TRIBUNSOLO. SOLO - Sate kambing menjadi salah satu kuliner paling populer di kawasan Solo Raya, terutama saat perayaan Idul Adha.
Aroma daging yang dibakar di atas bara arang berpadu dengan bumbu kecap dan irisan cabai rawit menghadirkan cita rasa khas yang selalu dirindukan masyarakat.
Tidak hanya menjadi menu favorit keluarga, sate kambing juga telah lama menjadi bagian dari tradisi kuliner khas Solo dan sekitarnya.
Baca juga: Makna Gunungan Jaler dan Estri di Grebeg Besar Idul Adha Keraton Solo, Bukan Prosesi Biasa
Sate kambing tidak hanya dikenal sebagai makanan khas daerah, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan saat hari raya kurban.
Banyak keluarga memilih membakar sate bersama sebagai bagian dari tradisi berkumpul setelah pembagian daging kurban.
Banyak sejarawan meyakini bahwa sate berakar dari tradisi memanggang daging yang telah dikenal sejak masa prasejarah.
Masyarakat kuno menggunakan cara menusuk dan membakar daging sebagai metode sederhana untuk mengawetkan makanan sekaligus meningkatkan cita rasa.
Seiring perkembangan zaman, tradisi ini diperkaya oleh pengaruh budaya asing.
Sejumlah teori menyebutkan bahwa sate mendapat sentuhan dari kebiasaan memasak masyarakat Arab dan India yang telah lama mengenal teknik memanggang daging bertusuk.
Baca juga: Sejarah Lemet Singkong atau Utri, Jajanan Legendaris di Solo Raya Kini Mulai Langka
Pedagang Arab dan India yang datang ke Nusantara pada masa kerajaan Islam diyakini membawa tradisi tersebut, khususnya dalam pengolahan daging kambing.
Hal ini terlihat dari kemiripan sate dengan kuliner lain di dunia, seperti kebab dari Timur Tengah, shashlik dari Rusia, serta satay di Malaysia dan Singapura.
Di Indonesia, sate mulai dikenal luas pada masa Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14 hingga ke-15.
Saat itu, teknik memanggang daging sudah umum dikenal, namun sate masih menjadi hidangan kalangan bangsawan dan disajikan dalam upacara-upacara kerajaan.
Popularitas sate semakin meluas pada masa penjajahan Belanda.
Interaksi budaya antara penjajah dan masyarakat lokal membuat sate tidak lagi eksklusif.
Warung-warung dan pasar mulai menjajakan sate berbahan ayam, kambing, maupun sapi, hingga akhirnya menjadi makanan rakyat yang mudah dijumpai.
Memasuki abad ke-19 dan 20, sate menjelma menjadi salah satu ikon kuliner kaki lima Indonesia yang digemari semua lapisan masyarakat.
Baca juga: Prakiraan Cuaca Solo Hari Ini Kamis 28 Mei 2026 : BMKG Prediksi Cerah di Semua Kecamatan
Di antara banyak daerah di Indonesia, Kota Solo (Surakarta) dikenal sebagai salah satu wilayah dengan kekayaan kuliner berbahan kambing.
Hampir di setiap sudut kota, terutama di kawasan Pasar Kliwon, mudah ditemui penjual sate kambing, tengkleng, hingga tongseng.
Cita rasa sate kambing khas Solo dikenal sederhana namun kuat, dengan perpaduan kecap manis, irisan bawang merah, dan cabai.
Rasa inilah yang membuat sate kambing Solo menjadi incaran wisatawan.
Menurut berbagai sumber, kuatnya tradisi kuliner kambing di Solo dipengaruhi oleh keberadaan komunitas Timur Tengah, khususnya pedagang Arab, yang telah lama bermukim di wilayah Pasar Kliwon.
Konon, daging kambing dahulu kerap disajikan oleh pedagang Arab kepada bangsawan Solo, hingga akhirnya digemari oleh kalangan keraton.
Baca juga: Satpol PP Solo Amankan Waria Ngamuk Tampar Pengunjung Rumah Makan, Diminta Buat Pernyataan
Tak hanya sate kambing, kreativitas wong Solo juga melahirkan tengkleng, olahan tulang dan jeroan kambing berkuah gurih.
Tengkleng lahir pada masa penjajahan Jepang, saat kondisi ekonomi sulit dan masyarakat harus memanfaatkan bagian kambing yang tersisa.
Seiring waktu, tengkleng yang awalnya identik dengan rakyat kecil justru digemari kalangan priyayi.
Hal ini, menurut sejarawan kuliner Heri Priyatmoko, membuktikan bahwa tengkleng mampu menunjukkan jati diri dan nilai tinggi sebagai kuliner khas Solo.
(*)