Anak-anak Kita Sedang Diburu
Rizwan May 28, 2026 09:54 PM

Oleh Zakiul Fuady Muhammad Daud

SEPULUH awal Zulhijjah seharusnya menjadi hari-hari paling tenang bagi jiwa seorang Muslim. 

Hari-hari ketika langit terasa lebih dekat, ketika masjid mulai ramai oleh takbir, ketika orang-orang berpuasa Arafah demi mengharap ampunan Allah dua tahun sekaligus, dan ketika hati manusia perlahan dilunakkan oleh zikir dan ibadah.

Tetapi ketenangan spiritual itu mendadak terusik oleh kabar yang begitu gelap: dugaan adanya sindikat yang menjadikan anak-anak sekolah sebagai “selimut” bagi pejabat dan lelaki berduit di Aceh Tengah.

Sulit menjelaskan betapa sesaknya dada ketika mendengar isu seperti itu muncul justru di hari-hari yang dimuliakan Allah.

Di saat jutaan jamaah haji sedang menangis di Arafah memohon ampunan, di saat umat Islam diperintahkan memperbanyak istighfar dan menundukkan hawa nafsu, kita justru dipaksa menatap kemungkinan adanya nafsu yang dibiarkan berkeliaran tanpa rasa takut kepada Tuhan.

Jika benar pengakuan dan informasi yang beredar itu memiliki dasar fakta, maka ini bukan lagi sekadar kasus asusila biasa.

Ini bukan hanya persoalan zina. Ini bukan hanya cerita gelap media sosial yang akan hilang beberapa hari kemudian.

Ini adalah alarm sosial yang sangat serius tentang retaknya benteng moral masyarakat kita.

Sebab yang sedang dibicarakan bukan perempuan dewasa yang memilih jalan hidup tertentu karena tekanan ekonomi.

Yang sedang dibicarakan adalah anak-anak sekolah.

Generasi yang seharusnya dijaga, dilindungi, dipeluk, dibimbing, dan diselamatkan masa depannya. 

Tetapi kini justru diduga dijadikan objek pemuas syahwat orang-orang dewasa yang kehilangan hati nurani.

Dan mari bicara jujur: anak-anak tidak pernah masuk ke dunia gelap seperti itu sendirian.

Selalu ada orang dewasa yang membuka pintu.

Selalu ada pihak yang menyediakan jalan.

Selalu ada lelaki yang datang membawa uang dan kuasa.

Selalu ada manusia yang rela menukar masa depan anak orang lain demi memuaskan hawa nafsunya sendiri.

Karena itu, masyarakat harus berhenti melihat persoalan ini secara dangkal. Jangan buru-buru menyebutnya hanya “kenakalan remaja”.

Jangan pula sibuk mencari-cari siapa perempuan yang terlibat sambil melupakan laki-laki yang menjadi pengguna dan penikmat kerusakan itu.

Sebab dalam hampir semua kasus eksploitasi seksual, perempuan dan anak-anak sering berada dalam posisi paling rentan: dibujuk, dimanipulasi, ditekan keadaan ekonomi, atau dijerat secara psikologis.

Dalam ilmu psikologi trauma, eksploitasi seksual pada usia remaja adalah salah satu bentuk pengalaman paling merusak dalam perkembangan jiwa manusia.

Banyak korban tumbuh dengan rasa malu yang menghancurkan dirinya sendiri. Ada yang mengalami depresi bertahun-tahun.

Ada yang kehilangan rasa aman terhadap dunia. 

Ada yang tidak lagi percaya kepada orang dewasa. Bahkan tidak sedikit yang hidup dengan luka batin hingga usia tua.

Tetapi yang paling menyakitkan, masyarakat sering gagal membaca luka itu.

Kita lebih sibuk menjaga citra sosial daripada menyelamatkan jiwa anak-anak kita sendiri. Kita takut berbicara karena pelaku mungkin punya jabatan, punya uang, atau punya pengaruh.

Kita takut nama daerah tercoreng, tetapi tidak takut jika generasi muda kita hancur diam-diam.

Aceh Tengah tidak boleh menjadi daerah yang saleh di permukaan, tetapi busuk di bawah permukaan.

Tidak boleh menjadi daerah yang ramai pengajian, tetapi diam terhadap predator seksual. Tidak boleh menjadi daerah yang keras berbicara tentang syariat, tetapi lemah melindungi anak-anak sekolah dari eksploitasi.

Sebab inti agama bukan hanya simbol kesalehan. Inti agama adalah menjaga martabat manusia.

Dalam maqāṣid al-syarī‘ah, perlindungan terhadap kehormatan manusia (hifẓ al-‘ird) dan perlindungan generasi (hifẓ al-nasl) adalah tujuan besar syariat Islam.

Artinya, ketika anak-anak sekolah mulai masuk ke lingkaran eksploitasi seksual, maka yang sedang terancam bukan hanya moral individu, tetapi masa depan sosial masyarakat itu sendiri.

Dan kita perlu sadar bahwa fenomena seperti ini tidak lahir tiba-tiba. Ia tumbuh dari banyak kerusakan yang dibiarkan terlalu lama.

Dari keluarga yang mulai kehilangan komunikasi dengan anak-anaknya. Dari orang tua yang terlalu sibuk mencari nafkah tetapi tidak lagi memahami luka batin anaknya.

Dari media sosial yang liar tanpa pengawasan. Dari budaya konsumtif yang membuat sebagian remaja mengukur harga dirinya dari gaya hidup dan uang.

Dari lingkungan sosial yang permisif terhadap dosa selama dibungkus kuasa dan materi.

Kita juga harus jujur mengatakan bahwa sebagian masyarakat mulai mengalami krisis keberanian moral.

Banyak yang tahu, tetapi memilih diam. Banyak yang mendengar, tetapi pura-pura tidak peduli. Padahal diam dalam situasi seperti ini bukan netralitas. Diam adalah bentuk pembiaran.

Lebih berbahaya lagi jika benar ada orang-orang berpengaruh yang terlibat.

Sebab ketika kekuasaan mulai bersentuhan dengan eksploitasi moral, maka masyarakat akan kehilangan rasa percaya terhadap sistem sosial itu sendiri. Anak-anak tidak lagi merasa aman.

Orang tua hidup dalam kecemasan. Dan masyarakat perlahan kehilangan keyakinan bahwa nilai-nilai agama masih benar-benar dijaga.

Karena itu, persoalan ini tidak boleh selesai hanya dengan kegaduhan media sosial atau penangkapan satu dua orang kecil. Jika memang ada jaringan, maka harus dibongkar sampai ke akar-akarnya.

Jika ada pihak yang melindungi, maka harus diseret ke ruang hukum tanpa pandang bulu. Jangan biarkan hukum hanya tajam kepada orang lemah, tetapi tumpul kepada mereka yang punya uang dan jabatan.

Para ulama juga tidak boleh diam. Mimbar-mimbar masjid harus mulai berbicara tentang kerusakan sosial nyata yang sedang mengancam generasi kita.

Sebab agama tidak diturunkan hanya untuk mengatur ritual, tetapi juga untuk menjaga manusia dari kehancuran moral.

Sekolah pun harus berbenah, pendidikan hari ini tidak cukup hanya mengejar nilai akademik, anak-anak membutuhkan perlindungan psikologis, pendidikan moral, pengawasan digital, dan ruang aman untuk bercerita. 

Banyak remaja hari ini hidup dalam kesepian emosional meskipun tampak aktif di media sosial dan kesepian seperti itu sering menjadi pintu masuk bagi manipulasi dan eksploitasi.

Kepada para orang tua, ini juga saatnya bercermin.

Anak-anak hari ini hidup di dunia yang jauh lebih berbahaya dibanding generasi sebelumnya. 

Jangan hanya memastikan mereka berangkat sekolah. Pastikan juga mereka merasa dicintai, didengar, dan aman di rumahnya sendiri.

Sebab banyak anak terjebak dalam lingkaran gelap bukan karena mereka buruk, tetapi karena mereka mencari perhatian dan tempat pulang yang tidak mereka temukan di rumah.

Dan kepada siapa pun yang mungkin terlibat dalam kerusakan ini, satu hal perlu diingat: tidak semua dosa selesai di dunia.

Ada air mata anak-anak yang tidak pernah hilang dari langit, ada doa orang-orang yang terzalimi yang berjalan tanpa hijab menuju Allah. 

Ada kehancuran hidup yang kadang datang perlahan sebagai akibat dari kezaliman yang dianggap kecil.

Sebab sejarah selalu memperlihatkan satu hal yang sama: sebuah masyarakat tidak runtuh pertama kali karena kemiskinan atau konflik politik.

Ia runtuh ketika orang-orang dewasanya kehilangan rasa takut kepada Tuhan, sementara anak-anaknya mulai diperdagangkan demi syahwat dan kepentingan duniawi mereka sendiri.(*)

*) Penulis adalah Dosen IAIN Takengon

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.