Temuan Timwas DPR, Jemaah Haji tak Makan 9 Jam di Mina hingga Lansia Dilaporkan Drop
Amalia Husnul A May 31, 2026 06:19 AM

 

TRIBUNKALTIM.CO - Dari pelaksanaan ibadah haji 2026 di Mina, Arab Saudi, ada temuan serius dari Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR.  

Timwas Haji DPR RI menemukan sejumlah jemaah haji Indonesia tidak mendapatkan makanan hingga sembilan jam saat berada di tenda Mina. 

Kondisi tersebut disebut berdampak pada kesehatan para jemaah lanjut usia (lansia) yang menjalani puncak rangkaian ibadah haji 2026.

Temuan itu diungkap Anggota Timwas Haji DPR RI, Selly Andriany Gantina, usai melakukan pemantauan langsung terhadap layanan yang diterima jemaah Indonesia selama berada di Mina.

Baca juga: Jemaah Haji Nekat Tidur di Luar Tenda, Kloter 1 Balikpapan tak Kebagian Tempat Istirahat di Mina

Sabtu (30/5/2026), Selly dalam keterangannya yang diterima menyebutkan, "Ada beberapa jemaah yang sudah sembilan jam berada di dalam tenda tidak mendapatkan fasilitas makan.

Akhirnya para lansia drop. Tentu saja ini menjadi perhatian dari DPR." 

Menurut Selly, persoalan tersebut tidak bisa dianggap sepele mengingat fase Mina merupakan salah satu tahapan paling berat dalam pelaksanaan ibadah haji. 

Ribuan jemaah harus menjalani aktivitas ibadah dalam kondisi cuaca panas dan kepadatan tinggi sehingga kebutuhan konsumsi, air, serta layanan kesehatan menjadi faktor yang sangat krusial.

Karena itu, Timwas Haji DPR menilai pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan jemaah, khususnya bagi kelompok rentan seperti lansia dan jemaah berisiko tinggi.

Ketersediaan Air Juga Disorot

Selain masalah konsumsi, Selly juga menyoroti pentingnya ketersediaan air bagi jemaah selama berada di Mina. 

Menurutnya air tidak hanya dibutuhkan untuk menjaga kondisi fisik, tetapi juga untuk menunjang pelaksanaan ibadah, termasuk keperluan berwudhu.

Temuan di lapangan tersebut, kata dia, harus menjadi bahan evaluasi serius agar persoalan serupa tidak kembali terulang pada penyelenggaraan haji tahun-tahun berikutnya.

Skema Tanazul

Sebagai solusi, Selly mendorong pemerintah mempertimbangkan penerapan skema tanazul bagi jemaah tertentu, khususnya mereka yang memiliki risiko kesehatan tinggi.

Melalui skema tersebut, jemaah tidak diwajibkan menginap di Mina dan dapat kembali ke hotel di Makkah setelah menjalankan rangkaian ibadah yang diperlukan.

Menurut Selly, kebijakan tersebut dapat mengurangi beban fisik jemaah sekaligus meminimalkan risiko gangguan kesehatan akibat keterbatasan fasilitas di Mina.

Pernyataan Selly menambah daftar evaluasi yang mencuat dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini.

DPR menegaskan pelayanan dasar seperti konsumsi, air, dan kesehatan merupakan hak jemaah yang harus dipenuhi secara optimal, terutama saat mereka menjalani fase-fase paling berat dalam rangkaian ibadah haji.

"Kalau memang sekiranya ini menjadi masalah, kenapa jemaah tidak di-tanazul-kan saja sehingga tidak menjadi beban. Jangan sampai mereka terbebani, tidak mendapatkan makanan, sakit di dalam tenda, dan tidak mendapat fasilitas kesehatan yang layak," tandasnya.

Kemenhaj Bantu Mobilitas

Terpisah, Kementerian Haji dan Umrah mengerahkan 19 unit mobil golf di kawasan Mina untuk membantu mobilitas dan evakuasi jemaah haji Indonesia selama fase puncak ibadah haji di Armuzna.

Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, Maria Assegaff, mengatakan pengerahan armada tersebut dilakukan melalui Satgas Operasional Armuzna 

"Satgas operasional Armuzna telah mengerahkan ada 19 unit mobil golf di kawasan Mina," kata Maria dalam konferensi pers virtual, Jumat (29/5/2026).

Mobil golf ini, kata Maria, dikerahkan di tengah tingginya mobilitas dan kepadatan di kawasan Jamarat.

Maria menjelaskan mobil golf tersebut bakal membantu jemaah yang kelelahan, jemaah lanjut usia, hingga jemaah yang terpisah dari rombongan atau kehilangan arah usai melaksanakan lontar jumrah.

"Mobil golf ini disiapkan untuk membantu jemaah haji Indonesia yang mengalami kelelahan, jemaah yang lanjut usia serta jemaah yang terpisah dari rombongan maupun jemaah yang kehilangan arah setelah melaksanakan lontar jumrah dan tidak memiliki kondisi fisik yang baik," ujarnya.

Armada mobil golf tersebut disiagakan secara aktif dan bergerak menyisir sejumlah titik strategis, terutama di sekitar pintu keluar Jamarat.

"Armada tersebut disiagakan secara aktif dan bergerak menyisir titik-titik strategis, khususnya berada di sekitar pintu keluar Jamarat guna memastikan setiap jemaah yang membutuhkan pertolongan dapat segera dijangkau dan mendapatkan pendampingan secara cepat," kata Maria.

Menurutnya, pengerahan mobil golf menjadi bagian dari skema layanan untuk mengantisipasi tingginya mobilitas jemaah saat lontar jumrah.

Dirinya meminta jemaah memanfaatkan layanan mobil golf pas pelaksanaan lontar jumrah. 

"Petugas di lapangan bergerak sigap membantu jemaah yang mengalami kelelahan, kemudian juga mengevakuasi jemaah di jalur-jalur padat, mendampingi jemaah pula yang terpisah dari rombongan dan memastikan para jemaah dapat kembali ke tenda masing-masing dalam kondisi selamat dan aman," pungkasnya.

Baca juga: Jemaah Haji Termuda Asal Nunukan Suci Ramdani Ungkap Momen Haru Saat Wukuf di Arafah

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.