RIBUN-MEDAN.com - Spekulasi netizen tentang kurs rupiah menyentuh "angka keramat" Rp17.845 per dolar Amerika Serikat (AS) menemui kenyataan.
Angka yang merujuk momen Kemerdekaan 17 Agustus 1945 itu datang lebih cepat dari prediksi sebagian netizen yang memperkirakan terjadi medio Agustus. Adapun angka 17845 ini menjadi "pelesetan" bagi netizen karena kekhawatiran tentang kurs rupiah yang semakin terpuruk belakangan ini.
Pada perdagangan Kamis (28/5/2026), nilai tukar rupiah hari ini ditutup melemah di level Rp 17.845 per dollar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah hari ini sempat menyentuh level terendah yakni Rp 17.906 sekitar pukul 10.58 WIB.
Baca juga: 4 Orang Sekeluarga Tewas Diduga Keracunan Barbeque Saat Camping, Rencana Bagas Wisuda di UGM Pupus
Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, faktor eksternal dan internal menekan rupiah sehingga melemah pada hari ini.
Dari sisi eksternal, faktor perang antara Iran dan AS yang semakin memanas setelah AS melakukan serangan baru ke Iran memicu potensi penyerangan balasan dari Iran.
Kemudian Presiden AS Donald Trump juga melayangkan ancaman akan menyerang Oman sebagai negara negosiasi yang mendukung kebijakan perdamaian antara Iran dan AS.
Di Eropa, Ukraina tengah meminta bantuan ke AS untuk melawan Rusia yang telah menyerang ibu kotanya, Kyiv dengan ratusan drone dan rudal.
"Ini yang sebenarnya membuat ketegangan tersendiri strategi politik meningkat tajam baik di Timur Tengah maupun di Eropa Timur," ujarnya kepada media, Kamis.
Menurut Ibrahim, meningkatnya tensi geopolitik membuat harga minyak mentah dunia kembali melonjak.
Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) bahkan disebut telah bergerak di kisaran 96 dollar AS per barrel.
Kenaikan harga minyak tersebut dinilai berpotensi memicu inflasi global, termasuk di AS.
Situasi itu memperbesar ekspektasi bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
"Pada hari Rabu Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis Neel Kashkari dia mengatakan bahwa kekhawatiran utama Bank Sentral saat ini adalah inflasi yang lebih tinggi daripada kondisi pasar tenaga kerja yang memburuk," ungkapnya.
Penguatan dollar AS akibat ekspektasi suku bunga tinggi itu kemudian memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Baca juga: Panik Dikejar Warga, Begal di Medan Marelan Tewas setelah Tabrak Titi Beton
Sementara dari sisi domestik, Ibrahim menilai pelemahan rupiah dipicu tingginya kebutuhan dolar AS untuk impor minyak, pembayaran dividen perusahaan, hingga kewajiban utang luar negeri yang jatuh tempo.
Dia juga menyoroti adanya perpindahan dana masyarakat ke instrumen valuta asing di tengah ketidakpastian pasar.
Selain itu, sentimen investor disebut turut dipengaruhi berbagai isu tata kelola program pemerintah yang memicu kekhawatiran pelaku pasar.
"Kemudian dibarengi juga dengan manajemen yang bobrok di pemerintahan tentang masalah MBG (makan bergizi gratis), kemudian yang terakhir adalah Koperasi Merah Putih ya ini membuat negara mengalami kerugian puluhan triliun," imbuhnya.
Namun, pelemahan rupiah hari ini masih lebih baik dibanding prediksi Ibrahim.
Dia semua memperkirakan rupiah bakal ditutup di level Rp 17.900 per dolar AS hari ini.
Sementara pada perdagangan esok, Jumat (29/5/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah akan mendekati level Rp 18.000 per dollar AS. (*/tribunmedan.com)