Saat Diego Forlan menandatangani kontrak dengan Manchester United pada Januari 2002, ia bergabung dengan salah satu ruang ganti paling menuntut dalam dunia sepak bola.
Skuad Setan Merah saat itu dipenuhi para pemain berpengalaman, para pemenang sejati, dan yang terpenting, seorang manajer yang tak seorang pun di dunia sepak bola berani menentang.
Reputasi Sir Alex Ferguson sudah mendahuluinya pada awal tahun 2000-an, namun bagi Forlan, pertemuan pertamanya dengan pelatih asal Skotlandia itu justru memperlihatkan sisi lain dari sosok legendaris Manchester United tersebut.
“Pertama kali kami berbicara adalah melalui telepon,” ujar Forlan kepada majalah FourFourTwo saat mengenang perkenalannya dengan Ferguson sebelum pindah ke Inggris.
“Saya belajar di sekolah dwibahasa, jadi meskipun aksen Sir Alex sangat kental dan saya cukup gugup, kami tetap bisa saling memahami,” tambahnya, menggambarkan percakapan awal yang cukup unik tersebut.
Forlan awalnya tampak akan bergabung dengan Middlesbrough ketika ia terbang ke Inggris untuk mencari peluang keluar dari klub Independiente, namun Manchester United berhasil menyalip kesepakatan tersebut dan langsung menjemputnya begitu ia mendarat.
“Ketika saya tiba di Inggris, dia sudah menunggu saya di Old Trafford dan menunjukkan setiap sudut stadion,” lanjut Forlan.
Ferguson segera memberikan kesan mendalam bagi pemain asal Uruguay itu, yang jelas terkesan dengan kemampuan manajemen manusia sang pelatih.
“Sejak pertemuan pertama, saya melihat betapa mudahnya dia didekati,” katanya, sebelum menceritakan kisah lain yang menunjukkan betapa telitinya Ferguson mempelajari pemain barunya tersebut.
“Saya masih ingat selama pramusim di Amerika Serikat, saya bermain tie-break tenis melawan Ruud van Nistelrooy di hotel.
“Sir Alex tahu bahwa saya sudah bermain tenis sejak kecil, jadi dia mendukung saya dan mulai bercanda untuk mengganggu Ruud.
“Akhirnya saya menang.”