Badung (ANTARA) - Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menilai kondisi rupiah yang melemah terhadap dolar AS justru menjadi daya tarik wisatawan datang ke Indonesia.

“Iya kami melihat ini (pelemahan rupiah) menjadi satu peluang bagi Indonesia bahwa ini akan membuat Indonesia memiliki daya tarik yang lebih bagi wisatawan,” kata Wamenpar dalam pameran perjalanan wisata Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026.

Ia di Kabupaten Badung, Sabtu, menilai dengan kurs rupiah saat ini maka wisatawan akan memilih Indonesia untuk dikunjungi, bahkan untuk berwisata dalam waktu lebih lama.

Untuk memanfaatkan peluang ini, Kementerian Pariwisata sedang menggencarkan promosi agar semakin banyak wisatawan datang.

Mereka melakukan misi penjualan dan mengikuti berbagai pameran dengan harapan semakin meningkatkan jumlah kunjungan ke Indonesia.

“Jadi saya rasa bahwa situasi yang ada ini menjadi suatu peluang bagi Indonesia bahwa Indonesia menjadi memiliki daya tarik yang lebih untuk dikunjungi dengan lama tinggal yang bisa lebih lama begitu dari biasanya, luar biasa,” ujar Ni Luh Puspa.

Jika dilihat lebih jauh, ia mengatakan pelemahan rupiah ini berkaitan dengan dinamika geopolitik dan konflik di Timur Tengah.

Namun selama Januari hingga Maret 2026, Kementerian Pariwisata melihat situasi kepariwisataan masih terjaga dengan jumlah kunjungan yang meningkat dibanding triwulan 2025.

Harapannya, pada triwulan kedua 2026 nanti, Bank Indonesia dapat mencatatkan hasil positif pula dari sisi kunjungan dan devisa pariwisata.

Untuk menambah kunjungan wisman di tengah situasi global ini, Wamenpar mengajak pelaku usaha pariwisata mulai mengubah pasar, dari yang sebelumnya mentargetkan negara jarak jauh, kini memperkuat kunjungan dari negara-negara tetangga.

“Perkuat bagaimana agar short-haul dan medium-haul ini bisa mengalami peningkatan, tentu ini menjadi substitusi dari pasar Eropa maupun pasar Amerika dan Timur Tengah yang mengalami penurunan akibat situasi geopolitik,” ujarnya.

“Tapi kalau kami lihat dari angka triwulan pertama, memang terlihat bahwa wisatawan dari yang medium-haul dan short-haul ini mengalami peningkatan, tapi beberapa Timur Tengah ini mengalami penurunan,” sambung Ni Luh Puspa.

Untuk itu Wamenpar mengajak pelaku pariwisata tidak pesimistis melainkan terus berkolaborasi dan optimistis meraih pencapaian dari peluang-peluang di setiap situasi.