Sosok Abdul Khalim Kiai Ponpes Pekalongan Diduga Hamili Santriwati, Korban Tertekan, Sempat Bungkam
Listusista Anggeng Rasmi May 28, 2026 03:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kasus dugaan asusila di Pondok Pesantren Padang Ati, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, terus menjadi sorotan tajam publik.

Nama Abdul Khalim Fadlun alias AKF yang selama ini dikenal sebagai tokoh agama kini berada di tengah pusaran kasus yang menggemparkan masyarakat.

AKF diduga terlibat dalam kasus kekerasan seksual terhadap sejumlah santriwati yang disebut telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Kasus ini semakin menyita perhatian setelah muncul pengakuan mengejutkan dari seorang santriwati berusia 22 tahun asal Kecamatan Karangdadap.

Perempuan muda tersebut mengaku mendadak hamil meski merasa tidak pernah melakukan hubungan intim dengan laki-laki.

Pengakuan itu membuat warga geger dan memunculkan berbagai spekulasi liar di media sosial.

Banyak masyarakat mempertanyakan bagaimana peristiwa tersebut bisa terjadi di lingkungan pondok pesantren yang dikenal religius.

Kecurigaan publik semakin mengarah pada lingkungan tempat korban pernah menimba ilmu agama.

Baca juga: Modus Licik Pelaku Pelecehan di Padepokan Pekalongan Terbongkar, Santriwati Diminta Pijat Pelaku

KIAI VIRAL PEKALONGAN - Kiai AKF di Pekalongan terseret kasus santriwati hamil, diduga lakukan pelecehan 18 tahun.
KIAI VIRAL PEKALONGAN - Kiai AKF di Pekalongan terseret kasus santriwati hamil, diduga lakukan pelecehan 18 tahun. (Dok./TribunNews)

Polisi kemudian mulai menelusuri latar belakang korban secara mendalam untuk mencari titik terang kasus tersebut.

Hasil penyelidikan mengarah pada fakta bahwa korban pernah mondok di Pondok Pesantren PA di Kecamatan Buaran.

Tak lama setelah fakta itu terungkap, AKF langsung diamankan aparat kepolisian untuk menjalani pemeriksaan intensif.

Penangkapan tersebut memicu perhatian luas dan membuat publik mulai menghubungkan berbagai kejanggalan yang sebelumnya beredar.

Dugaan keterkaitan antara pengakuan santriwati dan sosok pimpinan pondok pesantren pun semakin kuat diperbincangkan.

Di balik ramainya kasus ini, para korban disebut selama bertahun-tahun hidup dalam tekanan psikologis yang berat.

Banyak korban memilih diam karena takut dianggap membawa aib bagi keluarga mereka.

Selain itu, posisi AKF sebagai tokoh yang dihormati membuat korban merasa sulit untuk melawan ataupun berbicara terbuka.

Korban Tertekan

Kuasa hukum korban menyebut tekanan mental menjadi alasan utama para korban bungkam selama bertahun-tahun.

Advokat pendamping korban, Ahmad Fauzi, mengatakan proses pemeriksaan masih terus berjalan hingga saat ini.

"Yang sudah memberikan keterangan di polres ada enam orang," kata Fauzi pada Rabu (27/5/2026), dikutip dari Tribunjateng.com.

Meski baru enam orang yang melapor, jumlah korban diduga jauh lebih banyak dan mencapai puluhan santriwati.

Menurut Fauzi, seluruh korban yang sudah memberikan keterangan merupakan mantan santri dari padepokan tersebut.

Sebagian besar korban disebut mengalami dugaan kekerasan seksual saat usia mereka masih di bawah umur.

KIAI PONPES CABUL - Pimpinan ponpes di Pekalongan ditangkap atas dugaan kekerasan seksual, tidak lama setelah seorang santriwatinya geger mengaku hamil tanpa berhubungan badan. ((Ist)/kolase Istimewa)

Baca juga: Sosok Kiai di Ponpes Pekalongan yang Santrinya Hamil, Ditangkap Kasus Pelecehan, Beraksi Sejak 2008

Kondisi itu membuat banyak korban mengalami trauma mendalam hingga memilih memendam peristiwa tersebut selama bertahun-tahun.

Fauzi mengungkapkan bahwa korban termuda saat ini masih berusia 17 tahun.

Sementara korban tertua diketahui telah berusia lebih dari 30 tahun.

Rentang usia korban yang sangat jauh membuat dugaan kasus ini disebut berlangsung sangat lama dan sistematis.

Dugaan tindak kekerasan seksual tersebut bahkan disebut telah terjadi sejak tahun 2008 hingga 2025.

"Kalau tahun 2008 itu ada korban yang saat kejadian masih berumur 14 tahun," ujarnya.

Pernyataan itu semakin memperkuat dugaan bahwa kasus ini sudah berlangsung dalam waktu yang sangat panjang.

Fauzi juga menyebut para korban mengalami tekanan batin yang luar biasa akibat pengaruh besar terduga pelaku di lingkungan pondok.

Menurutnya, korban merasa takut karena pelaku dikenal sebagai sosok yang disegani dan dihormati banyak orang.

Terkait modus yang digunakan, pihak kuasa hukum menduga pelaku memanfaatkan posisi dan pengaruhnya terhadap para korban.

Dari keterangan yang diperoleh, korban diduga dikendalikan secara psikis sehingga sulit menolak ataupun melawan.

Meski demikian, pihak kuasa hukum belum bersedia membeberkan detail tindakan yang diduga dilakukan karena masih menjadi bagian dari penyidikan.

"Kalau kemungkinan intimidasi mungkin ada, tetapi itu masih harus diteliti lebih lanjut," ujarnya.

Hingga kini, kasus dugaan kekerasan seksual yang mengguncang dunia pesantren di Pekalongan tersebut masih terus ditangani Satreskrim Polres Pekalongan Kota.

(Tribunnewsmaker.com/ Listusista)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.