Mengenal Bedah Bariatrik–Metabolik sebagai Solusi Penanganan Obesitas
Poetri Hanzani May 28, 2026 01:34 PM

Nakita.id -Di tengah meningkatnya angka obesitas dan berbagai risiko kesehatan yang menyertainya, pemahaman masyarakat mengenai penanganan obesitas yang tepat menjadi semakin penting.

Tidak hanya berkaitan dengan berat badan, obesitas kini dipahami sebagai kondisi medis yang membutuhkan penanganan menyeluruh dan berkelanjutan.

Melihat pentingnya edukasi mengenai isu kesehatan ini, RS Premier Bintaro turut mengambil peran dengan menghadirkan ruang diskusi bersama media untuk membahas perkembangan penanganan obesitas melalui pendekatan medis modern.

RS Premier Bintaro menggelar kegiatan Media Gathering bertajuk “Mengenal Bedah Bariatrik–Metabolik untuk Obesitas” pada Rabu, 20 Mei 2026, pukul 12.00–16.00 WIB di PUJA Bumi Kenduri The Trunojoyo, Jakarta Selatan.

Kegiatan ini menghadirkan Dr. dr. Errawan Wiradisuria, Sp.B, Subsp. BD(K), M.Kes, dokter spesialis bedah subspesialis bedah digestif konsultan, sebagai narasumber utama. Dalam kesempatan tersebut, beliau membahas perkembangan penanganan obesitas melalui pendekatan bedah bariatrik–metabolik. Acara ini juga turut dihadiri oleh dr. Relia Sari, MARS selaku CEO RS Premier Bintaro.

Saat ini obesitas tidak lagi dipandang hanya sebagai persoalan gaya hidup. Kondisi ini telah diakui sebagai penyakit kronis yang dapat memicu berbagai komplikasi serius, mulai dari diabetes, hipertensi, penyakit jantung, gangguan tidur, hingga menurunkan kualitas hidup penderitanya.

Hal ini menjadi salah satu poin penting yang disampaikan oleh Dr. dr. Errawan Wiradisuria dalam sesi edukasi bertema “Mengenal Bedah Bariatrik–Metabolik untuk Obesitas.”

Menurutnya, sejumlah organisasi kesehatan dunia seperti American Medical Association dan Canadian Medical Association telah menetapkan obesitas sebagai penyakit kronis yang membutuhkan penanganan serius dan berkelanjutan.

Meski demikian, di Indonesia obesitas masih sering dianggap sebatas masalah pola hidup atau berat badan berlebih.

Salah satu penanganan yang kini semakin berkembang adalah bedah bariatrik–metabolik, yaitu prosedur pembedahan yang bertujuan membantu menurunkan berat badan sekaligus memperbaiki gangguan metabolisme tubuh seperti diabetes dan hipertensi.

Dibandingkan metode konservatif seperti diet, olahraga, dan obat-obatan, tindakan ini dinilai mampu memberikan hasil jangka panjang yang lebih efektif, terutama pada kasus obesitas berat.

Bedah bariatrik memiliki sejumlah manfaat, di antaranya membantu menurunkan berat badan secara signifikan dan bertahan lebih lama, meningkatkan kualitas hidup pasien, menurunkan risiko penyakit penyerta atau co-morbid, serta membantu memperbaiki kondisi diabetes, hipertensi, dan kadar kolesterol tinggi.

Adapun pasien yang dapat menjadi kandidat operasi adalah mereka dengan BMI di atas 35, atau BMI di atas 30 yang disertai penyakit penyerta berisiko tinggi akibat obesitas.

Selain itu, pasien juga perlu memiliki komitmen untuk menjalani perubahan pola hidup sehat dan kontrol kesehatan secara rutin dalam jangka panjang.

Dalam sesi edukasi tersebut, dr. Errawan juga menjelaskan lebih jauh mengenai dampak obesitas terhadap kesehatan, kriteria pasien yang dapat menjalani bedah bariatrik, jenis-jenis tindakan bariatrik modern, pola hidup dan diet setelah operasi, hingga manfaat tindakan terhadap diabetes, hipertensi, dan sindrom metabolik.

Seiring perkembangan teknologi medis, ada beberapa teknik bedah bariatrik yang saat ini banyak digunakan, yaitu Sleeve Gastrectomy (SG), Roux-en-Y Gastric Bypass (RYGB), One Anastomosis Gastric Bypass (OAGB), Biliopancreatic Diversion with Duodenal Switch (BPD-DS), serta Sleeve Gastrectomy with Proximal Jejunal Bypass (PJB-S).

Di antara beberapa pilihan tersebut, Laparoscopic Sleeve Gastrectomy (LSG) menjadi salah satu prosedur yang cukup banyak dipilih.

Selain karena prosedurnya relatif lebih sederhana, metode ini juga memiliki tingkat komplikasi yang rendah, mampu memberikan penurunan berat badan yang lebih cepat, dan masa rawat inap yang cenderung lebih singkat.

Meski demikian, keberhasilan terapi tidak hanya bergantung pada tindakan operasi. Kepatuhan pasien dalam menjalani pola makan pascaoperasi, mengonsumsi vitamin sesuai anjuran, rutin berolahraga, serta menjaga gaya hidup sehat secara menyeluruh tetap menjadi bagian penting dalam keberhasilan jangka panjang.

Hingga kini, prosedur bedah bariatrik masih belum mendapatkan dukungan pembiayaan dari asuransi maupun BPJS.

Salah satu alasannya karena tindakan ini masih kerap dipandang sebagai prosedur kosmetik. Padahal sejak tahun 2013, World Health Organization telah menyatakan bahwa obesitas merupakan penyakit (obesity is a disease) karena hampir selalu berkaitan dengan berbagai penyakit penyerta seperti hipertensi, obstructive sleep apnea (OSA), hiperlipidemia, diabetes, batu empedu, gangguan hormonal yang menyebabkan menstruasi tidak teratur, nyeri lutut, hingga varises pada tungkai.

Karena itu, untuk mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kondisi masing-masing, masyarakat dianjurkan berkonsultasi dengan dokter spesialis agar bisa memperoleh evaluasi dan terapi yang tepat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.