TRIBUNNEWS.COM - Rusia mengambil langkah ekstrem setelah serangan drone Ukraina semakin brutal dan sulit dibendung di berbagai wilayah.
Parlemen Rusia pada Selasa (27/5/2026) resmi meloloskan rancangan undang-undang yang memungkinkan pegawai bank dilatih untuk menghadapi dan menembak jatuh drone Ukraina.
Dilansir Al Jazeera, aturan tersebut disahkan dalam pembacaan ketiga di Majelis Rendah Duma Rusia di tengah meningkatnya tekanan perang udara dari Kyiv.
Jika disetujui majelis tinggi dan ditandatangani Presiden Rusia, Vladimir Putin, bank-bank Rusia nantinya akan menjadi bagian langsung dari sistem pertahanan udara nasional.
Dalam skema baru itu, bank diwajibkan memasang perangkat electronic jamming untuk mengacaukan sinyal drone musuh.
Pegawai tertentu juga akan dipilih dan diberi pelatihan khusus untuk menghadapi serangan drone yang mendekati fasilitas mereka.
Pemerintah Rusia menyebut langkah itu diperlukan karena serangan drone Ukraina kini semakin sering menghantam wilayah Rusia, termasuk fasilitas energi dan industri strategis.
Dikutip dair ABC News, Ukraina belakangan sukses meluncurkan drone jarak jauh ke berbagai target penting di Rusia, termasuk infrastruktur minyak dan jalur logistik militer.
Serangan-serangan itu disebut mulai mengganggu rantai suplai perang Moskow.
Bank milik negara seperti Sberbank ikut masuk dalam daftar institusi yang akan diperkuat sistem pertahanan anti-drone.
Baca juga: Sinyal Dukungan Menurun, 5 Anggota NATO Blokir Pendanaan Wajib untuk Ukraina
Karena kantor bank tersebar hampir di setiap kota Rusia, Kremlin menilai jaringan tersebut bisa menjadi lapisan pertahanan tambahan menghadapi serangan udara Ukraina.
Namun langkah itu juga memicu kritik dan pertanyaan besar terkait kesiapan Rusia menghadapi perang drone modern.
Sejumlah analis mempertanyakan bagaimana pegawai sipil dapat dilatih menghadapi drone militer berteknologi tinggi.
Pelatihan massal, pemasangan alat pengacau sinyal, hingga koordinasi keamanan disebut membutuhkan biaya dan organisasi sangat besar.
Analis pertahanan dari Royal United Services Institute di London, Thomas Withington, menilai kebijakan tersebut menunjukkan pertahanan udara Rusia mulai kewalahan menghadapi inovasi drone Ukraina.
“Jika sistem pertahanan udara Rusia bekerja efektif, mereka tidak perlu melibatkan pegawai sipil,” kata Withington kepada Associated Press.
Ia menilai Moskow kini berusaha memindahkan sebagian beban pertahanan udara kepada sektor nonmiliter karena tekanan serangan drone terus meningkat.
Baca juga: Putin Ultimatum! Warga Asing Diminta Tinggalkan Ukraina sebelum Kyiv Dihujani Rudal dan Drone
Menurut aturan yang disahkan Duma, pegawai bank nantinya dapat mengganggu sinyal kendali drone, mencegat perangkat tanpa awak, bahkan menghancurkannya tanpa harus menunggu respons aparat keamanan.
Ketua Komite Pasar Keuangan Duma Rusia, Anatoly Aksakov, mengatakan sistem jamming akan digunakan untuk membuat drone kehilangan target sebelum dihancurkan.
“Kami juga akan menggunakan cara untuk menembak jatuh drone demi melindungi fasilitas penting,” ujarnya kepada media Rusia RBK.
Langkah ini muncul saat perang Rusia-Ukraina memasuki fase baru yang semakin didominasi perang drone dan serangan udara jarak jauh.
Reuters dan AP melaporkan Ukraina kini mampu memproduksi drone dalam jumlah besar dan menggunakannya untuk menyerang jauh ke dalam wilayah Rusia.
Sementara itu, Rusia juga terus meningkatkan serangan rudal dan drone ke berbagai kota Ukraina dalam beberapa pekan terakhir.
Pemerintah Putin sebelumnya berusaha menjaga agar dampak perang tidak terlalu terasa di kehidupan sehari-hari warga Rusia.
Namun keterlibatan pegawai bank dalam pertahanan udara dinilai menjadi tanda bahwa perang kini mulai merambah sektor sipil secara lebih terbuka.
Baca juga: Hari ke-1.554 Perang Rusia Vs Ukraina, Moskow Ancam Serangan Terarah ke Jantung Kyiv
Analis menyebut keputusan ini juga memperlihatkan bagaimana perang modern telah memaksa Rusia mengubah banyak sektor sipil menjadi bagian dari sistem pertahanan nasional.
Dengan drone Ukraina terus berkembang dan menyerang semakin dalam ke wilayah Rusia, Moskow tampaknya mulai kehabisan cara konvensional untuk membendung ancaman udara dari Kyiv.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)