Pesona Bukit Tunggangan Paralayang Trenggalek, Catatkan 3.000 Pengunjung per Bulan
Samsul Arifin May 31, 2026 01:14 PM

 


Laporan Wartawan TribunJatim.com, Madchan Jazuli

TRIBUNJATIM.COM, TRENGGALEK – Wisata pantai selatan masih menjadi tujuan utama wisatawan saat akhir pekan maupun libur panjang.

Ada alternatif wisata yang bisa dicoba yakni Bukit Tunggangan Paralayang. 

Objek wisata yang terletak di Desa Kendalrejo, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek ini menyajikan panorama alam yang eksotis, terutama sebagai tempat berburu keindahan matahari terbit (sunrise). 

Sesuai data pengelola, tingginya animo masyarakat membuat kawasan ini selalu dipadati oleh pengunjung setiap kali memasuki akhir pekan. Tercatat, dalam satu bulan ada lebih dari 3.000 pelancong yang memadati bukit ini.

Jadi Favorit Pemburu Sunrise dan Sunset

Salah satu Pengurus Kelompok Tani Hutan (KTH) Wono Asri selaku pengelola Bukit Tunggangan Paralayang, Muyajid, mengungkapkan destinasi digital-natural ini memiliki keunikan tersendiri yang menjadi daya tarik utama bagi para wisatawan domestik. 

"Keunikan di sini dibanding dengan tempat lainnya adalah kalau orang itu kalau pagi di hari Minggu pasti mencari matahari terbit. Kalau sore pas lagi matahari terbenam," ujar Muyajid saat ditemui di lokasi wisata, Minggu (31/5/2026). 

Tak hanya pagi dan sore hari. Pengunjung juga tidak sedikit memilih pada malam hari untuk kesini. 

Tidak lain untuk melihat gemerlap lampu-lampu dari ketinggian puncak Bukit Tunggangan Paralayang, dengan ketinggian 250 mdpl. 

"Lalu untuk malamnya orang sangat senang kalau melihat lampu-lampu dari atas ," paparnya.

Baca juga: Kabar Gembira, Pemkab Trenggalek Siapkan Nobar Gratis Piala Dunia 2026

Akses Mudah dan Tanpa Tiket Masuk

Muyajid menambahkan, aksesibilitas menuju puncak bukit tergolong sangat mudah dan akomodatif. Pengunjung dibebaskan untuk membawa sepeda motor pribadi hingga ke area atas.

Pria kelahiran 1967 ini mengaku, bagi wisatawan yang enggan berkendara sendiri, pengelola telah menyediakan layanan ojek swadaya masyarakat sekitar yang siaga sewaktu-waktu. 

"Aksesnya mudah, kalau mau ojek sewaktu-waktu bisa, bawa motor sendiri juga bisa. Tarif ojek per orang kalau turun Rp 10 ribu, sedangkan kalau naik sudah dipatok tarif Rp20 ribu," imbuhnya.

Disinggung sejarahnya, Muyajid menceritakan kawasan ini pada awalnya dibuka murni untuk kepentingan olahraga paralayang.

Kala itu, terdapat anggota Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) yang melakukan survei kelayakan medan di wilayah Kabupaten Trenggalek.

Sesuai hasil kajian teknis, kawasan Desa Kendalrejo ini dinilai sebagai titik terbaik dan paling representatif untuk aktivitas paralayang. Serta memiliki angin yang bagus yang tidak dimiliki bukit lainnya di Trenggalek.

"Jadi, ada teman anggota FASI, dia melakukan survei ke Kabupaten Trenggalek, ternyata daerah sini yang paling bagus untuk paralayang. Mulai ramai itu semenjak ada orang yang datang ke sini, semakin lama semakin ramai sampai sekarang," ungkapnya.

Kepopuleran objek wisata ini bahkan sempat membawa Bukit Tunggangan ke internasional. Pasalnya, menurut Muyajid bukit ini pernah menjadi tuan rumah bagi pergelaran ajang paralayang berskala internasional pada tahun 2021 silam. 

"Kalau pernah mengadakan event paralayang terbesar, ini mungkin terakhir tahun 2021 lalu. Itu ada event X-Tray Internasional, pesertanya ada yang datang dari Malaysia, Thailand, dan juga ada yang dari Kanada," kenangnya.

Pantauan di lapangan pada akhir pekan ini menunjukkan lonjakan kunjungan yang masif, yang terlihat dari kapasitas area parkir kendaraan yang terisi penuh.

Menurut Muyajid, dalam satu hari Minggu saja, kendaraan roda dua yang terparkir konstan berkisar antara 250 hingga 300 unit sepeda motor. 

"Hari ini kunjungan lumayan. Saya lihat seperti tempat parkir itu penuh, di antara 250 sampai 300 sepeda motor. Rata-rata kunjungan untuk per bulan bisa menyentuh 3 ribu keatas.

"Hari Minggu sepeda 300 motor, kalau boncengan itu sudah 600 orang pengunjung. Tinggal mengalikan empat minggu. Itu belum ditambah hari-hari biasa seperti Senin dan Selasa, tapi memang tidak seramai hari Minggu dan tanggal merah," paparnya. 

Kawasan yang dikelola secara swadaya oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) ini juga fleksibel.

Selain kunjungan reguler siang hari, pada malam minggu area puncak kerap dimanfaatkan oleh kalangan muda-mudi untuk mendirikan tenda dan melakukan aktivitas berkemah (camping). 

Keberadaan objek wisata ini pun membawa efek domino yang positif bagi perekonomian

sosiokultural masyarakat setempat.

Ia bersyukur sekarang banyak masyarakat di bawah, di pinggir-pinggir jalan sudah mulai membuka warung menjadi ramai.

"Insyaallah dampaknya banyak sekali dan bisa mengurangi angka pengangguran," tuturnya.

Ditanya kendala infrastruktur dasar, ia mengaku ada keluhan pemenuhan kebutuhan air bersih dan fasilitas sanitasi seperti Mandi, Cuci, Kakus (MCK). 

Pasalnya, hingga saat ini, pengelola terpaksa mendistribusikan air secara manual dari kaki bukit ke atas bukit.

Air bersih tersebut digunakan untuk kamar mandi maupun MCK yang sudah tersedia bangunan toilet di atas.

"Jadi, untuk persediaan MCK itu kita membawa menggunakan galon-galon, sekitar 10 sampai 15 galon kalau tidak musim hujan. Kalau musim hujan, kita fungsikan tandon penampung," keluhnya.

Muyajid berharap agar Pemerintah Kabupaten Trenggalek dapat memberikan perhatian lebih terhadap pembenahan infrastruktur penunjang di lokasi tersebut.

Mimpi besar KTH Wono Asri ini kelak bisa membawa nama harum Bumi Menak Sopal sebagai icon paralayang baik regional maupun internasional.

"Oh kalau itu, semoga tempat ini bisa menjadi salah satu ikonnya Trenggalek, terutama untuk olahraga paralayang hingga bisa menembus tingkat internasional kembali," harapnya. 

Untuk masuk lokasi wana wisata ini tidak ada harga tiket masuk (HTM). Hanya membayar parkir untuk sepeda motor Rp 2 ribu dan kendaraan roda 4 Rp 5 ribu.

Sementara, salah satu pengunjung Rista Vidya Titazahra (20) mengaku memilih menghabiskan waktu Minggu pagi di bukit ini demi memburu kesegaran udara dan eksotisme alam. 

"Memilih ke sini karena bisa melihat pemandangan seperti siluet-siluet dan sunrise (matahari terbit) ya. Sama di sini banyak orang-orang yang mencari udara segar," ujar Rista.

Mahasiswi UIN Sayyid Ali Rahmatullah (SATU) Tulungagung ini menambahkan kunjungan kali ini merupakan kali kedua bagi dirinya setelah sekian lama absen. 

Sebagai pengunjung, ia mengapresiasi langkah maju pengelola yang telah berhasil membenahi akses jalan utama menuju destinasi tersebut. 

"Dulu pertama kali ke sini waktu saya masih SMP dan sekarang sudah kuliah, mungkin dulu jalannya masih kurang bagus. Kalau sekarang jalannya sudah bagus banget dan sangat layak untuk dikunjungi," pungkasnya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.