TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) mendorong pelaksanaan ibadah kurban pada Idul Adha 2026 tidak sekadar menjadi ritual tahunan, tetapi juga gerakan sosial dan kepedulian lingkungan yang menjangkau masyarakat hingga akar rumput.
Ketua Umum DPP LDII Dody Taufiq Wijaya menegaskan ibadah kurban merupakan manifestasi ketakwaan sekaligus momentum memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.
“Ibadah kurban merupakan teladan ketakwaan, pengorbanan, kesyukuran dan keikhlasan tertinggi dari Nabi Ibrahim pada Allah SWT. Esensi utamanya meneladani ketaatan Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail, yang kemudian menjadi syariat bagi umat Nabi Muhammad SAW. Sebagai umat Islam, kurban menjadi ibadah yang selalu dinanti karena keberkahannya,” ujar Dody dalam keterangannya, Kamis (28/5/2026).
Menurut Dody, semangat berkurban di era modern harus dimaknai lebih luas, bukan hanya hubungan spiritual dengan Allah SWT, tetapi juga kepedulian sosial dan penguatan gotong royong di lingkungan masyarakat.
“Kurban adalah simbol ketakwaan, keikhlasan, dan kepedulian sosial, yang memiliki nilai dalam memperkuat solidaritas, membantu masyarakat yang membutuhkan, dan membangun kebersamaan di lingkungan masing-masing,” ujar Dody Taufiq Wijaya.
Untuk memperluas manfaat kurban hingga masyarakat bawah, LDII menggerakkan seluruh struktur organisasi mulai tingkat DPW, DPD, hingga Pengurus Cabang (PC) dan Pengurus Anak Cabang (PAC).
Langkah itu dilakukan agar distribusi daging kurban lebih merata dan tepat sasaran, terutama bagi masyarakat di wilayah akar rumput.
“Kami mendorong PC dan PAC LDII di seluruh Indonesia agar menjadi garda terdepan dalam pelaksanaan kurban di lingkungan masyarakat. Dengan pendekatan berbasis komunitas, manfaat kurban diharapkan lebih tepat sasaran dan mampu memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat,” katanya.
Tak hanya menyoroti aspek sosial, LDII juga menekankan pelaksanaan kurban yang ramah lingkungan. Organisasi tersebut menginstruksikan seluruh jajarannya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dalam distribusi daging kurban.
Sebagai gantinya, LDII mendorong penggunaan kantong ramah lingkungan maupun plastik daur ulang agar dampak lingkungan dapat ditekan.
“Pelaksanaan kurban harus memperhatikan aspek kebersihan dan kelestarian lingkungan. Kami menginstruksikan seluruh warga LDII agar mulai menggunakan plastik daur ulang atau wadah yang lebih ramah lingkungan dalam distribusi daging kurban. Semangat ibadah kurban juga harus sejalan dengan kepedulian terhadap lingkungan,” ujar dia.
Dody juga menyoroti pentingnya standar penyembelihan yang higienis dan sesuai syariat, termasuk pengelolaan limbah agar tidak mencemari lingkungan sekitar.
“Kurban yang baik harus sah secara syariat, berikutnya juga harus higienis, tertib, dan memperhatikan kesehatan masyarakat. Limbah hasil penyembelihan perlu dikelola dengan benar agar tidak menimbulkan pencemaran maupun gangguan lingkungan,” tegas Dody.
Melalui momentum Idul Adha 2026, Dody berharap budaya gotong royong, kepedulian sosial, dan kesadaran menjaga lingkungan dapat tumbuh bersamaan di tengah masyarakat.
Baca juga: Presiden Prabowo Diharapkan Buka Munas X LDII di Ponpes Minhajurrosyidin Jakarta Timur
"Dengan semangat tersebut, ibadah kurban tidak hanya menghadirkan keberkahan spiritual, tetapi juga manfaat sosial dan ekologis yang berkelanjutan," kata dia