UEA Diduga Lancarkan Operasi Militer Dibantu Israel: Puluhan Serangan ke Fasilitas Energi Iran
Hasiolan Eko P Gultom June 01, 2026 12:38 AM

UEA Diduga Lancarkan Operasi Militer Rahasia: Puluhan Serangan ke Fasilitas Energi Iran

TRIBUNNEWS.COM - Uni Emirat Arab (UEA) diduga menjalankan puluhan serangan militer rahasia terhadap Iran selama fase awal perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Teheran.

Informasi tersebut diungkap dalam laporan eksklusif The Wall Street Journal (WSJ) yang mengutip sejumlah sumber yang mengetahui operasi tersebut.

Menurut laporan itu, operasi rahasia dimulai pada awal pelaksanaan operasi militer yang dikenal sebagai Operation Epic Fury dan berlanjut hingga tercapainya gencatan senjata yang dimediasi oleh AS.

Baca juga: Media Israel: Mesir Perkuat Perisai Udara Arab Saudi, UEA, dan Kuwait di Tengah Ancaman Iran

WSJ menyebut serangan-serangan tersebut mengandalkan dukungan intelijen dari Amerika Serikat dan Israel.

Beberapa target yang dilaporkan diserang mencakup Pulau Qeshm dan Abu Musa di Selat Hormuz, Kota Pelabuhan Bandar Abbas, kilang minyak di Pulau Lavan, serta kompleks petrokimia Asaluyeh yang merupakan salah satu fasilitas energi strategis Iran.

Laporan tersebut juga menyebut Iran telah meluncurkan sekitar 2.800 rudal ke arah UEA selama konflik berlangsung, meski angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Salah satu insiden yang menjadi sorotan adalah serangan terhadap kilang minyak di Pulau Lavan pada 8 April 2026.

Baca juga: UEA Habis Kesabaran, Serang Balik Iran: Bom Kilang Minyak Teheran di Pulau Lavan

Perusahaan Penyulingan dan Distribusi Minyak Nasional Iran saat itu memang mengonfirmasi adanya serangan musuh terhadap fasilitas tersebut, tetapi tidak melaporkan korban jiwa.

Ketika serangan terjadi, juru bicara militer Israel Letnan Kolonel Nadav Shoshani membantah keterlibatan Israel.

Namun, menurut WSJ, operasi tersebut sebenarnya dilakukan oleh UEA dengan dukungan Israel.

Laporan itu juga mengaitkan UEA dengan serangan terhadap kompleks petrokimia Asaluyeh yang sempat memicu kekhawatiran internasional karena berpotensi mengganggu pasokan energi regional.

Saat itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa Israel bertindak sendiri dalam operasi tersebut.

Selain dugaan kerja sama militer, WSJ melaporkan hubungan keamanan antara UEA dan Israel semakin erat selama konflik.

Israel disebut mengirimkan sistem pertahanan udara Iron Dome beserta operatornya untuk membantu memperkuat pertahanan Emirat.

Laporan tersebut juga menyebut Presiden UEA Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan dikabarkan merasa kecewa terhadap Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman yang menolak bergabung dalam operasi militer terhadap Iran.

Di sisi lain, Arab Saudi dilaporkan justru mendesak AS untuk menghentikan operasi militer terkoordinasi tersebut karena dikhawatirkan meningkatkan risiko serangan balasan terhadap infrastruktur energi negara-negara Teluk.

WSJ menilai dinamika tersebut turut menjelaskan sejumlah langkah strategis yang kemudian diambil UEA, termasuk upaya mempererat kerja sama keuangan dengan AS serta keputusan keluar dari kelompok produsen minyak OPEC dan OPEC+.

Hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah UEA maupun Iran terkait rincian tuduhan dalam laporan tersebut.

 

(oln/wsj/wn/*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.