SURYA.co.id, BLITAR - Perkebunan Kawisari di Wlingi, Blitar kembali menggelar tradisi Manten Kopi sebagai penanda dimulainya musim panen sekaligus ungkapan syukur atas hasil kebun yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Tradisi tersebut dipertahankan PT Rojobrono (Perkebunan Kawisari) dan PT Dewi Sri (Perkebunan Sengon) sebagai bagian dari warisan budaya selama puluhan tahun.
Prosesi ini tak hanya sarat makna, tapi juga menjadi momentum berkumpulnya pekerja, pengelola perkebunan, dan masyarakat sekitar menjelang masa panen.
Sebelum ditentukan hari petik, sesepuh manten mencari hari baik perkawinan kopi yang tahun ini jatuh di tanggal 30 Mei 2026 hari Sabtu pahing dengan neptu 18.
Kopi yang digunakan dalam prosesi manten dipetik dari 4 penjuru sebanyak 18 biji.
Baca juga: Panen Kopi Kelud Jadi Wisata Budaya, Tamu Diajak Rasakan Ritual Mantenan
Rangkaian acara diawali dengan penempatan sesaji dan dupa di sekitar pohon kopi tua hybrida Kawisari 9.
Setelah itu, para sesepuh memimpin doa bersama sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Pencipta sekaligus harapan agar panen tahun ini berjalan lancar.
"Setiap tahun sebelum panen kopi dimulai, kami selalu melaksanakan Manten Kopi atau petik kopi pertama. Tradisi ini menjadi bentuk rasa syukur atas berkah yang telah diberikan Yang Maha Kuasa," kata Detty Soemarto dari Kantor Direksi Perkebunan Kawisari saat ditemui SURYA.co.id, Sabtu (30/5/2026).
Setelah prosesi doa selesai, dilakukan pemetikan buah kopi pertama yang kemudian diarak bersama kembar mayang menuju gerbang perkebunan.
Kembar mayang menjadi simbol utama dalam tradisi tersebut dan selalu hadir dalam setiap pelaksanaannya.
"Di dalam tradisi ini ada penyatuan kopi lanang yang disebut Jokogondel dan kopi wadon yang disebut Srigondel. Keduanya melambangkan kebersamaan dan saling menguatkan," terangnya.
Menurutnya, filosofi penyatuan tersebut mengandung harapan agar tanaman kopi dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan panen yang melimpah.
Nilai itu juga menjadi pengingat bahwa keberhasilan panen merupakan hasil kerja bersama banyak pihak.
Prosesi berlanjut di pintu masuk perkebunan, tempat dilaksanakannya penukaran kembar mayang.
Momen tersebut menjadi bagian penting dalam ritual karena menandai perpindahan hasil petikan pertama menuju tahap pengolahan berikutnya.
"Melalui doa-doa yang dipanjatkan, kami berharap panen tahun ini berjalan lancar, hasilnya baik, dan bisa memberikan manfaat bagi pekerja maupun masyarakat sekitar," tuturnya.
Usai prosesi di kebun, kopi hasil petikan pertama bersama kembar mayang dibawa ke pabrik.
Di lokasi tersebut digelar kenduri atau selamatan yang dihadiri pekerja, manajemen perusahaan, serta sejumlah tokoh masyarakat.
"Kenduri ini merupakan wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kami juga ingin berbagi keberkahan dengan masyarakat sehingga hasil panen yang diperoleh nantinya dapat membawa manfaat bagi banyak orang," katanya.
Tradisi Manten Kopi digelar di dua kawasan perkebunan yang berbeda.
Prosesi pertama berlangsung di area PT Rojobrono (Perkebunan Kawisari) yang dikenal sebagai penghasil kopi arabika, sedangkan prosesi kedua dilaksanakan di perkebunan PT Dewi Sri (Perkebunan Sengon) yang berfokus pada produksi kopi robusta.
"Meskipun lokasinya berbeda, makna dan prosesi yang dijalankan tetap sama. Tradisi ini akan terus kami pertahankan karena menjadi bagian dari identitas perkebunan dan bentuk penghormatan terhadap warisan budaya yang sudah ada sejak lama," ujar Detty.