TRIBUN-MEDAN.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa kembali menyampaikan kondisi ekonomi masih kuat meski nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencatat rekor terlemah sepanjang sejarah.
Purbaya bilang, pemerintah masih memiliki anggaran cukup untuk menjalankan roda pemerintahan.
Hal itu disampaikan Purbaya saat menjawab pertanyaan wartawan Al-Jazeera English di acara jumpa pers di Jakarta, Minggu (31/5/2026).
"Dari sisi anggaran, kami sudah menghitung depresiasi rupiah pada level yang mendekati posisi saat ini. Jadi anggaran kami masih aman meskipun rupiah melemah ke level sekarang," kata Purbaya.
Hari ini, Minggu (31/5/2026), dolar AS di perdagangan di level Rp17.823,65 per dolar. Sabtu (30/5/2026) kemarin, kurs transaksi Bank Indonesia menetapkan dolar di posisi Rp17.877,94.
Sementara di Pasar Spot, kurs rupiah terhadap dolar AS bergerak di rentang Rp17.823,65 hingga Rp17.900 per dolar.
Purbaya bilang saat ini kementerian yang dia pimpin fokus pada proses penguatan ekonomi domestik yang diyakini akan segera membaik.
Sebab, secara teori apabila kondisi ekonomi di dalam suatu negara kuat, maka nilai mata uang negara tersebut juga akan menguat.
"Secara teori, ketika Anda memiliki ekonomi yang kuat, mata uang Anda pada akhirnya juga akan menguat, bukan? Saat ini saya fokus memastikan bahwa ekonomi domestik akan terus tumbuh kuat dalam jangka menengah, jangka pendek, maupun jangka panjang," kata Purbaya.
Purbaya bilang, pertumbuhan ekonomi Indonesia disebut lebih tinggi bahkan dibandingkan negara anggota G-20.
Itu sebabnya, prospek perekonomian RI masih aman, bahkan Purbaya mengklaim, pelemahan rupiah yang terjadi saat ini belum berdampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Baca juga: Gelombang PHK Terjadi Lagi, Pabrik Elektronik di Depok Tutup, 350 Karyawan Kehilangan Pekerjaan
"Pertumbuhan ekonomi kita jauh lebih cepat dibandingkan banyak negara lain. Bahkan di kelompok G-20, kita berada di posisi kedua setelah India. Jadi prospek ekonomi kita kuat, dan pelemahan rupiah belum menimbulkan dampak yang menghambat aktivitas ekonomi kita," kata dia.
Purbaya juga meyakini dalam waktu dekat akan banyak investor asing yang berinvestasi ke Indonesia dan rupiah akan rebound dalam waktu dekat ini.
"Pada akhirnya hal itu akan memperkuat mata uang secara hampir otomatis, karena saya percaya para investor, terutama investor FDI (Foreign Direct Investment atau investasi langsung dari asing) dan investor asing lainnya, akan tertarik berinvestasi di negara yang menawarkan prospek pertumbuhan paling menjanjikan di kawasan," ucap Purbaya.
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan ekonomi saat ini mulai terlihat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Kelas menengah menjadi salah satu kelompok paling rentan karena harus menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok saat pendapatan relatif stagnan.
Fenomena tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba. Pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir telah meningkatkan biaya berbagai barang dan jasa.
Sementara itu, kemampuan masyarakat untuk menaikkan pendapatan tidak bergerak secepat kenaikan pengeluaran.
Salah satu indikator yang menunjukkan memburuknya kondisi ekonomi masyarakat adalah meningkatnya jumlah pengangguran dan pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor.
Ibrahim mengatakan jumlah PHK sepanjang Januari sampai Maret 2026 sudah menembus lebih dari 14.000 orang.
Gelombang PHK baru juga masih berisiko terjadi dalam beberapa bulan mendatang dan dapat memperburuk kondisi pasar tenaga kerja.
“Banyak masyarakat kelas menengah ini turun, kasta, jadi kelas bawah. Buktinya apa? Pengangguran dari bulan Januari sampai Maret pun juga sudah cukup banyak di atas 14.000-an,” ujar Ibrahim, Jumat.
Bertambahnya jumlah pengangguran diperkirakan berdampak langsung terhadap konsumsi rumah tangga. Selama ini, konsumsi rumah tangga menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Kemudian ini pun juga sudah kelihatan lagi ada kemungkinan besar dua bulan ke depan itu ada 9.000 yang akan kena PHK itu baru yang ketahuan. Belum yang tidak ketahuan. Nah ini yang kemungkinan besar akan berpengaruh terhadap daya beli masyarakat, pasti akan turun,” tukas dia.
Penurunan daya beli mulai terlihat di berbagai pusat perdagangan. Aktivitas ekonomi masih berjalan, tetapi jumlah pembeli dinilai jauh lebih sedikit dibanding sebelumnya.
“Sekarang kita lihat bahwa masyarakat banyak yang berjualan tapi pembelinya sedikit. Sehingga apa? Sehingga disinilah kita melihat bahwa akibat dari pelemahan mata uang rupiah ini berdampak terhadap daya beli masyarakat,” lanjut Ibrahim.
Kondisi tersebut menunjukkan masyarakat semakin berhati-hati membelanjakan uang. Banyak rumah tangga mulai mengurangi konsumsi nonprioritas dan fokus pada kebutuhan pokok untuk menjaga kondisi keuangan keluarga.
Ibrahim mengaku telah melakukan pemantauan langsung di sejumlah pasar tradisional. Kenaikan harga tidak semata-mata terjadi karena pasokan barang berkurang.
Pada banyak kasus, faktor utama yang mendorong harga naik adalah meningkatnya biaya distribusi dari daerah produksi menuju pusat konsumsi.
Saat daya beli terus menurun dan kesempatan kerja semakin terbatas, tekanan ekonomi akan semakin dirasakan kelompok masyarakat rentan. (*/tribunmedan.com)