TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kahudi Wahyu Widodo buka-bukaan jika PSIS Semarang melalui PT Mahesa Jenar Semarang (MJS) hingga saat ini masih memiliki utang kepada dirinya.
Utang yang dimaksud itu adalah tunggakan gaji dan kompensasi atas pemutusan kontrak kerja saat dirinya menjadi pelatih PSIS Semarang.
Bahkan tak hanya Kahudi, nasib serupa juga dialami Bowo Widyo Laksono yang saat itu menjabat sebagai Analyst Coach PSIS Semarang.
Baca juga: Striker PSIS Semarang Beto Goncalves: Neymar Diyakini Bakal Gendong Brasil di Piala Dunia 2026
• Tanda-tanda Janggal Kematian Wanita Lansia Boyolali, Keluarga Menduga Keracunan Sate
Berbagai upaya telah dilakukan, namun hingga kini seakan pihak PSIS Semarang hanya memberikan janji tanpa ada realisasi.
Atas ketidakjelasan ini, Kahudi pun berencana akan menempuh jalur hukum.
Kahudi Wahyu Widodo mengungkapkan bahwa haknya berupa gaji dan kompensasi pemutusan kontrak belum dibayarkan oleh PT Mahesa Jenar Semarang (MJS).
Kahudi menyebut, dirinya dikontrak selama 10 bulan sebagai pelatih PSIS Semarang untuk mengarungi kompetisi Pegadaian Championship atau Liga 2 musim 2025/2026, terhitung pada Juni 2025.
Namun sebelum masa kontrak habis, PSIS melakukan pengakhiran kontrak pada 28 September 2025.
"Saya sebetulnya masa kontraknya 10 bulan, tapi ada pemutusan kontrak di 28 September 2025, baru tiga bulan atau memasuki bulan keempat sudah diputus kontrak," ujar Kahudi Wahyu seperti dilansir dari Kompas.com, Minggu (31/5/2026).
Dia mengatakan, dirinya baru menerima gaji selama dua bulan yakni pada Juli dan Agustus 2025.
Hingga saat ini, tunggakan gaji September beserta kompensasi pemutusan kontrak pada Oktober 2025 belum diterimanya.
"Tunggakan satu bulan gaji September plus satu kompensasi Oktober, jadi dua bulan (yang belum dibayar)," ungkapnya.
Kahudi Wahyu mengatakan, saat pemutusan kontrak, dirinya diminta membawa mobil operasional milik klub yang disebutnya akan diambil pihak manajemen saat waktu penggajian tiba.
Namun hingga kini, tunggakan gaji beserta kompensasi belum dirinya terima juga.
"Pada 28 itu saya disuruh bawa kendaraan, mobil operasional yang saya pakai waktu saya melatih di sana."
"Kami gajian setiap tanggal 5, tapi sampai sekarang belum dibayarkan dan kendaraan masih sama saya," terangnya.
Pada Februari 2026, pihaknya lalu melapor ke Asosiasi Pelatih Sepakbola Seluruh Indonesia (APSSI) terkait tunggakan tersebut dengan melampirkan kontrak kerja, bukti chat dengan manajemen, hingga bukti kendaraan operasional yang dia bawa.
"Saya baru ke APSSI, sudah ada jawaban dari PSIS Semarang waktu itu ke Plt APSSI menyampaikan bahwa menunggu pencairan dana dari PT Liga."
"Terus dijawab lagi menunggu dari PSSI, nah ini yang benar yang mana?" keluhnya.
Hingga saat ini belum ada titik terang maupun komunikasi lanjutan secara langsung dari manajemen PSIS Semarang kepada dirinya.
Dia menilai, alasan yang diberikan selalu berubah-ubah.
"Saya merasa ini tidak ada titik temu, selalu berubah-ubah. Terakhir dijanjikan akhir bulan ini, tapi sampai sekarang tidak ada," kata Kahudi.
Dirinya pun menyayangkan sikap manajemen yang dinilainya tidak segera menyelesaikan kewajiban berskala kecil. Padahal di sisi lain, klub masih aktif di bursa transfer.
"Mereka bisa beli pemain segala macam, masa uang segitu saja tidak diselesaikan."
"Yang terakhir disampaikan mau dibayarkan setelah ada sponsor masuk. Akhir bulan ini rencananya masuk, ternyata belum masuk juga," ujar Kahudi.
Menanggapi situasi ini, dia berharap agar hal-hal yang bersifat krusial segera diselesaikan.
Dia menekankan bahwa kontraknya terjalin resmi dengan PT MJS.
"Saya tidak mau bilang ini dengan manajemen lama, manajemen baru, kontrak saya dengan PT Mahesa Jenar."
"Saya segera mau diselesaikan, itulah yang dinamakan profesionalisme."
"Karena selama ini kami bekerja juga profesional dan ini di lingkungan sepak bola profesional," pungkasnya.
Sementara itu, Media Officer PSIS Semarang, Raka Arya enggan berkomentar terkait hal tersebut.
Raka sempat memberikan pernyataan, akan tetapi tidak menghendaki apabila dikutip.
Baca juga: Rumor Andik Vermansyah Bakal Gabung PSIS Semarang, WCP: Masih di Garudayaksa
• Kronologi Petugas Dishub Kecelakaan di Simongan Semarang, Motor Ringsek Masuk Kolong Pikap
Di sisi lain, Kahudi Wahyu Widodo menyebut jika tunggakan gaji dan kompensasi juga dialami Bowo Widyo Laksono yang pernah menjabat sebagai Analyst Coach tim Laskar Mahesa Jenar.
Berdasarkan laporan resmi yang dilayangkan ke APSSI, Coach Bowo belum menerima gaji pada September 2025 dan kompensasi gaji Oktober 2025.
"Coach Bowo itu analis kami waktu di PSIS Semarang dan sekarang ada di Timnas Putri."
"Jadi kebetulan kami mengalami hal yang serupa. Harusnya kami mendapatkan hak yang sama," ujarnya, Minggu (31/5/2026).
Kahudi menyebutkan bahwa Coach Bowo belum menerima hak selama dua bulan pasca pemutusan kontrak dengan nominal Rp7 juta per bulan.
"Coach Bowo gajinya Rp7 juta. Rp7 juta kali dua bulan," kata dia.
Dia mengatakan bahwa Coach Bowo telah berupaya untuk menghubungi manajamen PSIS namun tidak mendapat respons.
"Coach Bowo sering menanyakan ke saya, bahkan nge-chat ke manajemen tidak dibalas sama sekali kalau Coach Bowo," ungkap dia.
Kahudi mengatakan, pihaknya akan menempuh jalur hukum apabila masalah ini tidak segera diselesaikan.
"Saya minta segera diselesaikan. Saya akan mencoba menempuh jalur hukum."
"Kami punya lawyer, nanti mereka yang akan memberikan somasi atau apa ke manajemen," terangnya.
"Saya pikir sebenarnya ingin diselesaikan secara kekeluargaan, tapi sampai sekarang tidak ada titik temu dan menurut saya tidak realistis," imbuhnya.
Dia ingin menunggu konfirmasi secepatnya sebelum dirinya mengirim berkas perkara ke tim pengacara.
"Tinggal bagaimana mereka berkomunikasi dengan klub saja. Tinggal nunggu ini dari saya saja," terangnya. (*)
Sumber Kompas.com