksanaan luar negeri yang bebas aktif'.

India menamakannya 'kebijaksanaan netral aktif. Hampir semua negara yang menghadiri pertemuan bulanan kami termasuk menganut kebijaksanaan non-aligned ini.

Namun, karena banyak dari kami sering harus berhati-hati dalam diskusi, supaya gagasan-gagasan yang kami kemukakan tidak mengikat negara kami, lantas banyak yang merasa pertemuan itu kurang bermanfaat untuk memupuk saling pengertian. Akibatnya pertemuan tak resmi itu akhirnya tak dilanjutkan. Hal itu patut disayangkan.

Saya sendiri merasa mendapat banyak manfaat. Hubungan pribadi saya dengan beberapa dubes Asia-Afrika menjadi sangat akrab. Jika ada hal-hal yang patut diketahui oleh sesama negara Asia-Afrika yang erat hubungannya itu, kami segera saling memberi tahu.

Hubungan saya dengan dubes Arab Saudi begitu erat, sehingga kami saling mengunjungi rumah masing-masing. Saya dipilih sebagai wakil ketua komite pengawas pembangunan sebuah masjid besar di Washington, yang juga akan berfungsi sebagai pusat kebudayaan Islam di AS.

Saya juga sangat akrab dengan Pangeran Wam Waithayakon dari Muangthai. Persahabatan ini disambung lagi, ketika pangeran itu menghadiri Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 di Bandung.

Para dubes Asia yang paling dekat dengan saya ialah dubes Birma, Sri Lanka, Pakistan dan Mesir. Kalau Dubes Mohammad Kamil Abdul Rahim dari Mesir (yang masih diperintah Raja Farouk) mengundang tamu-tamu penting dari dunia Arab dan Islam, pasti saya diundang.

Jadi saya juga bertemu dengan Dr. Mussadiq yang waktu itu menjadi PM Iran. Mussadiq yang radikal itu menasionalisasi Anglo-Iranian Oil Company. Namun, orangnya sendiri lemah lembut.

Masalah-masalah politik dibicarakannya dalam bahasa Prancis yang begitu halus, sehingga memberi kesan bahwa dia itu intelektual yang menaruh perhatian aktif terhadap masalah sosial dan kebudayaan.

Kata orang, dia itu sangat emosional dan sering keluar air mata kalau pidato, karena tak dapat mengekang perasaannya.

Seorang dubes Barat yang sangat baik hubungannya dengan saya ialah Dubes Belanda Dr. J.H. van Royen, yang menggantikan van Kleffens. Waktu itu Indonesia dan Belanda masih terikat dalam Uni Belanda-Indonesia.

Ketika Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard melakukan kunjungan kenegaraan ke Washington, Dubes van Royen dan istrinya mengadakan resepsi untuk menghormati ratu. Wapres AS diundang juga.

Anggota korps diplomatik yang diundang cuma kepala korps diplomatik Morgenstierne dan saya bersama istri. Saya katakan kepada van Royen bahwa saya enggan datang kalau undangan itu didasarkan atas politik Uni Belanda-Indonesia, karena masa itu di Indonesia sudah timbul ketidakpuasan atas Uni Belanda-Indonesia.

Undangan itu bukan berdasarkan pertimbangan politik, tetapi atas dasar persahabatan antara dia dan saya, katanya.

Bung Hatta kehilangan buku sandi

Mula-mula Kedubes Indonesia bertempat di gedung bekas perwakilan dagang Hindia Belanda, yang berdasarkan Konferensi Meja Bundar diserahkan kepada kami. Tentu saja banyak karyawan kantor perwakilan dagang itu orang Belanda selain sejumlah juru ketik dan sekretaris Amerika.

Ternyata orang-orang Belanda itu menunjukkan loyalitas kepada kami, sebab tak seorang pun minta berhenti. Saya meminta Darmanto, sekretaris pertama, mengurusi kantor.

Sumitro yang memegang jabatan sebagai envoy masih terus sibuk di New York mengurusi peralihan Misi Perdagangan Hindia Belanda. Tak lama kemudian Sumitro yang hanya sempat sekali-sekali saja ke Washington kembali ke Indonesia dan digantikan oleh Imam Pamujo. Karena Imam Pamujo berkewarganegaraan AS, dia cuma bisa memegang jabatan kehormatan.

Sejumlah pejabat Indonesia tiba, antara lain Sudarto Sastrosatomo yang pernah bekerja di kantor L.N. Palar di New York, Suwanto yang tadinya bekerja di Universitas Yale, Max Maramis yang dikirim dari Jakarta oleh Deplu. Deplu saat itu belum terorganisasi dengan baik, sehingga saya selalu minta persetujuan dari Hatta yang menjadi pejabat menlu.

Saya juga mempekerjakan orang-orang Indonesia di AS yang dulu bekerja di kapal-kapal Belanda, tetapi begitu mendengar Indonesia merdeka lantas meninggalkan kapal di pelabuhan-pelabuhan AS dan di sana ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Dalam waktu dua bulan uang pemberian PM Hatta habis. Setelah uang bekal hampir habis, saya mengirim telegram kepada Hatta, memakai sandi yang dulu kami setujui bersama.

Lebih dari sepuluh hari berlalu, jawaban tidak datang. Hal itu bertentangan dengan kebiasaan Hatta yang sangat tertib dan cermat.

Jadi saya mengirim telegram lagi, sekali ini bukan dengan kata-kata sandi. Jawabannya tiba bukan dalam kata-kata sandi juga. Isinya pendek dan lucu. "Telegrammu tiba, tetapi buku sandi saya hilang. Harap ulangi isi telegrammu tanpa sandi." Peristiwa itu sering menjadi bahan gurauan di antara kami.

Publisitas besar gara-gara masakan Indonesia

Sesudah kedubes berjalan dengan lancar, saya mulai mendekati Deplu AS untuk membicarakan hubungan bilateral antara AS dan Indonesia, terutama mengenai keuangan dan ekonomi. Kami berhasil mendapat pinjaman 100 juta dolar lewat Exim Bank.

Pinjaman itu bisa dipercepat berkat bantuan dubes pertama AS di Jakarta, Merle Cochran.

Kami membicarakan juga perihal ekspor bahan mentah dari Indonesia dan pembelian mesin-mesin dari AS.

Sementara itu kedubes kami sudah pindah ke 2523 Massachusetts Avenue, yaitu jalan tempat kedutaan-kedutaan. Walaupun gedung itu tampak kecil dibandingkan kedubes-kedubes yang menjadi tetangganya, namun memenuhi kebutuhan kami dan cukup pantas untuk negara kami.

Keluarga saya sendiri setelah delapan bulan di Shoreham Hotel bisa pindah ke 2700 Tilden Street. Saya minta selidiki dulu apakah tetangga-tetangga 'daerah kulit putih' itu tidak keberatan, karena konon dubes Ethiopia ditolak di sana.

Ternyata mereka tidak keberatan. Saya tidak mengerti mengapa dubes Ethiopia ditolak, sebab walaupun kulitnya hitam, rakyat negerinya sudah menunjukkan kepahlawanan melawan tentara Mussolini.

Hubungan saya dengan para pejabat tinggi Deplu AS boleh dikatakan sangat baik, sehingga bukan hanya masalah perdagangan, tetapi masalah politik pun bisa ditangani dengan lancar. Resepsi-resepsi kami, termasuk hari kemerdekaan, selalu dihadiri para pejabat tinggi AS, termasuk deplu dan sejumlah senator.

Ketika kesenian Bali di bawah Pak Madera untuk pertama kalinya mengadakan pertunjukan-pertunjukan di Washington, AS, semua ketua misi dan istri mereka datang memenuhi undangan kami, termasuk Jenderal Omar N. Bradley.

Tanggal 17 Agustus 1950 dirayakan di hotel terbesar di Washington, Mayflower. Istri saya memberi ciri autentik pada perayaan itu dengan menyajikan masakan Indonesia, sedangkan putri saya, Sawitri, menarikan tari serimpi. Perayaan itu mendapat publisitas besar.

Kembali ke Indonesia

Saya mendapat kesempatan menyaksikan dari dekat pertikaian Presiden Truman dengan Jenderal Douglas MacArthur yang mengguncangkan masyarakat AS. Kalau dalam hal ini saya cuma orang luar, maka dalam perjanjian perdamaian antara AS dengan Jepang saya memainkan peranan aktif.

AS dan Inggris yang mengambil inisiatif untuk melakukan persetujuan perdamaian multilateral dengan Jepang, menganggap Indonesia mempunyai kepentingan langsung. John Foster Dulles ditugasi menangani perjanjian damai itu.

Kata Dulles, AS sudah mengajukan sejumlah usulan untuk perjanjian damai dengan Jepang, yang akan diajukan kepada anggota-anggota Sekutu yang lain. Indonesia dianggap sebagai salah satu bagian dari Sekutu, karena pernah dijajah Jepang pada PD II.

Dia memberi saya memorandum rahasia berisi sejumlah usulan untuk dikirimkan ke Jakarta dan pemerintah Indonesia dimintanya memberi kabar secepat mungkin kepadanya mengenai pandangan Indonesia.

Pendapat Indonesia akan dipertimbangkan dan diserasikan dengan pendapat para anggota Sekutu lain yang sudah atau akan dihubungi dengan cara yang sama. Ketika itu menlu Indonesia adalah Subardjo.

Pada bulan November 1952 Jenderal Eisenhower menang dengan meyakinkan dalam kampanye pemilihan presiden. Saya tidak sempat lama mengamati dari dekat perkembangan politik dan strategi pemerintah Eisenhower, sebab tanggal 6 Agustus 1953 saya harus kembali ke Indonesia untuk memangku jabatan baru sebagai Perdana Menteri.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.