2 WNI Diduga Palsukan Riset saat Konferensi di Denmark, Kemendiktisaintek & UNY Lakukan Penyelidikan
Whiesa Daniswara May 27, 2026 07:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Dunia pendidikan Indonesia tengah disorot setelah viralnya dugaan dua WNI bernama Rifaldy Fajar dan Prihantini memalsukan hasil risetnya saat mengikuti konferensi ilmiah di Copenhagen, Denmark.

Adapun sosok yang pertama kali memviralkan yakni Wa Ode Dwi Daningrat melalui akun Instagram pribadinya pada Senin (25/5/2026).

Sosok yang akrab disapa Dwi ini merupakan salah satu peserta konferensi tersebut dan berprofesi sebagai peneliti di bidang clinical medicine di University of Oxford.

Sementara, konferensi tersebut bernama International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseas (ISPPD) 2026 dan berlangsung pada 17-21 Mei 2026.

ISPPD merupakan forum konferensi ilmiah global dengan fokus utama di bidang penumonia dan penyakit penumokokal. Forum ini pun dihadiri oleh ribuan ilmuwan hingga peneliti kesehatan yang berasal dari berbagai negara.

Baca juga: Jadi Tempat Edukasi, Balai Ternak di Lampung Jadi Rujukan Riset dan Magang Mahasiswa

Dwi pun membeberkan beberapa kejanggalan terkait hasil riset yang dipresentasikan oleh Rifaldy dan Prihantini.

Contohnya terkait 19 abstrak yang dipamerkan dalam forum tersebut. Ia menilai tidak masuk akal abstrak sebanyak itu bisa dibuat dalam waktu singkat. 

Dwi lantas menduga bahwa abstrak itu dibuat dengan menggunakan artificial intelligence (AI).

Dugaannya itu membuat dirinya menilai bahwa abstrak itu berujung tidak akurat dan mengandung fabrikasi data.

Tentang kasus ini, ternyata sudah menjadi atensi pemerintah Indonesia, khususnya Kemendiktisaintek.

Bahkan, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) turut melakukan investigasi tersendiri lantaran ada isu bahwa Rifaldy dan Prihantini merupakan alumni dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).

Mendiktisaintek: Rifaldy dan Prihantini Bukan Dosen atau Peneliti Aktif

Mendiktisaintek Brian Yuliarto menyebut bahwa Rifaldy dan Prihantini bukan merupakan dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia.

"Berdasarkan informasi awal yang kami peroleh, pihak-pihak yang disebut dalam kasus ini tidak terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia," kata Brian dalam keterangannya, Rabu (27/5/2026).

Kendati demikian, Brian menegaskan kasus ini tetap menjadi perhatian pihaknya karena bisa berdampak terhadap persepsi internasional terkait ekosistem riset di Indonesia.

Dia mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan fakta-fakta sebenarnya terkait kasus yang viral ini.

Dalam penyelidikan yang telah dilakukan, Kemendiktisaintek akan melakukan pendalaman terkait status mereka hingga keterkaitannya dengan institusi pendidikan tinggi atau lembaga di Indonesia.

"Kami memahami bahwa kasus seperti ini dikhawatirkan dapat berdampak pada persepsi internasional terhadap integritas peneliti Indonesia. Karena itu, integritas akademik harus menjadi fondasi utama ekosistem pendidikan tinggi dan riset kita," ujarnya.

Baca juga: Perkuat Hilirisasi, Arsari Tambang akan Bangun Pusat Riset Timah dan REE di Bangka

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa praktik fabrikasi data, falsifikasi, hingga penyalahgunaan afiliasi akademik tidak dapat dibenarkan dalam dunia penelitian.

Menurutnya, Indonesia memiliki banyak peneliti, dosen, mahasiswa, dan inovator yang bekerja secara profesional serta menjunjung tinggi standar etik dan integritas ilmiah.

"Kasus yang melibatkan segelintir pihak tidak boleh menutupi capaian dan kerja keras komunitas ilmiah Indonesia secara keseluruhan," katanya.

Brian juga menekankan Indonesia memiliki mekanisme pengawasan integritas riset yang melibatkan perguruan tinggi, komite etik, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), sistem penjaminan mutu akademik.

Hingga mekanisme pemantauan dan evaluasi dari Kemdiktisaintek maupun Badan Riset dan Inovasi Nasional sesuai kewenangannya.

Ia menjelaskan penelitian yang dilakukan dosen dan peneliti di Indonesia berada dalam koridor pemantauan berkala untuk menjaga mutu hasil penelitian.

"Dengan keseluruhan mekanisme tersebut, validitas data, mutu riset, dan integritas publikasi ilmiah diharapkan dapat tetap terjaga," ujar Brian.

UNY Turut Lakukan Investigasi

Pihak UNY pun buka suara terkait isu bahwa Rifaldy dan Prihantini merupakan alumni dari kampus tersebut.

Wakil Rektor Bidang Akademik UNY, Nur Hidayanto Pancoro Setyo Putro, menuturkan bahwa dua nama tersebut ditemukan dalam basis data alumni.

Hanya saja, ia belum bisa memastikan apakah mereka merupakan alumni UNY.

“Kalau di database kami, ada dua nama yang sama dengan dua orang yang sedang viral tersebut. Ini masih kami dalami karena data yang digunakan saat publikasi berganti-ganti dan tidak ada nama departemen atau prodi tersebut di UNY,” kata Nur ketika dihubungi Tribunnews.com, Rabu (27/5/2026).

Nur menyebut pihaknya telah menghubugi dua alumni yang namanya dikaitkan dalam kasus dugaan riset palsu ini.

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan, ada alumni bernama Rifaldy dan Prihanti yang tercatat lulus dari FMIPA UNY.

“Saat ini kami meminta teman-teman dosen dari FMIPA untuk reach out dua nama alumni yang ada di database kami. Karena memang sosmed beliau berdua sepertinya tidak bisa dikontak juga,” ujarnya.

Baca juga: Dari Riset Penyembuhan Luka, Ilmuwan Tak Sengaja Temukan Kandidat Obat Kebotakan

Nur mengungkapkan pihaknya telah berhasil menghubungi salah satu nama yang disebut yakni Prihantini.

Dia mengatakan Prihantini akan melakukan klarifikasi melalui akun media sosial pribadinya. Namun, sambung Nur, sosok Rifaldy belum berhasil untuk dihubungi.

“Kami berhasil menghubungi Prihantini, responsnya nggih akan ada klarifikasi di sosmed. Sepertinya nomor HP-nya dibanjiri pesan juga,” jelasnya.

Nur menjelaskan nama Rifaldy tercatat sebagai angkatan 2014 FMIPA dan dinyatakan lulus tiga tahun setelahnya.

Sementara, nama Prihantini tercatat merupakan lulusan tahun 2018. Ia masuk sebagai mahasiswa FMIPA UNY pada tahun 2015.

Terkait sanksi jika terbukti melakukan pemalsuan riset, Nur mengungkapkan hal tersebut masih perlu untuk didiskusikan dengan pihak-pihak di internal UNY.

“Intinya, jika benar keduanya alumni, perlu kami diskusikan dengan pimpinan, komite etik dan pihak terkait untuk mengambil langkah selanjutnya,” pungkasnya.

(Tribunnews.com/Yohanes Liestyo Poerwoto/Fahdi Fahlevi)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.