Lebih Menular dari Covid-19, Dokter Sebut Flu Singapura Mudah Menyebar di Sekolah dan Daycare
Anita K Wardhani May 31, 2026 02:36 PM

Laporan Wartawan Tribunnews.com, M Alivio Mubarak Junior

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Belakangan ini para orang tua dibuat resah dengan merebaknya kasus Flu Singapura atau Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) yang menyerang anak-anak di berbagai wilayah Indonesia.

Bukan sekadar sariawan dan bintik merah biasa, ternyata Flu Singapura menyimpan bahaya fatal yang bisa menyerang saraf hingga menyebabkan lumpuh layu pada anak.

Baca juga: 18 Ribu Kasus Terdeteksi di Indonesia, Orang Tua Wajib Tahu Pencegahan Flu Singapura pada Anak

Dokter Spesialis Anak Mandaya Royal Hospital Puri, dr. Handayani, M.Ked (Ped), Sp.A, mengungkapkan tingkat penularan penyakit ini sangat tinggi, bahkan melampaui virus Covid-19.

"Kita bayangkan, dalam satu kelas atau daycare, satu anak saja terinfeksi HFMD, itu bisa menulari 12 anak di sekitarnya. Dulu saja Covid satu anak menulari 7 anak. Jadi ini harus benar-benar diwaspadai," kata dr. Handayani dalam acara kesehatan di Tangerang, Jumat (29/5/2026).

Lantas, apa saja bahaya laten virus ini dan bagaimana cara melindunginya?

Ancaman Virus EV71: Bisa Serang Saraf dan Otak

Dr. Handayani menjelaskan Flu Singapura disebabkan oleh beberapa tipe virus. Jika disebabkan oleh Coxsackievirus tipe A16, gejalanya cenderung ringan dan bisa ditoleransi.

Namun, yang paling berbahaya adalah jika anak terinfeksi Enterovirus 71 (EV71).

Baca juga: Pakai Bedak Jadi Bumerang Bagi Penderita Flu Singapura, Ini Mitos yang Tak Kalah Mengkhawatirkan

"Si EV71 ini virusnya lebih bandel dan tahan lama. Dia bisa menembus sampai ke saraf anak. Kalau sudah menyerang saraf, komplikasinya bisa ke otak, menyebabkan kejang, hingga lumpuh layu," jelasnya.

Selain itu, demam tinggi mencapai 39 derajat celcius serta sariawan hebat seringkali membuat anak malas makan dan minum, yang berujung pada risiko dehidrasi berat.

Lebih Menular dari Covid-19, Bertahan 24 Jam di Mainan

Ilustrasi permainan anak usia 1 tahun
Ilustrasi permainan anak usia 1 tahun (freepik.com/prostooleh)

Salah satu alasan mengapa Flu Singapura cepat merebak di sekolah atau tempat bermain seperti daycare adalah daya tahan virusnya. 

Berbeda dengan virus flu biasa yang memiliki kapsul (pelindung) sehingga mudah mati di permukaan benda, virus HFMD adalah tipe non-enveloped virus.

"Dia tanpa kapsul, jadi lebih kuat bertahan di permukaan meja atau mainan selama beberapa jam hingga satu hari penuh," ujarnya.

Penularan terjadi melalui fecal-oral (kotoran yang menempel di tangan), percikan air liur (droplet), hingga cairan dari luka bintik-bintik di kulit anak.

Hingga saat ini, belum ditemukan obat antivirus spesifik untuk menyembuhkan Flu Singapura. 

Pentingnya Vaksin

Harapan utama untuk melindungi anak adalah melalui penguatan imun dan vaksinasi.

Kabar baiknya, kini vaksin HFMD untuk tipe virus EV71 sudah tersedia di Indonesia.

"Puji syukur sekarang sudah ada rekomendasinya di Indonesia. Vaksin ini bisa diberikan mulai dari anak usia 6 bulan hingga 71 bulan (hampir 6 tahun)," jelas dr. Handayani.

Vaksin ini menggunakan teknologi inactivated virus (virus mati), sehingga aman karena hanya mengenalkan bagian luar virus kepada sel tentara (sel T) di dalam tubuh anak. 

Dosis dan Prosedur Vaksin:

- Diberikan 2 dosis dengan jarak minimal 1 bulan antar dosis.
- Disarankan untuk tetap melakukan booster agar perlindungan lebih maksimal.
- Sangat dianjurkan bagi anak usia di bawah 6 tahun karena pada usia tersebut imun anak sedang rentan dan risiko komplikasi paling tinggi.

Selain vaksinasi, dr. Handayani mengingatkan pentingnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). 

"Mommy dan Daddy harus rajin mencuci tangan anak sebelum makan dan setelah main, serta rutin melakukan disinfeksi pada mainan anak untuk memutus rantai penularan," pungkasnya.

Bagi orang tua yang melihat gejala bintik merah di tangan, kaki, serta sariawan pada anak disertai demam, disarankan segera berkonsultasi ke dokter spesialis anak untuk penanganan lebih lanjut agar terhindar dari dehidrasi dan komplikasi saraf.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.