TRIBUNJATIM.COM – Kota Kediri dipimpin oleh sejumlah tokoh dengan latar belakang yang beragam, mulai dari birokrat, dokter, pengusaha, hingga politikus muda.
Setiap wali kota memiliki perjalanan karier dan gaya kepemimpinan berbeda yang ikut memberi warna dalam perkembangan Kota Kediri dari masa ke masa.
Berikut daftar empat Wali Kota Kediri pascareformasi 1998 hasil Pilkada mulai periode 1999 hingga 2030, beserta sosok dan profil singkat dan kiprahnya di dunia pemerintahan maupun politik.
Achmad Maschut
Drs. H. Achmad Maschut menjabat sebagai Wali Kota Kediri selama dua periode, yakni 1999–2009.
Sebelum memimpin Kota Kediri, Maschut lebih dahulu berkarier sebagai birokrat di lingkungan Pemerintah Kota Malang.
Pria kelahiran Malang, 15 Februari 1940 tersebut menempuh pendidikan di Universitas Brawijaya dan meraih gelar sarjana ekonomi pada 1970.
Ia kemudian masuk ke dunia birokrasi pada 1974 dan sempat menjabat Kepala Sub Dinas Perusahaan Dinas Pendapatan.
Kariernya terus berkembang hingga dipercaya menjadi Sekretaris Wilayah Daerah Kota Malang sebelum akhirnya terpilih menjadi Wali Kota Kediri.
Selama memimpin Kota Kediri, Maschut dikenal sebagai sosok yang ikut membesarkan Persik Kediri hingga menjadi salah satu klub sepak bola yang diperhitungkan di Indonesia.
Dilansir dari regional.kompas.com, kepemimpinan Maschut turut membawa Persik Kediri meraih dua gelar juara kasta tertinggi sepak bola nasional.
Achmad Maschut meninggal dunia pada 25 Agustus 2021 di RSUD Saiful Anwar Malang.
Kepergiannya meninggalkan duka bagi masyarakat dan sejumlah tokoh di Kota Kediri.
Baca juga: Sosok dan Jejak Karir 4 Wali Kota Blitar Hasil Pilkada Langsung, dari Dosen Birokrat hingga Santri
Samsul Ashar
dr. H. Samsul Ashar, Sp.PD menjabat sebagai Wali Kota Kediri periode 2009–2014.
Sebelum terjun ke dunia politik, ia dikenal sebagai dokter spesialis penyakit dalam yang cukup aktif di dunia kesehatan.
Pria kelahiran 16 September 1961 tersebut menghabiskan masa pendidikan dasar hingga menengah di Kota Kediri.
Ia bersekolah di SD Pawiyatan Daha Kediri, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Kediri dan SMA Negeri 2 Kediri.
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Samsul Ashar melanjutkan kuliah kedokteran di Universitas Brawijaya.
Kariernya sebagai dokter dimulai sejak 1989 sebagai dokter PNS.
Ia pernah bertugas di Aceh Besar sebagai Kepala Puskesmas Jantho dan Seulimeum.
Setelah itu, ia melanjutkan pengabdian di RSUD Gambiran Kediri dan RSUD Dr Soetomo Surabaya.
Selain aktif sebagai dokter, Samsul Ashar juga terlibat di organisasi profesi dan pernah menjabat Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kediri periode 2004–2010.
Pada Pilkada Kota Kediri 2008, Samsul Ashar maju berpasangan dengan Abdullah Abu Bakar dan berhasil memenangkan pemilihan.
Keduanya kemudian resmi menjabat Wali Kota dan Wakil Wali Kota Kediri periode 2009–2014.
Dikutip dari kedirikota.go.id, Samsul Ashar meninggal dunia pada 13 Maret 2022 di salah satu rumah sakit di Surabaya.
Selama masa kepemimpinannya, Samsul Ashar dikenal sebagai sosok yang berjasa dalam pembangunan Kota Kediri.
Baca juga: Daftar 4 Wali Kota Malang Hasil Pilihan Rakyat, Ini Sosok Profil dan Perjalanan Kariernya
Abdullah Abu Bakar
Abdullah Abu Bakar menjadi salah satu wali kota dengan masa kepemimpinan cukup panjang di Kota Kediri.
Ia menjabat sebagai Wali Kota Kediri sejak 2014 hingga 2023.
Disitir dari Kompas.id, Abdullah Abu Bakar lahir di Kediri pada 12 April 1980.
Masa kecilnya sempat dihabiskan di Surakarta sebelum kembali ke Kediri untuk melanjutkan pendidikan hingga SMA Negeri 1 Kediri.
Setelah lulus sekolah, ia melanjutkan kuliah di Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta dan STIE YKPN Yogyakarta.
Saat masih mahasiswa, ia pernah bekerja sebagai marketing kartu kredit dan mengembangkan usaha fotografi digital.
Karier politiknya dimulai saat maju sebagai calon Wakil Wali Kota Kediri mendampingi Samsul Ashar pada Pilkada 2008.
Pasangan tersebut berhasil memenangkan pemilihan dan memimpin Kota Kediri periode 2009–2014.
Pada Pilkada 2013, Abdullah Abu Bakar maju sebagai calon wali kota bersama Lilik Muhibbah dan kembali memenangkan pemilihan.
Ia kemudian terpilih lagi pada Pilkada 2018 untuk periode kedua.
Selama memimpin Kota Kediri, Abu Bakar dikenal melalui program Prodamas atau Program Pemberdayaan Masyarakat.
Program tersebut memberikan bantuan dana pembangunan berbasis RT untuk bidang infrastruktur, sosial, ekonomi, kesehatan, hingga pendidikan.
Selain itu, ia juga menggagas Kampung Kreatif dan Independen (Kampung Keren) Prodamas.
Program tersebut bertujuan mengembangkan potensi ekonomi, budaya, dan kreativitas masyarakat di berbagai wilayah Kota Kediri.
Baca juga: Kiprah 4 Wali Kota Surabaya Setelah Era Reformasi, Ada Tokoh Militer hingga Birokrat Tulen
Vinanda Prameswati
Vinanda Prameswati menjadi Wali Kota Kediri periode 2025–2030 setelah resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025 di Istana Negara.
Dilansir dari kedirikota.go.id, Vinanda lahir di Surabaya pada 12 Juni 1998.
Ia menempuh pendidikan di SD Plus Rahmat, SMP Negeri 1 Kediri, SMA Negeri 3 Kediri, hingga Fakultas Hukum Universitas Brawijaya.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Vinanda melanjutkan studi Magister Kenotariatan di Universitas Airlangga.
Sebelum terjun ke politik praktis, Vinanda aktif di berbagai organisasi sosial, kepemudaan, dan komunitas relawan.
Ia pernah menjadi Ketua Harian Relawan Suket Teki Nusantara (RSTN), Wakil Ketua DPD Partai Golkar Kota Kediri, hingga Ketua Asosiasi Pedagang Kaki Lima Kota Kediri.
Pada Pilkada 2024, Vinanda maju bersama KH Qowimuddin Thoha dan berhasil memenangkan pemilihan.
Pasangan tersebut memperoleh 98.205 suara atau sekitar 56,83 persen dari total suara sah.
Kehadiran Vinanda sebagai wali kota muda turut menjadi perhatian publik karena dinilai membawa semangat dan warna baru bagi kepemimpinan Kota Kediri.
Baca juga: Sosok dan Jejak Karier Vinanda Prameswati, Generasi Z yang Jadi Wali Kota Kediri
Dinamika Kepemimpinan Kota Kediri
Perjalanan kepemimpinan Kota Kediri menunjukkan dinamika pemerintahan yang terus berkembang dari masa ke masa.
Setiap wali kota memiliki latar belakang dan pengalaman berbeda, mulai dari birokrat senior, dokter, pengusaha, hingga politikus muda.
Berbagai kebijakan dan program yang dijalankan para pemimpin tersebut turut berperan dalam perkembangan Kota Kediri sebagai salah satu kota penting di Jawa Timur hingga saat ini.