Jadi Komoditi Unggulan di Lumajang, Produksi Pisang Mas Kirana Capai 368 Ton Selama 2025
Luky Setiyawan May 31, 2026 08:55 PM

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, LUMAJANG - Pisang Mas Kirana merupakan komoditas lokal unggulan di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, sehingga pemerintah terus mendorong keberlanjutan produksi buah tersebut.

Bupati Lumajang Indah Amperawati mengatakan bahwa pada 2025, produksi pisang Mas Kirana mencapai 368 ton per tahun, dengan luas lahan tanam mencapai 409 hektar.

"Pisang Mas Kirana menjadi salah satu komoditas unggulan Kabupaten Lumajang dengan sentra pengembangan di Kecamatan Senduro, Pasrujambe, dan Gucialit," ujarnya, Minggu (31/5/2026).

Potensi tersebut, lanjut dia, perlu dikembangkan melalui sistem pertanian berkelanjutan berbasis teknologi, sehingga Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang juga menggandeng Food and Agriculture Organization (FAO), alias Organisasi Pangan dan Pertanian PBB.

Baca juga: Meresahkan, Sindikat Pencurian Rel Kereta Api Ditangkap di Lumajang, Besi Dijual Rp 4000 per Kg

"Pisang Mas Kirana bagi Lumajang sangat besar. Komoditas ini bukan sekadar buah, tapi sudah menjadi penggerak ekonomi, identitas daerah, dan peluang masa depan bagi masyarakat Lumajang,” kata perempuan yang akrab disapa Bunda Indah ini.

Kolaborasi bersama FAO tersebut, Indah akan menerapkan Sekolah Lapang Good Agricultural Practices (SL-GAP), sebagai langkah strategis meningkatkan kapasitas petani yang aman bercocok tanam, ramah lingkungan dan berkelanjutan.

"Penguatan kualitas budidaya dan penanganan pascapanen menjadi faktor penting agar produk lokal memiliki daya saing lebih kuat di pasar yang semakin kompetitif," bebernya.

Kerjasama Pemkab Lumajang bersama FAO tersebut, bertujuan untuk mengembangkan pisang Mas Kirana melalui teknologi Geographical Indications, Environment and Sustainability (GIES).

"Melalui teknologi ini, data lingkungan geografis asli dapat dihubungkan dengan produk, komunitas, dan konsumen menggunakan sensor internet (IoT) dan big data,” tutur Kepala Perwakilan FAO Indonesia, Rajendra Aryal.

Melalui sistem teknologi ini, Rajendra mengatakan bukan hanya membantu konsumen mengetahui asal produk, tetapi supaya mereka tidak memperoleh barang khas daerah yang palsu.

"FAO juga mendorong penerapan praktik pertanian berkelanjutan melalui pendekatan ilmiah dan partisipatif untuk menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal," bebernya.

Baca juga: Tradisi Unik Idul Adha di Lumajang, Warga Hias Kambing dan Diarak Keliling Kampung

(Imam Nawawi/TribunJatimTimur.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.