SURYA.CO.ID - Mantan Menteri Pertahanan (Menhan) Republik Indonesia periode 2014–2019, Jenderal TNI Purnawirawan Ryamizard Ryacudu, dilaporkan meninggal dunia pada Minggu (31/5/2026) siang.
Almarhum mengembuskan napas terakhirnya tepat pada pukul 14.03 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta Pusat.
Jenderal lapangan yang dikenal tegas ini wafat dalam usia 76 tahun setelah menjalani perawatan intensif karena sakit.
Berdasarkan informasi dari pihak keluarga, jenazah almarhum akan disemayamkan di rumah duka yang beralamat di Perumahan Puri Wira Bhakti 1/1B Cikeas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Baca juga: Sosok Ryamizard Ryacudu, Jenderal TNI yang Meninggal Hari Ini: Mantan Menteri Pertahanan RI
Wafatnya Ryamizard Ryacudu tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan institusi TNI, tetapi juga bagi Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Kedua tokoh militer ini memiliki ikatan emosional dan sejarah panjang yang sangat erat, jauh sebelum mereka menduduki jabatan politis di pemerintahan.
Hubungan karib ini sempat diceritakan langsung oleh Ryamizard saat momen upacara serah terima jabatan (sertijab) Menteri Pertahanan kepada Prabowo Subianto pada Oktober 2019 silam.
Ryamizard menyebut bahwa ia dan Prabowo sudah saling mengenal sejak awal menapaki karier militer di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri).
"Dari awal masuk (Akabri), diplonco sampai jungkir balik, saya dan Prabowo bersama-sama. Di Kemenhan juga bersama-sama," ucap Ryamizard di Kantor Kemenhan pada Kamis (24/10/2019).
Persahabatan yang ditempa di medan latihan militer tersebut terus bertahan hingga masa tua.
Ketika Ryamizard menyelesaikan tugasnya sebagai Menhan di Kabinet Kerja jilid pertama Presiden Joko Widodo, ia dengan bangga menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan Kementerian Pertahanan kepada sahabat karibnya itu.
Pada momen sertijab yang emosional tersebut, Ryamizard juga menegaskan komitmennya untuk tidak pernah berhenti mengabdi kepada Ibu Pertiwi.
Dia menegaskan kecintaannya pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Saya juga setelah ini tidak diam-diam saja, tetap mengabdi pada bangsa dan negara," kata Ryamizard saat itu.
"Kalau orang (lain) banyak yang mewakaf tanah, wakaf masjid, tapi saya wakafkan nyawa saya untuk negara ini," tegasnya kembali.
Ryamizard Ryacudu lahir di Palembang, Sumatera Selatan, pada 12 April 1950.
Perwira purnawirawan bintang empat ini dikenal luas sebagai sosok jenderal lapangan yang berkarakter tegas, memegang teguh prinsip nasionalisme, serta memiliki dedikasi luar biasa.
Ia merupakan lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 1974 dari kecabangan Infanteri.
Sepanjang masa dinas aktifnya di TNI, Ryamizard menghabiskan banyak waktu di medan pertempuran dan memimpin berbagai operasi gabungan penting.
Salah satu prestasi militernya yang tercatat dalam sejarah adalah keberhasilannya menumpas sisa-sisa gerakan komunis Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku/PGRS) pada akhir era 1970-an.
Sebelum dipercaya menjadi Menteri Pertahanan pada tahun 2014, Ryamizard telah menduduki sejumlah posisi paling strategis di tubuh TNI Angkatan Darat, antara lain:
Pangdam V/Brawijaya (1999)
Pangdam Jaya/Jayakarta (1999–2000)
Pangkostrad (2000–2002)
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) (2002–2005)
Pada masanya, Ryamizard diakui sebagai salah satu jenderal yang memiliki pengaruh paling besar dalam dinamika militer nasional.
Setelah memasuki masa purnatugas dari dinas kemiliteran, ia tidak lantas berdiam diri dan tetap aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Hingga pada tahun 2014, Presiden Joko Widodo menunjuknya sebagai Menteri Pertahanan dalam Kabinet Kerja.
Jabatan tersebut diembannya dengan penuh amanah selama lima tahun penuh hingga 2019.
Selama menjabat sebagai Menhan, salah satu warisan program terbesar Ryamizard yang sukses digelorakan secara masif ke seluruh penjuru negeri adalah program Bela Negara.
Kiprah Ryamizard Ryacudu tidak hanya diakui di dalam negeri, tetapi juga di kancah internasional.
Saat masih menjabat sebagai Menhan, ia pernah melakukan kunjungan kerja resmi ke markas besar Departemen Pertahanan Amerika Serikat di Pentagon, Washington DC, pada Rabu (29/8/2018).
Kedatangan Ryamizard disambut dengan upacara militer yang luar biasa istimewa oleh pihak Amerika Serikat, di mana ia disambut dengan 21 dentuman meriam.
Dalam tradisi militer internasional, penghormatan dengan 21 dentuman meriam sebenarnya merupakan penghormatan tertinggi yang biasanya hanya diberikan kepada kepala negara.
Upacara penyambutan tersebut menjadi bentuk penghormatan yang sangat tinggi dari pemerintah Amerika Serikat kepada negara dan bangsa Indonesia.
Sebagai informasi sejarah, tradisi dentuman meriam ini bermula pada abad ke-14 sebagai tanda penghormatan militer ketika kapal perang saling berpapasan di laut.
Pada masa itu, kapal perang hanya memiliki maksimal 21 peluru meriam, sehingga jumlah tersebut dipertahankan menjadi tradisi resmi hingga saat ini.
Kunjungan bilateral tersebut dilakukan untuk melangsungkan pertemuan penting dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat kala itu, James Mattis.
Dalam kunjungan tersebut, Menhan Ryamizard turut didampingi oleh jajaran pejabat tinggi Indonesia, yakni:
Seusai upacara penyambutan yang megah tersebut, Menhan Ryamizard menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang mendalam kepada James Mattis atas keramahtamahan serta kesediaannya menerima delegasi dari Kementerian Pertahanan RI.
Ryamizard bahkan menyebut James Mattis bukan sekadar rekan sejawat, melainkan sahabat dekat dan saudara karena kesamaan latar belakang mereka.
“Suatu kebahagiaan bagi kami dapat diterima secara pribadi oleh rekan saya Menhan AS Jenderal James Mattis, dimana saya memandang Jenderal Mattis adalah sahabat terdekat saya yang sangat istimewa untuk saya disandingkan rekan menhan-menhan lainnya di dunia,” ujar Ryamizard di Pentagon, Washington DC.
“Jenderal Mattis dan saya selain mempunyai latar belakang pengalaman tempur militer di lapangan. Kami juga selalu berkomunikasi dengan cara surat-menyurat secara rutin,” pungkas Ryamizard.
Kini, sang jenderal lapangan yang legendaris, sahabat sejati Presiden Prabowo Subianto, dan patriot yang telah mewakafkan seluruh hidupnya untuk NKRI itu telah berpulang.
Selamat jalan, Jenderal Ryamizard Ryacudu. Pengabdianmu akan selalu dikenang oleh bangsa Indonesia.