BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN- HASIL Tes Kompetensi Akademik (TKA) tingkat SD dan SMP belakangan ini menjadi perhatian banyak pihak. TKA sebenarnya adalah cerminan bagaimana proses pendidikan berlangsung dan bagaimana anak didik belajar di sekolah.
Pemerhati Pendidikan dari ULM, Muhammad Yamin mengatakan karena dihubungkan dengan tes akademik, tentu yang diuji adalah mata pelajaran seperti Bahasa Indonesia, Matematika, dan beberapa mata pelajaran lain yang memang masuk dalam TKA.
Namun ketika hasilnya dianggap rendah, maka yang perlu kita diskusikan terlebih dahulu adalah apakah soal-soal dalam TKA memang sesuai dengan indikator pembelajaran yang dipelajari siswa di sekolah.
Saya meyakini guru sudah melaksanakan proses belajar dengan baik. Guru sudah menjalankan aktivitas pendidikan di kelas sesuai rencana pembelajaran setiap semester.
Baca juga: Hasil TKA SD-SMP Kalsel di Atas Nasional, Nilai Matematika Siswa SMP 40,77
Baca juga: Menanti Nakhoda ULM 2026, Tantangan IKU Berbasis Dampak dan Ironi Kesejahteraan Dosen
Setiap topik yang diajarkan kepada siswa tentu sudah disesuaikan dengan tujuan pembelajaran.
Karena itu, yang perlu dipertanyakan adalah apakah tes akademik ini benar-benar mencerminkan mutu belajar siswa? Apakah soal-soal dalam TKA memang sesuai dengan indikator pembelajaran yang selama ini dipelajari siswa SD dan SMP?
Kalau memang sesuai, berarti memang ada persoalan dalam proses belajar yang harus dievaluasi bersama. Tetapi kalau ternyata pertanyaan dalam TKA tidak sesuai atau terlalu sulit bagi siswa, berarti ada masalah pada komponen soal dalam TKA itu sendiri.
Asumsi saya, pihak yang membuat soal kemungkinan tidak sepenuhnya memahami apa yang dipelajari siswa SD dan SMP di sekolah.
Akibatnya muncul ketidaksesuaian antara materi yang diajarkan di sekolah dengan butir-butir soal yang muncul dalam tes kemampuan akademik.
Karena itu harapannya pemerintah benar-benar mengecek kembali apakah soal TKA sudah sesuai dengan apa yang diajarkan di sekolah.
Saya tidak mengatakan ini kegagalan sekolah, tetapi memang ada proses yang harus dikoordinasikan kembali. Harus ada penilaian yang komprehensif untuk melihat sebenarnya titik persoalannya ada di mana.
Selain itu, persoalan ini bisa berkaitan dengan perubahan kurikulum. Dari tahapan Kurikulum Merdeka kemudian sekarang ada kebijakan baru karena pergantian menteri, tentu kebijakan negara dan kementerian harus sinkron. Jangan sampai kurikulum yang diterapkan di sekolah tidak konsisten dengan pola evaluasi yang diberikan kepada siswa.
Karena itu kita tidak boleh langsung menyalahkan sekolah maupun siswa. Yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana negara dan pemerintah memantau proses belajar, proses penilaian, sampai proses penyusunan butir soal dalam TKA.
Tidak salah kalau banyak siswa maupun sekolah mengeluhkan soal TKA yang dianggap sulit dan ada materi yang tidak mereka pelajari sebelumnya. Itu berarti memang ada hal yang perlu dievaluasi kembali dalam sistem pelaksanaan TKA.
Mari kita cek kembali apakah soal-soal dalam TKA benar-benar sudah mencerminkan apa yang diajarkan di sekolah. Karena saya yakin guru dan kepala sekolah sudah memastikan bahwa proses pembelajaran yang diberikan kepada siswa merupakan bagian dari tujuan pendidikan nasional. (sul)