TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN – Masalah krusial melanda pelaksanaan ibadah haji 2026.
Jemaah haji kelompok terbang (Kloter) 1 Embarkasi Balikpapan (BPN) asal Samarinda, Kalimantan Timur dilaporkan tidak mendapat tempat istirahat yang layak, karena kapasitas tenda di Mina yang sangat terbatas dan dinilai tidak layak.
Keterbatasan ruang ini bahkan memaksa sejumlah jemaah haji nekat tidur di luar tenda demi bisa beristirahat di tengah padatnya rangkaian ibadah jumrah di Mina.
Kondisi memprihatinkan ini diungkapkan Ketua Kloter 1 BPN, H Basri kepada TribunKaltim.co melalui pesan WA, Jumat (29/5/2026).
Baca juga: Usai Lempar Jumrah, Jemaah Haji Embarkasi Balikpapan Kembali ke Mekkah untuk Thawaf Ifadah
Basri mengatakan, fasilitas yang disediakan tidak sebanding dengan jumlah jemaah haji yang harus ditampung alias over-kapasitas.
“Sekarang ini jamaah haji mendapatkan tenda di Mina sangat tidak layak, sehingga sebagian memilih tidur di luar tenda karena kapasitas tenda tidak memenuhi untuk menampung 358 jemaah Kloter 1 BPN,” ujarnya.
Kondisi tenda yang over-kapasitas tersebut sempat memicu ketegangan antara jemaah haji Kloter 1 BPN dengan pihak Maktab 79.
Guna meredam situasi dan mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, pihak pimpinan kloter langsung mengambil langkah taktis menyelamatkan jemaah yang rentan.
Sebanyak 60 jemaah yang masuk dalam kategori risiko tinggi (risti) ditanazulkan atau dipulangkan sementara ke hotel, tempat mereka menginap di Makkah.
Langkah ini diambil agar mereka mendapatkan tempat istirahat yang lebih manusiawi.
“Untuk menyelesaikan permasalahan, jemaah haji risti saya tanazulkan dan kembali ke hotel sebanyak 60 jamaah.
Pelemparan jumrah jemaah haji diwakilkan oleh ketua regu dan ketua rombongan,” kata Basri.
Karena dievakuasi kembali ke hotel, prosesi wajib melontar jumrah bagi 60 jemaah risti tersebut didelegasikan kepada ketua regu dan ketua rombongan masing-masing.
Basri memaparkan, pada awal keberangkatan, total jemaah haji yang terdata dalam manifes Kloter 1 BPN adalah 360 orang.
Satu jemaah haji batal berangkat dari Embarkasi Balikpapan karena diketahui hamil muda saat pemeriksaan terakhir.
Dengan demikian, sebanyak 359 jemaah haji terbang menuju Madinah.
Di Madinah, dinamika kloter kembali berubah, yakni 1 jemaah (Asian Baba) harus dirawat selama dua hari di Rumah Sakit Assalam Madinah karena sakit.
Dan 1 jemaah (Endar Jaya) meninggal dunia di RS Assalam Madinah dan telah dimakamkan di Baqi. "Perjalanan menuju Makkah hanya 358 jamaah," jelas Basri.
Saat pergerakan krusial dari Arafah menuju Muzdalifah, pihak kloter membagi jemaah menjadi dua skema.
Sebanyak 248 jemaah mengikuti pergerakan reguler, sementara 110 jemaah lainnya menjalani sistem murur (melintas tanpa mampir) karena masuk dalam kategori lansia, disabilitas, obesitas, risiko tinggi, dan para pendamping.
Sesuai rencana, setelah menyelesaikan pelontaran jumrah yang dijadwalkan lewat tengah malam, jemaah haji akan langsung bertolak kembali ke Makkah pada Jumat pagi.
Kloter 1 BPN dijadwalkan akan terbang kembali ke tanah air dan diperkirakan tiba di Indonesia melalui Embarkasi Balikpapan pada 7 Juni 2026.
Update terkini, kondisi tenda jemaah haji asal Embarkasi Balikpapan di Mina yang sempat mengalami overkapasitas dipastikan sudah aman.
Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Balikpapan menyebut kepadatan berhasil diatasi setelah puluhan jemaah risiko tinggi (risti) mandiri dipindahkan dan sebagian jemaah diarahkan kembali ke hotel.
Ketua PPIH Embarkasi Balikpapan, Mohlis Hasan mengatakan, kepadatan terjadi di tenda yang ditempati jemaah haji Kloter BPN 1 hingga BPN 3. Ketiga kloter tersebut dipimpin Ketua Kloter Basri, Suhada, dan Jumadi.
“Kita anjurkan, nah itu ada dua, tiga kloter sebetulnya di tenda itu, Kloter BPN 1 sampai BPN 3. Nah itu memang sempat kepenuhan, tapi setelah ada diskusi yang panjang, ternyata dua kloter itu dianjurkan,” ujarnya kepada Tribunkaltim.co, Jumat (29/5).
Menurutnya, masing-masing sekitar 60 jemaah haji dengan kategori risiko tinggi (risti) mandiri akhirnya dipindahkan sehingga kondisi di tenda kembali normal.
“Masing-masing 60 orang yang ditemukan yang risti mandiri, akhirnya itu bisa teratasi sudah kepenuhan itu,” katanya.
Sebagian jemaah haji juga diarahkan kembali ke hotel untuk mengurangi kepadatan di tenda Mina. “Ke hotel, dikembalikan hotel karena satu hotel itu Kloter 1 dan Kloter 2 itu,” lanjutnya.
Mohlis memastikan saat ini kondisi seluruh jemaah haji sudah aman dan sebagian besar telah menyelesaikan rangkaian lontar jumrah atau melontar jamarat. “Ya aman sudah posisinya, sudah aman. Ini sudah mau pulangan juga ini,” ucapnya.
Ia mengatakan, para jemaah haji juga diarahkan agar kembali pada pagi hari untuk menghindari cuaca panas ekstrem di siang hari. “Kalau mau pulang kata saya usahakan waktu pagi begini, jangan waktu sudah siang,” ujarnya.
Setelah keluar dari tenda Mina, para jemaah haji langsung menuju Mekkah untuk melaksanakan tawaf dan sa’i sebelum kembali ke hotel masing-masing.
“Menuju ke Mekkah dia, mau ke tawaf dia, habis tawaf sa’i, habis sa’i tahalul baru balik ke hotel dia,” jelas Mohlis.
Ia menambahkan, setelah proses tersebut para jemaah haji tidak lagi kembali ke tenda Mina, kecuali menyesuaikan pilihan nafar awal atau nafar tsani.
Menurutnya, jemaah haji Kloter BPN 1 dan BPN 2 kemungkinan besar akan memilih nafar awal karena jadwal kepulangan mereka lebih cepat. “Maka dia kemungkinan dia akan ngambil nafar awal,” katanya.
Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, menyebut masalah jemaah haji tidak dapat tenda di Mina telah ditangani oleh tim syarikah atau penyedia layanan yang berada di barkas atau pemondokan jemaah di Mina, Arab Saudi.
Kasus jemaah tidak mendapat tenda di Mina ini, kata Dahnil, terjadi karena adanya perbedaan data pada syarikah terkait jumlah jemaah yang menempati tenda.
Kondisi ini juga dipicu oleh penempatan kasur di dalam tenda yang ditumpuk oleh pihak syarikah, sehingga penataan kasur tidak sesuai kapasitas dan ukuran tenda yang terbatas.
Meski demikian, Dahnil menyebutkan, kejadian ini langsung ditangani dengan cepat oleh petugas haji sehingga semua jemaah bisa mendapatkan haknya selama menjalani ibadah haji di Mina.
"Jemaah yang tendanya enggak kedapat gitu, kepenuhan. Jadi ada kasus misalnya tadinya ini kan sudah dihitung petugas semuanya, 80 misalnya di tenda A itu.
Nah, ketika jemaah datang kan pas dihitung itu tidak dengan tas ya," jelasnya, dikutip dari YouTube Kompas TV, Jumat (29/5/2026).
"Nah, ketika datang itu jemaah masuk itu bawa tas, bawa apa, akhirnya tempat tidurnya ditumpuk-tumpuk," sambung Dahnil. Sehingga, yang awalnya sudah dihitung 80 orang, jadi terlihat hanya untuk 50 orang saja.
"Karena apa? 30 lagi sudah ditumpuk-tumpuk. Ditumpuk-tumpuk plus tas-tas mereka, kan tenda itu kecil sekali hanya muat tu satu orang itu," tutur Dahnil.
Dahnil pun menegaskan, pihaknya sudah mengingatkan Syarikah sejak awal terkait pendataan tenda para jemaah ini.
"Kalau yang benar-benar kurang misalnya kami sudah ingatkan sejak awal ketika pendataan ke syarikah, ini kurang 40, ini kurang 30, ini kurang 10, segera penuhi. Kalau masih ada yang kurang, kami sudah ingatkan syarikah," ucapnya.
Kasus ini pun menjadi catatan untuk ke depannya, apalagi kasus tenda-tenda itu selalu muncul di Mina. "Setelah musim haji, kami akan umumkan ke publik.
Kasus-kasus tenda-tenda itu selalu muncul di Mina. Tapi yang paling penting prinsipnya saya sampaikan kepada petugas itu adalah fast respon," ujarnya.
Ketua Komisi VIII DPR RI sekaligus anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI dari Fraksi PKB, Marwan Dasopang, menilai pelaksanaan ibadah haji 1447 Hijriah/2026 secara umum berlangsung baik.
Namun, persoalan kepadatan jemaah di Mina disebut masih menjadi tantangan yang perlu segera dicarikan solusi.
"Secara keseluruhan penyelenggaraan haji berjalan baik. Tahapan-tahapan awal hingga puncak pelaksanaan ibadah berlangsung sesuai agenda.
Kita patut mengapresiasi berbagai pihak yang telah bekerja keras memberikan pelayanan kepada jemaah," kata Marwan dalam keterangannya dari Makkah, Arab Saudi, Jumat (29/5/2026).
"Namun, kondisi di Mina masih menjadi tantangan utama. Kapasitas tenda dan area yang tersedia belum mampu memberikan ruang yang cukup nyaman bagi seluruh jemaah.
Kepadatan masih terjadi dan dirasakan langsung oleh jemaah," imbuhnya.
Selain kepadatan, Marwan juga menyoroti sejumlah fasilitas di Mina yang dinilai belum optimal, seperti adanya keluhan terkait pendingin udara (AC) yang tidak berfungsi maksimal serta ketersediaan air yang belum memadai di beberapa lokasi.
"Kita menerima berbagai masukan terkait fasilitas di Mina.
Ada persoalan AC yang tidak berfungsi optimal, ketersediaan air yang kurang memadai, serta berbagai kendala lain yang muncul akibat tingginya kepadatan jemaah dalam satu kawasan yang sangat terbatas," ucapnya.
Menurut Marwan, perlu ada langkah baru dan terobosan kebijakan agar persoalan di Mina yang terus berulang setiap musim haji dapat diatasi secara bertahap.
Satu di antara opsi yang dinilai layak dipertimbangkan adalah pembangunan tenda bertingkat maupun penataan ulang pola penempatan jemaah.
"Kita harus mulai memikirkan formula baru.
Jika area Mina memang tidak bisa diperluas, maka perlu dipertimbangkan berbagai opsi seperti tenda bertingkat atau skema lain yang memungkinkan ruang bagi jemaah menjadi lebih longgar dan manusiawi," ujarnya.
Jemaah haji kelompok terbang (Kloter) BPN 02 asal Balikpapan, Kalimantan Timur telah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji di Mina. Termasuk prosesi lempar jumrah pada hari-hari Tasyrik dengan skema Nafar Awal.
Setelah meninggalkan Mina, para jemaah haji dijadwalkan kembali ke Mekkah untuk melaksanakan Thawaf Ifadah sebagai rukun haji.
Pembimbing ibadah KBIHU Shafa Al Anshar Balikpapan, HM Jailani, mengatakan seluruh jemaah haji telah kembali ke pondokan di Mina untuk beristirahat dan mempersiapkan diri kembali ke Mekkah.
“Alhamdulillah jemaah haji BPN 02 telah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji selama di Mina khususnya skema Nafar Awal,” kata Jailani, Jumat (29/5/2026).
Ia menjelaskan, Nafar Awal merupakan pilihan bagi jemaah haji untuk meninggalkan Mina lebih cepat, yakni pada 12 Dzulhijah sebelum matahari terbenam setelah menyelesaikan lempar jumrah Ula, Wustha dan Aqabah.
Sementara Nafar Tsani merupakan pilihan jemaah haji yang tetap tinggal di Mina hingga 13 Dzulhijah.
Menurut Jailani, jemaah haji BPN 02 memilih Nafar Awal karena merupakan kloter awal yang dijadwalkan lebih cepat mempersiapkan kepulangan ke Tanah Air.
“Hal ini disebabkan BPN 02 berada di kloter awal dalam perjalanan ibadah haji tahun ini sehingga harus lebih cepat mempersiapkan segala sesuatunya untuk kembali ke tanah air,” ujarnya.
Jailani mengungkapkan, kondisi jemaah haji BPN 02 didominasi lanjut usia (lansia).
Karena itu, pada pelaksanaan lempar jumrah tanggal 12 Dzulhijah, cukup banyak jemaah haji yang dibadalkan atau diwakilkan oleh jemaah lain yang lebih sehat.
“Kondisi jemaah haji BPN 02 terbilang cukup banyak yang lansia sehingga pada hari Tasyrik cukup banyak yang dibadalkan,” katanya.
Saat ini, seluruh jemaah haji disebut telah kembali ke pemondokan untuk berbenah dan mempersiapkan diri menuju Mekkah guna melaksanakan Thawaf Ifadah yang merupakan rukun haji.
“Insya Allah Jumat malam setelah salat Isya jemaah haji akan melaksanakan Thawaf Ifadah sebagai rukun haji,” ucapnya.
Jailani mengakui kondisi fisik jemaah haji mulai kelelahan setelah menjalani rangkaian ibadah di Mina dalam beberapa hari terakhir.
Namun, menurutnya, kelelahan tersebut menjadi bagian dari perjuangan spiritual dalam meraih haji mabrur.
“Memang terasa sekali kelelahan jemaah haji beberapa hari ini, namun kelelahan ini adalah buah keimanan dalam menggapai ridha Allah dan perjuangan untuk meraih haji mabrur,” tuturnya.
Ia menambahkan, rangkaian ibadah di Mina juga menjadi momentum meneladani perjuangan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS saat menjalankan perintah Allah SWT.
“Peristiwa itu terjadi di Mina ketika Nabi Ibrahim mendapat godaan setan saat melaksanakan perintah Allah untuk mengorbankan anaknya,” pungkas Jailani.
Baca juga: Tenda Mina Overkapasitas, Sejumlah Jemaah Haji Balikpapan Terpaksa Tidur di Luar
(TribunKaltim.co/Dwi Ardianto/Siti Zubaidah/Tribunnews.com)