TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Puncak haji ditandai wukuf telah dilalui oleh seluruh jemaah haji yang tengah melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci saat ini. Bertepatan di Idul Adha 2026 kemarin, jemaah haji melaksanakan pelemparan jumrah setelah melaksanakan rangkaian wukuf di Arafah menuju Musdalifah dilanjutkan menuju Mina.
Tak terkecuali jemaah haji asal Tarakan Kalimantan Utara bersama seluruh jemaah haji Indonesia kemarin juga telah selesai melaksanakan kegiatan di Padang Arafah yang menjadi puncak ibadah haji.
Kepala Kantor Kementerian Agama Tarakan, H. Asmawan, mengatakan seluruh jemaah haji di Tarakan dalam kondisi sehat dan telah berkumpul di Arafah sejak pagi waktu Arab Saudi.
“Kemarin jemaah haji kita sudah berkumpul di Arafah dan masuk wukuf,” ujar Asmawan kepada TribunKaltara.com.
Baca juga: Wali Kota Tarakan Khairul Ungkap Kondisi Terkini Jemaah Haji di Tanah Suci
Ia menjelaskan, jika waktu di Arab Saudi masih sekitar pukul 06.00 pagi maka di Tarakan kurang lebih pukul 11.00 WITA. Sementara pelaksanaan wukuf kemarin dimulai saat matahari tergelincir atau memasuki waktu Zuhur.
“Insyaallah Zuhur, ketika tergelincir matahari, maka setelah salat Zuhur dan mendengarkan khutbah wukuf, pada saat itu masuklah waktu wukuf,” katanya.
Menurut Asmawan, waktu wukuf dimulai sejak tergelincirnya matahari sekitar pukul 12.00 siang hingga terbenamnya matahari saat Magrib. Rangkaian ibadah tersebut menjadi salah satu rukun utama dalam pelaksanaan haji.
“Dimulai tergelincirnya matahari jam 12 lewat sampai terbenamnya matahari di waktu Magrib,” ujarnya.
Ia memastikan hingga saat ini kondisi seluruh jemaah haji asal Tarakan dalam keadaan sehat walafiat meski menghadapi cuaca panas ekstrem di Tanah Suci.
“Kondisi jemaah Alhamdulillah dalam keadaan sehat walafiat,” ucapnya.
Setelah menyelesaikan wukuf di Arafah, jemaah haji kemarin lalu dijadwalkan bergerak menuju Muzdalifah menjelang malam hari.
Baca juga: Saat Persiapan Menuju Arafah, Seorang Jemaah Haji Perempuan Asal Tarakan Meninggal Dunia
Di lokasi tersebut, jemaah akan menjalani mabit atau bermalam sejenak sambil mempersiapkan rangkaian ibadah berikutnya.
“Menjelang Mahgrib jemaah lalu diberangkatkan ke Muzdalifah,” jelasnya.
Asmwan menerangkan, di Muzdalifah jemaah hanya akan singgah hingga melewati tengah malam sebelum kembali diberangkatkan menuju Mina.
“Di Muzdalifah jemaah melakukan mabit atau berdiam diri sejenak. Setelah lewat tengah malam, sekitar jam 12 lewat, jemaah kembali diangkut menuju Mina,” katanya.
Di Mina, jemaah akan kembali menjalani mabit mulai 10 Dzulhijjah hingga 13 Dzulhijjah.
Selama berada di Mina, jemaah melaksanakan lontar jumrah sebagai bagian dari rangkaian ibadah haji.
“Di sana juga mabit dari tanggal 10 sampai 13 Dzulhijjah untuk melaksanakan melontar jumrah Ula, Wustha dan Aqabah,” ujarnya.
Namun khusus pada 10 Dzulhijjah atau bertepatan dengan Hari Raya Iduladha, jemaah hanya melakukan lontar jumrah Aqabah.
Setelah itu, jemaah diperbolehkan melakukan tahalul awal dan melepas pakaian ihram.
“Hari lebaran, jemaah kita cuma melempar jumrah Aqabah. Setelah itu tahalul, mereka sudah boleh lepas ihram dan memakai pakaian biasa,” katanya.
Selanjutnya pada tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah, jemaah kembali melaksanakan lontar jumrah dengan mengenakan pakaian biasa, khususnya bagi jemaah yang mengambil nafar tsani.
“Kalau mengambil nafar tsani, mereka pergi melontar dengan pakaian biasa,” ucapnya.
Meski telah menyelesaikan lontar jumrah, jemaah masih harus menuntaskan satu rangkaian rukun haji lainnya sebelum seluruh ibadah dinyatakan selesai.
Rangkaian tersebut yakni melaksanakan tawaf ifadah sepulang dari Mina dan kembali ke Makkah.
“Nanti selesai pulang dari Mina, kembali ke Makkah, jemaah tetap harus melaksanakan tawaf ifadah,” jelas Asmwan.
Setelah tawaf ifadah dan tahalul selesai dilakukan, maka seluruh rangkaian ibadah haji resmi berakhir.
“Setelah itu selesailah seluruh rangkaian ibadah haji. Tinggal menunggu jadwal kepulangan ke tanah air,” katanya.
Untuk jadwal kepulangan, jemaah haji asal Tarakan dijadwalkan meninggalkan Makkah pada 15 Juni 2026 dan langsung terbang menuju Balikpapan.
“Insyaallah dijadwalkan pulang dari Makkah tanggal 15 Juni, kemudian langsung ke Balikpapan sampai tanggal 16,” ujarnya.
Selanjutnya, para jemaah akan melanjutkan perjalanan menuju Tarakan pada 17 Juni 2026.
“Dari Balikpapan berangkat tanggal 17 ke Tarakan,” tuturnya.
Di sisi lain, H. Asmawan juga mengungkapkan kondisi cuaca di Tanah Suci saat ini cukup ekstrem dengan suhu mencapai 46 derajat Celsius. Informasi tersebut diperoleh dari komunikasi pihaknya dengan salah satu petugas haji di Arab Saudi. “Kondisi sangat panas, suhu mencapai 46 derajat Celsius,” katanya.
Karena itu, jemaah diimbau menjaga kondisi tubuh selama menjalani seluruh rangkaian ibadah haji. Para jemaah disarankan menggunakan payung dan kacamata hitam untuk mengurangi paparan panas matahari.
“Maka disarankan menggunakan kacamata hitam supaya tidak silau, kemudian memakai payung,” ujarnya.
Asmawan menjelaskan, penggunaan topi tidak diperbolehkan bagi jemaah laki-laki yang masih mengenakan pakaian ihram. Sedangkan bagi jemaah perempuan masih diperbolehkan.
“Kalau laki-laki tidak boleh karena dalam keadaan ihram. Kalau perempuan boleh saja,” katanya.
Selain itu, jemaah juga disarankan rutin menyemprot wajah dan menggunakan pelindung kulit agar terhindar dari dampak cuaca panas ekstrem selama berada di Tanah Suci.
(*)
Penulis: Andi Pausiah