Tianjin/Guangzhou (ANTARA) - Dua universitas di China pada hari Sabtu (30/5) menegaskan kembali kebijakan tanpa toleransi terhadap pelanggaran akademik setelah memberikan sanksi kepada sejumlah staf pengajar.
Dalam sebuah pemberitahuan publik, Universitas Nankai di Kota Tianjin, China, menyatakan telah memutus kontrak kerja seorang peneliti pascadoktoral setelah ditemukan ketidakwajaran dalam sebuah makalah ilmiah yang ditulis peneliti tersebut.
Salah satu penulis korespondensi dicopot dari jabatannya sebagai dekan Fakultas Ilmu Hayati, sementara penulis korespondensi lainnya dijatuhi sanksi peringatan.
Universitas Nankai menyatakan akan menjadikan kasus tersebut sebagai pelajaran untuk secara menyeluruh memperkuat pendidikan mengenai integritas penelitian, serta membangun lingkungan penelitian dan atmosfer akademik yang bersih serta berintegritas.
Sementara itu, Universitas Sun Yat-sen di Provinsi Guangdong, China, telah memberhentikan dua dosen dari jabatan mereka sebagai wakil pimpinan di institusi masing-masing setelah gambar dan data dalam karya akademik mereka ditemukan bermasalah.
Sejumlah pihak terkait lainnya juga dijatuhi sanksi mulai dari penurunan jabatan hingga teguran dan peringatan.
Universitas Sun Yat-sen berkomitmen untuk memperkuat pendidikan mengenai integritas penelitian, menyempurnakan mekanisme pengelolaan data penelitian, catatan eksperimen, penggunaan gambar, dan pengajuan naskah ilmiah, serta menyempurnakan sistem pengawasan dan verifikasi rutin.





