TRIBUNKALTENG.COM - Kabar terbaru militer pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamanei. Militer Iran mengklaim berhasil menembak jatuh drone pengintai canggih milik Amerika Serikat menggunakan sistem pertahanan udara baru bernama Arash-e Kamangir.
Mengutip dari Al Jazeera, Arash-e Kamangir merupakan sistem pertahanan udara lokal yang dirancang untuk mendeteksi dan menyerang target udara, termasuk drone pengintai modern.
Baca juga: UPDATE Kejutan Donald Trump di Perang Iran vs Amerika, Kuwait Siaga dan Aktifkan Pertahanan Udara
Iran mengklaim sistem ini memiliki kemampuan deteksi siluman dan mampu beroperasi tanpa terlalu bergantung pada radar besar seperti sistem pertahanan udara konvensional.
Nama “Arash-e Kamangir” sendiri diambil dari tokoh legenda Persia bernama Arash sang pemanah, sosok yang dikenal dalam cerita rakyat Iran sebagai pahlawan penjaga perbatasan negara dari ancaman asing.
Bagi Iran, penggunaan nama tersebut bukan sekadar simbol militer, tetapi juga pesan politik bahwa Teheran siap mempertahankan wilayahnya dari tekanan Amerika Serikat dan Israel.
Ya, klaim tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat di kawasan Teluk, terutama setelah serangkaian serangan militer terbaru di sekitar Selat Hormuz dan Bandar Abbas.
Nah Media Iran menyebut drone MQ-9 Reaper milik AS ditembak jatuh di dekat Pulau Qeshm, kawasan strategis yang berada di Selat Hormuz.
Meski pemerintah Iran belum memberikan konfirmasi resmi terkait penggunaan senjata ini, namun serangan tersebut menjadi penggunaan tempur pertama sistem pertahanan udara Arash-e Kamangir yang sebelumnya belum pernah diperlihatkan secara terbuka di medan perang.
Sejumlah analis keamanan internasional menilai Arash-e Kamangir kemungkinan bukan senjata revolusioner, tetapi bagian dari strategi baru Iran dalam membangun pertahanan udara murah, mobile, dan sulit dihancurkan.
Berbeda dengan sistem pertahanan konvensional yang bergantung pada radar besar dan mudah dilacak, sistem seperti ini diduga menggunakan sensor elektro-optik atau pencari panas sehingga dapat dipindahkan dengan cepat dan lebih sulit diserang.
Strategi tersebut membuat Iran tidak terlalu bergantung pada sistem mahal seperti S-300 buatan Rusia yang selama ini menjadi tulang punggung pertahanan udaranya.
Artinya, Iran mencoba menciptakan banyak sistem sederhana namun efektif untuk mengganggu operasi udara musuh.
Jika klaim Iran terbukti benar, maka Amerika Serikat dan Israel kemungkinan harus mengubah strategi militernya.
Kedua negara selama ini mengandalkan drone pengintai dan serangan udara presisi untuk menekan Iran.
Namun munculnya sistem pertahanan bergerak seperti Arash-e Kamangir dapat memaksa AS menggunakan rudal jarak jauh yang jauh lebih mahal dibanding drone.
Hal ini bisa meningkatkan biaya operasi militer Amerika di kawasan Teluk.
Selain itu, Iran juga masih memiliki keunggulan dalam produksi drone murah seperti Shahed yang dapat digunakan dalam jumlah besar.
Strategi perang murah inilah yang dinilai menjadi salah satu kekuatan utama Iran dalam menghadapi tekanan militer negara-negara Barat.
Ketegangan di Selat Hormuz Makin Berbahaya
Klaim penembakan drone MQ-9 Reaper oleh sistem senjata Iran Arash-e Kamangir muncul bersamaan dengan laporan serangan baru AS terhadap fasilitas militer Iran di dekat Bandar Abbas.
Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengaku menyerang pangkalan udara Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Situasi tersebut membuat Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian dunia.
Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan energi paling penting di dunia karena sekitar seperlima pasokan minyak global melewati kawasan tersebut setiap hari.
Apabila konflik terus meningkat, gangguan di Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga minyak dunia dan memperburuk ketegangan geopolitik internasional.
Meski sistem Arash-e Kamangir masih belum dapat diverifikasi sepenuhnya, banyak analis percaya bahwa Iran tetap memiliki kemampuan pertahanan yang cukup untuk menciptakan ancaman serius bagi operasi udara Amerika Serikat dan Israel.
Hal inilah yang membuat konflik Iran dan AS dinilai masih sangat berbahaya dan berpotensi berkembang menjadi eskalasi militer yang lebih luas di Timur Tengah.
(Tribunnews.com / tribunkalteng.com)