TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS makin ambruk pada saat cuti bersama Iduladha, Kamis (28/5/2026) siang.
Sekitar pukul 12.00 WIB, rupiah spot di posisi Rp 17.876 per dolar AS, merosot 0,42ri sehari sebelumnya di level Rp 17.801 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, mengatakan, rupiah menembus level Rp18.000 per dolar AS bisa saja terjadi pada perdagangan Jumat (29/5/2026) seiring kuatnya sentimen negatif dari dalam dan luar negeri.
Baca juga: Kata Purbaya soal Kurs Rupiah Tembus Rp17.800: Nggak Masuk Akal, Fundamental Ekonomi Bagus
"Perdagangan hari, rupiah bisa melemah 100 poin ke level Rp17.900 per dolar AS," ujar Ibrahim.
Ibrahim menjelaskan, faktor dari eksternal yang membuat rupiah tertekan yaitu meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, setelah Amerika Serikat kembali
melancarkan serangan ke sejumlah instalasi Iran.
"Saat rapat di Gedung Putih, Trump (Presiden AS Donald Trump) juga menyampaikan akan menyerang Oman, yang mendukung perdamaian AS-Iran," kata Ibrahim.
"Bahkan Trump menyiapkan perang besar ke Iran berdasarkan intelejen Rusia. Kapal-kapal besar AS dengan teknologi canggih pun sudah mendarat di Israel," sambungnya.
Atas kondisi tersebut, kata Ibrahim, harga minyak dunia kembali melonjak di atas 92 dolar AS per barel, dan hal ini membuat lonjakan inflasi secara global.
Di dalam negeri, Ibrahim menyebut, lonjakan harga minyak dunia membuat kebutuhan dolar AS akan meningkat karena Indonesia masih menjadi pengimpor minyak.
Belum lagi, pembayaran utang jatuh tempo pemerintah yang bungnya sampai Rp600 triliun.
"Pasar juga tertuju kepada MBG dan Koperasi Merah Putih yang dinilai manajemennya abruradul merugikan sekitar Rp45 triliun. Ini membuat investor asing ketakutan, sehingga arus modal asing keluar deras pekan ini," ujar Ibrahim.
Tak Masuk Akal
Menteri Keuangan Purbaya menilai pelemahan rupiah saat ini tidak masuk akal karena menurutnya fundamental ekonomi Indonesia dalam kondisi bagus.
"Kan ekonomi bagus, ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Ini enggak masuk akal sebenarnya. Biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental," kata Purbaya di Kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jakarta Selatan, Rabu (27/5/2026).
Lalu ketika ditanya akankah melakukan pengujian kembali ketahanan APBN buntut tren anjloknya nilai tukar rupiah, Purbaya mengatakan tidak akan melakukannya.
Dia mengungkapkan hal tersebut tidak akan dilakukan karena pihaknya telah menghitung APBN dengan asumsi harga minyak dunia menyentuh 100 dolar AS per barel.
Purbaya pun lantas berkelakar dirinya yang akan stres jika harga minyak dunia melebihi asumsi.
"Ya saya stres (kalau harga minyak dunia melebihi asumsi). Nggak (ada pengujian kembali ketahanan APBN). Kita udah hitung pada waktu simulasi 100 dolar per barel, asumsi rupiahnya juga sudah kita perhitungkan."
"Jadi enggak ada masalah. Saya enggak harus hitung ulang APBN-nya," tuturnya.
Di sisi lain, Purbaya mengungkapkan dampak dari anjloknya rupiah yakni imbal hasil (yield) di pasar obligasi Indonesia mengalami penurunan.
Ia mengatkan hal itu buntut dari pemerintah yang melakukan intervensi di pasar Surat Berharga Negara (SBN) treasury operation demi menjaga stabilitas nilai tukar.
Purbaya mengatkan selama pasar obligas Indonesia terkendali, aliran modal asing masuk.
Setelah itu, sambungnya, akan ada langkah yang akan dilakukan pemerintah dalam menjaga nilai tukar rupiah secara signifikan.
Namun, ia tidak menjelaskan langkah seperti apa yang akan dilakukan.
"Jadi selama bond market terkendali, kemauan investor untuk asing ya, terutamanya untuk melakukan investasi dan pasti juga bond kita akan terjaga juga."
"Kita sudah mulai melihat aliran masuk modal asing ke pasar obligasi kita. Dan ke depan akan ada tindakan pemerintah lagi yang akan membantu nilai tukar rupiah dengan lebih signifikan," katanya.
Dampak Pelemahan Rupiah
Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Elektronik (Gabel) Daniel Suhardiman mengatakan, industri elektronika nasional saat ini masih sangat bergantung pada bahan baku dan komponen impor karena keterbatasan pasokan dari dalam negeri.
"Pelemahan Rupiah ini tentunya menjadi beban tambahan bagi industri, di satu sisi kami masih berjuang untuk mengatasi kenaikan harga material dan komponen yang sangat signifikan. Sebagai informasi, rantai pasok industri elektronika saat ini sekitar 60 persen masih bergantung impor karena ketidaktersediaan di dalam negeri," tutur Daniel kepada Tribunnews.com, Kamis (28/5/2026).
Gabel melihat, secara ideal para produsen elektronik perlu menyesuaikan harga jual untuk menutup kenaikan biaya produksi.
Akan tetapi, kondisi pasar yang saat ini sedang lesu membuat pelaku industri tidak bisa sembarangan menaikkan harga.
"Idealnya kami harus menaikkan harga jual sebanding dengan dampak tersebut, namun dengan turunnya daya beli masyarakat saat ini, kami tidak bisa gegabah melakukan langkah ini. Kalaupun dilakukan, hanya sebagian kecil saja kerugian yang bisa kami tutup dengan kenaikan harga jual," ungkapnya.
Daniel memprediksi dalam waktu dekat akan ada penyesuaian harga produk elektronik di pasar. Meski demikian, keputusan akhir tetap bergantung pada kebijakan masing-masing merek.
"Kami prediksi idealnya akan seperti itu, namun tergantung kebijakan masing-masing merek," terang Daniel Suhardiman.
Terkait besaran kenaikan harga, Daniel menyebut produsen umumnya akan berusaha menahan kenaikan agar tidak terlalu tinggi.
Ia juga menambahkan, penyesuaian harga nantinya tidak hanya berlaku untuk produk baru, melainkan bisa mencakup seluruh produk elektronik yang dipasarkan.
"Ini juga tidak bisa kami prediksi, tapi biasanya produsen akan berusaha menghindari kenaikan harga di atas 5 persen, kecuali keadaan kahar (force majeure). Biasanya berlaku untuk semua barang," jelas Daniel.