TRIBUNJATIMTIMUR.COM, BONDOWOSO - Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Bondowoso bergerak cepat mengatasi kondisi sejumlah pengusaha tape kecil dan menengah yang dikabarkan mengurangi produksi hingga terancam gulung tikar.
Pihak dinas turun langsung menemui para pengusaha tape di Kecamatan Binakal guna menghimpun berbagai keluhan yang terjadi di lapangan pada Minggu (31/5/2026).
Kepala Diskoperindag Bondowoso, Hergiar Yuli Pramanto, menjelaskan bahwa saat ini ketersediaan bahan baku singkong memang sedang sulit sehingga memicu lonjakan harga.
Kondisi ini membuat biaya operasional membengkak dan tidak sebanding dengan harga jual tape di pasaran.
Baca juga: Harga Singkong Meroket, Sejumlah Industri Tape di Bondowoso Kurangi Produksi
Namun, dia menegaskan tak semua penjual tape mengurangi produksi. Khususnya, mereka yang masih mampu secara modal.
Berdasarkan hasil peninjauan tersebut, mayoritas pelaku usaha mengeluhkan permasalahan yang sama, yakni terkait modal kerja.
"Ternyata permasalahan utamanya adalah permodalan," jelas Hergiar saat dikonfirmasi, Minggu (31/5/2026).
Untuk menindaklanjuti temuan ini, Diskoperindag berkomitmen untuk menjembatani para pengusaha tape dengan pihak perbankan guna mendapatkan akses pembiayaan.
Selain solusi permodalan, pemerintah daerah juga akan memberikan pendampingan intensif mulai dari proses produksi, peningkatan mutu kemasan, hingga strategi pemasaran.
Langkah ini diambil karena kemasan produk tape yang digunakan saat ini dinilai masih sangat tradisional.
"Kami akan mendampingi sampai permasalahan ini benar-benar bisa diatasi. Walaupun dalam prosesnya, kita harus memberikan pendampingan total dari hulu hingga ke hilir," imbuhnya.
Hergiar menambahkan, Bondowoso sebenarnya memiliki dua sentra produksi tape utama, yakni di Kecamatan Binakal dan Kecamatan Wringin.
Namun, sejauh ini pasokan bahan baku singkong di Kecamatan Wringin dilaporkan masih relatif aman.
Sebagai informasi, dalam sebulan terakhir harga singkong lokal di Bondowoso melonjak tajam dari Rp2.000 menjadi Rp4.500 per kilogram.
Kelangkaan ini dipicu menyusutnya lahan singkong lantaran para petani lokal mulai beralih menanam komoditas lain seperti tebu, jagung, sengon, dan kedelai.
Imbasnya, kenaikan harga dan sulitnya mencari bahan baku singkong ini berdampak langsung terhadap produksi tape di Bondowoso.
Khususnya, bagi para pengusaha yang berada di Sentra Industri Tape di Desa Sumbertengah, Kecamatan Binakal.
Baca juga: Dituding Halalkan Korupsi, Ketua DPRD Bondowoso Laporkan Dua Akun TikTok
(Sinca Ari Pangistu/TribunJatimTimur.com)