Pelita Perdamaian Waisak Dinyalakan di Candi Mendut, Simbol Cahaya Kebijaksanaan dan Harapan Umat
Yoseph Hary W May 31, 2026 04:14 PM

 

‎TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Suasana khidmat menyelimuti kawasan Candi Mendut, Kabupaten Magelang, Minggu (31/5/2026) pagi, saat Pelita Perdamaian Waisak 2570 Budhis Era/2026 dinyalakan sebagai bagian dari rangkaian perayaan Tri Suci Waisak.

‎Penyalaan pelita dipimpin Ketua Umum Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI), Hartati Murdaya, bersama perwakilan bhikkhu Sangha serta sejumlah tokoh masyarakat yang hadir. Prosesi tersebut berlangsung sesaat sebelum dimulainya Kirab Waisak dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur.

Simbol penyebaran nilai kebajikan

‎Ribuan umat Buddha yang memadati area candi mengikuti jalannya ritual dengan penuh khidmat. Cahaya pelita yang menyala menjadi simbol penyebaran nilai-nilai kebajikan, kedamaian, dan kebijaksanaan dalam kehidupan.

‎Majelis Mahayana Tanah Suci Indonesia, Bhikkhu Dwiwiya Savhira, menjelaskan bahwa pelita memiliki makna mendalam bagi umat Buddha. Cahaya yang dipancarkan pelita menjadi perlambang perjalanan manusia dari ketidaktahuan menuju pemahaman yang benar tentang kehidupan.

‎"Pelita itu melambangkan dari gelap menjadi terang. Begitu juga dengan diri kita. Kita hidup seperti meraba-raba, kadang tidak tahu mana yang membuat kita bahagia dan mana yang justru membawa penderitaan. Karena itu Dharma ibarat cahaya yang menerangi batin kita, dari yang tidak tahu tentang kebaikan menjadi tahu tentang kebaikan. Inilah makna dari Api Dharma," ujar Bhikkhu Dwiwiya Savhira.

‎Menurutnya, penyalaan pelita bukan sekadar ritual seremonial, melainkan pengingat bagi umat untuk terus menumbuhkan kebijaksanaan dan kesadaran dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Gantungkan doa dan harapan

‎Selain penyalaan pelita, lanjutnya, dalam prosesi tersebut juga terdapat simbol Pohon Harapan atau Pohon Bodhi yang menjadi tempat umat menggantungkan doa dan harapan. Pohon tersebut melambangkan perjalanan spiritual menuju pencerahan.

‎"Kalau Pohon Bodhi itu adalah bentuk dari sebuah pencerahan. Lebih tinggi lagi, bagaimana kita memiliki pencerahan yang luhur. Proses belajar dalam kehidupan pada akhirnya menuju satu pencerahan. Pencerahan itulah tujuan umat Buddha, bahwa kita tidak boleh bodoh tentang hidup dan tidak boleh terus-menerus berada dalam penderitaan. Di situlah harapan-harapan itu akan terwujud," jelasnya.

‎Bhikkhu Dwiwiya menambahkan, simbol pelita dan Pohon Bodhi saling melengkapi dalam menggambarkan perjalanan spiritual umat Buddha. Pelita menjadi penerang jalan, sementara Pohon Bodhi melambangkan tujuan akhir berupa kebijaksanaan dan pencerahan batin.

‎Prosesi penyalaan Pelita Perdamaian menjadi salah satu ritual penting dalam rangkaian Waisak Nasional 2570 BE. Dari kawasan Candi Mendut, semangat perdamaian dan cinta kasih yang disimbolkan melalui nyala pelita diharapkan dapat menyebar ke seluruh penjuru negeri bahkan dunia.

‎Usai prosesi penyalaan pelita, para bhikkhu, umat Buddha, dan peserta kirab melanjutkan rangkaian acara dengan mengarak Api Dharma, Air Suci, serta berbagai persembahan menuju Candi Borobudur untuk mengikuti puncak perayaan Tri Suci Waisak.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.